Tata Kehidupan Baru

Tata Kehidupan Baru Walikota padang Mahyeldi Ansharullah)

Covesia.com - Saat pemerintah pusat membuka kesempatan kepada daerah-daerah untuk melakukan relaksasi terhadap pembatasan dalam PSBB, banyak daerah yang kemudian memilih penerapan new normal  seraya menyatakan daerahnya sudah menunjukkan kelandaian kurva Covid-19. 

Alasan utama yang dikedepankan adalah adanya kekhawatiran dampak ekonomi yang lebih luas jika pengetatan atau pembatasan pergerakan masyarakat terlalu panjang masanya. Maka muncullah istilah-istilah atau celetukan nakal di tengah masyarakat: "pado mati kelaparan, bialah mati dek korona". 

Dari sepintas-kilas dilihat, ungkapan di atas bukanlah sebuah ungkapan yang lahir dari pemikiran yang dihitung secara masak. Lebih banyak hanya dipengaruhi rasa putus asa akibat ketidaksabaran. Tidak sabar menahan diri selama 14 hari saja sampai masa inkubasi virus itu berakhir. 

Maka ketika ada yang mengajukan pertanyaan: apakah mau sehat tanpa diserang virus tapi mati kelaparan atau tidak lapar tapi mati karena serangan virus,  jawabnya adalah ‘jangan pilih keduanya’. Itu hanya pertanyaan putus asa. 

Sehat tanpa diserang virus, belum ada bukti bahwa kemudian orang meninggal karena kelaparan lantaran mematuhi protokol Covid-19 dengan cara berdiam di rumah. Tetapi nekat keluar dari protokol Covid-19 dan bertebaran kemana suka, telah memperlihatkan fakta-fakta kepada kita betapa tak kunjung landainya angka-angka Covid-19.

Di Padang, Pasar Raya menjadi sebuah kluster terbesar Covid-19. Ia menjadi episentrum penyebaran kemana-mana. Saya berkali-kali mengimbau warga baik yang berkunjung ke Pasar Raya maupun yang berdagang di Pasar Raya untuk ekstra hati-hati. Sebagai sebuah episentrum Covid-19, kawasan ini mesti diperlakukan dengan standar ketat protokol Covid-19. Cuci tangan, bermasker dan menjaga jarak.

Pemerintah Kota dibantu juga oleh sejumlah lembaga seperti PMI, Bank Nagari, PT Kunango Jantan, PT Semen Padang dan sebagainya telah menyediakan tempat cuci tangan di banyak tempat di areal Pasar Raya. Sayangnya, tidak banyak yang ‘singgah’ ke wastafel yang sudah dilengkapi dengan sabun dan disinfektan itu.

Pembatasan orang keluar masuk Padang memang dilakukan, tetapi jika di dalam kota tidak disiplin terutama di pasar, maka jadilah Pasar Raya sebagai areal berlangsungnya transmisi lokal virus Corona ini.

Seperti pernah dikemukakan Kepala Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Unand, Dr. Andani Eka Putra, untuk klaster Pasar Raya, fase infeksi covid-19 sangat panjang.

Pemeriksaan tes swab secara massal yang kita lakukan tentu belum bisa menjamin Pasar Raya dinyatakan sudah aman. Ini lantaran ada sekitar 2.000an unit toko dengan empat karyawan, lalu ada pedagang yang di lapak-lapak di tambah anggota keluarga para pedagang maka jumlahnya jadi puluhan ribu. Tentu test swab menyeluruh harus dilakukan berikut tracking kepada semua yang berhubungan dengan nmasing-masing pedagang sepetti para pengunjung.

Jadi itulah argumentasinya kenapa Dr. Andani menyatakan masa infeksi di kluster Pasar Raya akan panjang. Bisa saja jadi singkat kalau semua pedagang dan warga yang pernah ke Pasar Raya untuk sukarela melakukan test swab atau paling tidak melaporkan diri kepada Satgas Covid-19.

Kembali kepada kesempatan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada daerah-daerah termasuk Kota Padang untuk mulai memasuki era new normal tadi. Ada daerah yang serta merta menerima ada yang bertahan dengan PSBB. Tentu saja tiap daerah sudah menghitung sendiri segala resiko merelaksasi PSBB menjadi new normal.

Padang tidak mau "ondong aia ondong dadak". Bukan berarti saya tidak ingin kota ini jadi fresh kembali dari stress akibat PSBB. Semua Walikota pastilah menginginkan kotanya menjadi sebuah kota yang nyaman bagi warganya. Tetapi sekali lagi, kondisi di Padang terutama adanya kluster Pasar Raya yang besar itu membuat kita harus berhitung berkali-kali.

Jika kita merujuk pada pertanyaan nakal yang saya kutip di atas tadi apakah mau sehat tanpa diserang virus tapi mati kelaparan atau tidak lapar tapi mati karena serangan virus,  maka yang kita perlukan adalah memilih jalan tengah. Artinya kita perlu sehat tanpa diserang virus tetapi kita juga perlu makan agar tidak kelaparan. Soal upaya sehat tanpa virus sudah jelas jalannya (di rumah saja, hindari kerumunan dan cuci tangan) soal menghindari kelaparan tentu kita bekerja dan berusaha. 

“Bagaimana kami berusaha kalau dibatasi Pak Wali?”

Karena itulah WHO membuat protokol penanganan Covid-19 ini yang diberlakukan untuk seluruh dunia. Silahkan bekerja, tetapi tetap dengan protokol Covid-19. Pakai masker, mencuci tangan, menghindari perentuhan dengan orang lain, sepulang bekerja langsung cuci pakaian dan mandi, jaga kesehatan. 

Itu artinya, warga kota mulai mendisiplinkan diri. Saya kira ini cara Allah Swt memberi kita petunjuk bagaimana memulai hidup baru yang berdisiplin. Disiplin, dari rumah ke pasar atau ke tempat kerja setelah membersihkan tubuh dan pakaian, tidak lupa menggunakan masker. Disiplin di perjalanan tanpa bersentuhan dengan orang di angkutan umum. Disiplin di tempat kerja dengan tetap menggunakan masker dan terlebih dulu mencuci tangan dan sesudahnya juga mencuci tangan kembali.

Disiplin menyemprotkan disinfektan ke kunci pintu, pegangan pintu (rumah, kantor dan toilet). Disiplin apabila harus sarapan dan makan di café dengan duruk berjauhan. Disiplin menghindari rapat-rapat yang berkerumun dan mengubahnya menjadi rapat online menggunakan berbagai aplikasi virtual meeting. Disiplin menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga teratur menjaga pola makan dan memilih asupan nutrisi sehat agar antibody tetap terjaga.

Jika belanja dimungkinkan dengan belanja online, maka pilihlah belanja online itu, sesungguhnya itu adalah cara yang efektif dan efisien. Sebaliknya jika bisa menjual online, pilihlah cara berdagang online karena itu juga lebih baik bagi penjual.

Jika semua itu kita lakukan dengan ikhlas selama masa PSBB ini, maka sesungguhnya tanpa kita sadari, sebenarnya kita sudah mulai menerapkan apa yang disebut new normal itu. Jadi tanpa memproklamasikan kota ini sebagai kota yang memasuki new normal, secara alami semua warga sudah menjalankan kehidupan new normal  itu.

New normal pada mulanya dicetuskan oleh para pebisnis. Tatkala muncul krisis ekonomi dunia tahun 2007-2008 lalu,  Rich Miller dan Matthew Benjamin berjudul "Post-Subprime Economy Means Subpar Growth as New Normal in U.S." (www.bloomberg.com/ 18 Mei 2008) Keduanya mengingatkan bahwa tata ekonomi dunia terbaru akan muncul setelah krisis itu. New normal kembali dicuatkan Paul Glover di koran Philadelphia Citypaper pada 29 Januari 2009, tapi ia mengingatkan bahwa semua tata ekonomi di dunia akan berubah dan akan mengacu pada isu lingkungan, yang mengabaikan isu lingkungan akan tenggelam.

Dalam hal pandemi Covid-19, istilah ini mencuat lagi ketika awal tahun ini satu tim dokter di University of Kansas Health System menyatakan Covid-19 akan mengubah tatanan hidup keseharian manusia yang disebut new normal. 

New Normal adalah cara hidup baru sebagaimana saya sebutkan di atas. Saya ingin menyebut dengan istilah Tata Kehidupan Baru.  Rela atau tak rela, kita harus memasuki tahap itu. Tentu saja kelak berbagai sisi kehidupan akan menyesuaikan dengan protokol Covid-19, dan selanjutnya akan menjadi kebiasaan sehari-hari kita. Satu hikmah Covid-19: kita jadi disiplin dan hidup bersih.

(Mahyeldi Ansharullah/ Walikota Padang)

Mahyeldi Ansharulla

Mahyeldi Ansharulla ( Walikota Padang )

Berita Terkait

Baca Juga