Menelisik Kebenaran Kisah dan Gelar Keparewaan Si Bujang Jibun

Menelisik Kebenaran Kisah dan Gelar Keparewaan Si Bujang Jibun Sumur Batu, tempat pemandian ayam sabung di gelanggang Bujang Jibun (Foto: Arif P. Putra)

Covesia.com - Bila berkunjung ke Surantih, Kec. Sutera, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat,  dan bertanya cerita lama yang tersebar luas dikalangan masyarakat. Maka tidak akan lepas dari legenda Bujang Jibun dan parewanya semasa hidup. Kisah ini hampir menjadi cerita turun temurun masyarakat Surantih, terlebih lagi kampung Timbulun, Lubuak Batu, Gunuang Malelo, Sialang, Koto Baru, Rawang, dan sekitarnya. Cerita legenda ini hidup dengan jaman masing-masing, sehingga penyampainnya pun bakalan terus bertukar. Yang jelas hanya satu hal dalam kisah ini, yaitu Bujang Jibun seorang tukang utang. 

Kisah ini berawal dari sebuah keluarga Tuanku Garak Alam dan istrinya yang bernama Mayang Taurai. Biasanya cerita ini bisa ditemui pada kaba ataupun cerita randai. Namun karena adanya kabar yang beredar bahwa cerita Bujang Jibun tidak bisa dibawakan ke dalam randai, karena selalu menimbulkan hal-hal magis (mangasan) di tempat ia meninggal (teluk Timbulun) di sana ada batu Bujang Jibun dengan gaya telungkup. 

Tuanku Garak Alam memiliki tiga orang anak yang bernama Bujang Juaro, Bujang Jibun dan Puti Bungsu. Dalam kehidupan sehari-hari, Bujang Juaro dan adiknya Bujang Jibun memiliki kebiasaan yang sama. Juaro memiliki sebuah gelanggang tempat sabung ayam di Bukit Laban. Lokasi ini terletak di antara Kayu Aro dan Koto Tinggi (Kayu Aro saat ini adalah jalur satu-satunya menuju hulu dengan kendraan). Sedangkan Koto Tinggi memiliki beberapa kampung lagi, yakni Koto Ketenggian, Sungai Kumayang dan Koto Ranah. Nama-nama kampung ini tentu akan terdengar asing bila disebut pada saat ini, terlebih lagi kampung tersebut entah masih ada atau tidak. Daerah-daerah bagian Koto Tinggi tersebut seperti sebuah anak tangga menuju puncak, dimulai dari kampung Ranah, Sungai Kumayang yang terletak di lereng dan Koto Ketenggian yang berlokasi paling atas. Dahulu, kampung-kampung tersebut terbilang sebuah kampung tersuruk atau disebut suduik biliak. Bujang Juaro juga peminum tuak ulung, juga pemain judi dadu.

Dari gelanggang ayam Bujang Juaro itulah kisah Bujang Jibun berangkat. Tempat sabung ayam yang selalu ramai itu suatu kali didatangi seorang pemuda dari Pariaman yang bernama Sutan Pamenan. Pemuda yang datang jauh-jauh dari tanah Pariaman itu tidak sembarangan, buktinya ia berani berjalan sejauh itu hendak mengadu ayam ke gelanggang Bujang Juaro. Maka ia datangilah gelanggang milik Bujang Juaro. Di sanalah pertemuan mereka bermula, sampai berlanjut ke sabung ayam. 

Ayam Sago Nani Milik Sutan Pamenan mengalahkan ayam milik Bujang Juaro. Ayam Sago Nani tersebut juga diyakini masyarakat setempat sebagai ayam Cemani. Ayam berwarna hitam pekat diseluruh permukaan kulitnya itu memang terkenal ayam langka. Selain itu, ayam tersebut dikabarkan memiliki tahi hitam, lidah hitam dan sampai ke bagian dalam perutnya. Pada saat sekarang, ayam Cemani biasa digunakan masyarakat sebagai obat. Ayam Cemani memang tidak memiliki harga dipasaran, ayam ini dijual karena niat pembeli dan penjual. Sehingga ayam Cemani bakalan susah didapat kalau untuk pengobatan, kecuali ayam Cemani yang sudah ditangkarkan guna untuk budidayakan. Ayam Cemani bisa dibandrol harga tak tanggung oleh pemiliknya, ada juga yang tidak ada harganya alias diberikan cuma-cuma (obat).

Setelah menang di gelanggang milik Bujang Juaro, Sutan Pamenan menginap beberapa hari di Sungai Kumayang. Di sanalah ia berjumpa dengan tunangan Bujang Jibun bernama Puti Reno Kapeh. Reno Kapeh terkenal sebagai bunga desa Sungai Kumayan, tentulah Parewa seperti Bujang Jibun yang dapat memiliki dia sebagai tunangan. Meski demikian, Puti Reno Kapeh bukanlah perempuan yang sama dengan tunanganya itu, ia sempat mengingatkan Sutan Pamenan untuk tidak mendatangi gelanggang milik Bujang Jibun. Bagai air dan api, Sutan Pamenan pantang pula dibuat penasaran, ayam Cemani itu sudah teruji ketangguhannya dalam gelanggang. 

Maka terdengarlah sorak orang seperti di balai dari kejauhan oleh Sutan Pamenan, suara itu dibawa gema bebukitan yang berjejer. Meninggalkan Reno Kapeh, Sutan Pamenan berpesan pada perempuan itu, “kalaulah baik nasib Sutan, Sutan kembali lagi ke sini.” Reno Kapeh sudah memendam firasat buruk soal itu, sebab ia tau betul siapa Bujang Jibun. Maka berangkatlah Sutan Pamenan menuju gelanggang milik Bujang Jibun yang terletak di Bukit Batu Balai (Bukik Tabalai-masyarakat setempat menyebutnya). 

Gelanggang 

Berhilir ia mengikuti aliran sungai dan menuruni lembah, sampailah dia di Bukik Aua. Di sana dadanya mulai gemetar, firasat mulai tidak karuan. Semakin dekat bunyi dentum sorak orang-orang, semakin berdegub dadanya. Di perjalanan, semua rencana telah disusun oleh Sutan Pamenan, dia bukan orang buangan pula. Kedatangan dia memang sebagai penjudi yang ingin menaklukan gelanggang yang ada. Nama Bujang Juaro dan Jibun telah santer terdengar ke seantero gelanggang luar. Itu yang membawa Sutan Pamenan dan ayam Sago Nani miliknya ke sana. Dia juga seorang parewa di Pariaman, namun cerita Sutan Pamenan yang datang jauh-jauh itu tidak pernah diceritakan orang-orang terdahulu. Sehingga hanya meninggalkan kisah semata. 

Mengingat cerita Bujang Jibun, sama halnya mengingat cerita lainnya. Saat parewa dan dubalang adalah palang pintu sebuah kampung. Namun tak jarang juga, dua gelar tersebut menjadi pangkal permasalah sebuah kampung atau kaum hanya karena materi dan kesenangan. Misalnya cerita Dubalang Pandir yang menjadi antek Balando. Bagaimana si Dubalang merupakan mata-mata, mencatat dan memberitahu lokasi masyarakat bersembunyi. Kisah ini jauh sesudah cerita Bujang Jibun ada, tetapi jarang sekali dikisahkan dalam kaba/randai. Ataupun menjadi cerita legenda/rakyat setempat. Alasannya bisa kita ketahui saja, bahwa menceritakan hal tersebut barangkali menjadi suatu jembatan untuk generasi selanjutnya mencap kaum tertentu sebagai antek Balando. Peristiwa tersebut benar-benar terjadi, bagaimana orang-orang kampung mengasingkan sebuah keluarga karena kakeknya pernah bekerja dengan Balando. Hal itu terjadi karena cerita yang turun temurun tersebut selalu berubah sesuai jamannya, sehingga yang selalu tinggal adalah keburukan dari isi cerita (Lubuak Bagaluang, Surantih). Sebagian lainnya mengatakan bahwa cerita Dubalang Pandir adalah sebuah penyamaran para pandeka untuk mengetahui peta lawan.

Begitu juga yang dialami cerita Bujang Jibun ini, parewa yang sejak lahir disuratkan menjadi sati. Permintaannya kepada alam dan tempat-tempat keramat dianggap manjur. Itulah yang membuat ia menjadi parewa kampung, hampir sepanjang hulu Langgai sampai hilir Suantiah (Surantih) adalah daerah kekuasaan Bujang Jibun. Selain itu, Tuanku Garak Alam merupakan orang terpandang pula, ibunya Mayang Taurai dianggap sebagai mandeh di kampung; tempat mengadu masyarakat. Sebagai anak orang berada, Bujang Jibun bisa berutang kepada siapa saja. 

Akhirnya sampailah Sutan Pamenan di gelanggang milik Bujang Jibun. Terlihat pula orang-orang ramai bagai balai mengelilingi gelanggang Jibun. Sorak yang bukan main dan perjudian lainnya di lepau. Lokasi gelanggang di kelilingi batu-batu, melingkar mengelilingi gelanggang. Tempat itu sekarang masih diyakini beberapa masyarakat sebagai gelanggang sabung ayam milik Bujang Jibun (lihat foto). 

Melihat Sutan Pamenan, terbelalaklah mata Bujang Jibun. Ada tamu yang datang mengantar uang atau keping emas padanya. Dihampiri oleh Bujang Jibun, dan bertanya angin apa yang membawa Sutan Pamenan sampai ke gelanggang miliknya. Dijawab pula oleh Sutan Pamenan, kalau tidak mengadu ayam, apalagi yang bisa diperbuat di sini. Sambil menenteng ayam Sago Nani miliknya, Sutan Pamenan bak pemuda gagah yang bakalan mengalahkan Bujang Jibun. Si Jibun yang lihai, berbicara sesopan mungkin, agar mangsanya tak lari. Diajak Sutan Pamenan berunding taruhan tiga keping emas dan tujuh jurai uang. Dan mereka meyepakati itu.

Bak disambar petir, nyawa ayam Kinantan milik Bujang Jibun lepas di badan. Ayam putih gagah itu terkapar di tengah gelanggang, lehernya terkulai ditebas berulangkali oleh Sago Nani milik Sutan Pamenan. Bak gayung bersambut, kedatangan Sutan Pamenan ternyata memang berani, sesuai dengan apa yang dibawanya. Ditagihnya uang kepada Bujang Jibun, tapi dia mengelak, meski pada akhirnya memberikan hasil taruhan tersebut. 

Cerita belum habis, kebiasaan Jibun akhirnya keluar juga. Ia berkata pada Sutan Pamenan sebelum ia menuruni bukit Batu Balai, “kalau tidak bisa menang di gelanggang, kita usahakan menang di luar gelanggang.” Di perjalanan, Sutan pamenan dicegat Jibun. Akhirnya pertarungan itu tak terelakkan. Melihat Jibun mengambil kuda-kuda, Sutan Pamenan berdetak hatinya, ditambah lagi ayam Sago Nani miliknya takuyuah. Firasatnya mulai tak elok, tapi sebagai pendatang, pantang pula bagi Sutan Pamenan mengelak dari lawan nan bakandak. Terjadilah pertarungan itu, dan naas bagi Sutan Pamenan, kepalanya berpisah dengan badan kerena pedang milik Bujang Jibun. Kepalanya dipanjang di tepi jalan, badannya dibuang ke dalam lurah. 

Kisah ini terputus-putus pada bagian awal dan akhir, sebagian menyebut Sutan Pamenan tidak mati, melainkan luka parah. Dan sebagai balasannya, Bujang Jibun melepaskan, namun mengambil harta bendanya termasuk ayam Sago Nani. Sebagian lagi menceritakan bahwa seperti cerita di atas, Jibun menebas lehernya sehingga berpisah kepala dengan badan (masyarakat setempat meyakini ceritanya demikian). Kemenangan Bujang Jibun diyakini akibat bantuan tampat-tampat, pun keramat yang memang dibawa Jibun sejak lahir. 

Pada bagian ini, cerita Bujang Jibun menjadi kisah buruk yang tidak patut ditiru. Padahal sebelum bertarung, Jibun menyampaikan sebuah pesan kepada semua pemilik alam di daerah tersebut, “kalaulah sempat kemenangan itu dibawa keluar, jatuh harga diri kita sebagai orang asli sini.” Sehingga ia meminta kepada leluhur memberikan kekuatan. Begitu pinta Jibun saat ia tersudut dalam perkelahian Sutan Pamena. Kisah buruk inilah dipercayai masyarakat sebagai Jibun situkang utang salilik pinggang (sekeliling pinggang/banyak). Sebutan itu sampai sekarang menjadi citra buruk Bujang Jibun. Masa-masa terakhir ia hidup memang dihabiskan dengan merenung, meratapi nasibnya yang ditinggalkan Puti Reno Kapeh, lantaran harta milik Sutan Pamenan yang ia bawa tidak mau dibayarkan untuk membayar utang. Kata Jibun, percuma jadi parewa kalau utang dibayar juga. Tabiklah ubili Puti Reno Kapeh, diusirnya Bujang Jibun dan dibatalkan ikatan pertunangan mereka. Sejak itu Bujang Jibun tak karuan, kerjaannya melamun sambil bermain saluang Sago Geni miliknya yang biasa menjadi alat penolak tagihan. Pada bagian ini, Bujang Jibun ternyata sangat puitik dalam kisah asmaranya dengan Reno Kapeh. 

Tapi malang lagi, seorang penagih utang dari Padang bernama Gadih Raema datang menemui Bujang Jibun. Awalnya bagian ini sedikit tidak masuk akal, sejauh itu utang Bujang Jibun pergi. Tapi karena gelanggang miliknya bak balai, wajar saja utang ia sampai kemana-mana, Sutan Pamenan saja dari Pariaman datang menemui dia hanya untuk melepaskan badan dengan nyawa. Marahlah Bujang Jibun waktu itu, dihantamnya Bukit Batu Balai sampai bergetar dan bergeser menjadi teleng. Dipercayai bahwa struktur bukit yang miring adalah ulah dihantam Bujang Jibun akibat marahnya kepada Gadih Raema. 

Tak lama berselang, berlari Bujang Jibun menuruni Lubuak Timbulun (sekarang dikenal Galaga), bersumpahlah dia di sana untuk sekalian harta pusakanya. “Jadikanlah batu seluruh benda peninggalanku, sekalian tubuh ini.” Lalu terjunlah Bujang Jibun ke dalam air. Bukti fisik Batu menyerupai orang sedang telungkup di bagian tepi sungai masih ada, namun bisa dilihat saat pasang surut. Saat itu juga timbul penyesalan Gadih Raema, ulah bentaknya kepada Jibun, hilang kendali parewa malang itu. Sebelum kesal kepada Gadih Raema, Jibun sempat menyumpat dengan berteriak keras. katanya, “balado! tasangkuik karantiang miang naiak ampadu ka talingo.” Bagi Jibun, perkataan Gadih Raema kepadanya sangat membuat dia murka, sampai naik emosinya, sebuah hinaan yang telak. 

Kisah Bujang Jibun putus sampai disitu, walau pada cerita-cerita lainnya terdapat juga kisah beberapa parewa yang menelusuri jejak peninggalan Bujang Jibun seperti; Saluang Sago Geni, Emas, ayam Kinantan- Sago Nani dan beberapa benda sakti miliknya seperti bulu perindu. Beberapa sumber mengatakan benda tersebut ia kubur di perjalanan dari Sungai Kumayang ke Batu Balai. Tapi tidak ada yang bisa membuktikan hal tersebut sampai sekarang. Sedangkan peninggalan lainnya yang masih bia dilihat hanyalah tempat pemandian ayam, lokasi gelanggang dan bebatuan yang berserak di lereng gunung bagian ke lautan (dapat dilihat pada poto pertama). 

Sebagaimana dasarnya sebuah cerita legenda, bisa iya bisa tidak. Bujang Jibun bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat, bahwa keserakahan akan mengalahkan ilmu, meski itu sudah disuratkan sejak lahir. Banyak masyarakat menceritakan keburukan Bujang Jibun, tapi bagi saya dia adalah orang besar. Utang baginya bukan persoalan remeh, tapi sebuah pembuktian keparewaannya. Dari sana gelar parewanya diuji. Andaikan dia tidak memiliki utang dan gelar parewanya dilepas sebagai pemuda biasa, tentu kisah ini tidak akan ada. Terlepas benar atau tidaknya. Tapi dari beberapa bukti fisik. Legenda Bujang Jibun tergolong nyata, bukti fisik dan jalur-jalur yang ia lewati masih terpampang jelas penuh semak. Tapi siapa yang peduli dengan cerita ini, selain orang tua kolot. Selebihnya hanya menjadikan Bujang Jibun sebagai bahan menakut-nakuti anak. 

Bukit tempat lokasi Bujang Jibun menyabung ayam di kelilingi bebatuan, perkiraan itu menjadi tempat duduk penonton sabung ayam. Sekarang ditanami singkong. Meski demikian, tulisan ini masih memerlukan beberapa masukan, demi memastikan kebenarannya. Sebab masyarakat setempat sebagian masih menolak bahwa di atas bukit Batu Balai tidak ada gelanggang, kecuali lokasi tempat ayam-ayam Jibun. Kemudian, sebutan untuk nama Bujang Jibun aslinya adalah Bujang Cibun (dialek). Berikut adalah sebuah pinta Bujang Jibun sebelum bertarung dengan Sutan Pamenan, “berkat tampat-tampat keramat, nerkat Langgai, berkat Malelo, dan berkat sati keramat. Meminta Bujang Jibun kali ini, kalau sempat sekarang bak balam rabah, bak orang datang nagari surantih. Jibun seperti mendapatkan kekuatan, dan berhasil mengalahkan Sutan Pamenan. 


Arif P. Putra

Arif P. Putra ( Penulis )

Berita Terkait

Baca Juga