Sound of Borobudur Hadir Mereplika Alat Musik Nusantara yang Punah

Sound of Borobudur Hadir Mereplika Alat Musik Nusantara yang Punah Foto: Fakhruddin Arrazzi

Covesia.com - Sound Of Borobudur hadir untuk mereplika alat musik yang telah punah sesuai gambaran alat musik yang terpahat di relief Candi Borobudur Jawa Tengah. 

"Di relief Borobudur, sedikitnya ditemukan 45 jenis alat musik yang sebarannya hari ini meliputi 34 provinsi di Indonesia dan 40-an negara di seluruh dunia," jelas Purcawaraka selaku direktur eksekutif dari grup musik tersebut di acara malam puncak Festival Pamalayu di Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat, Senin (6/1/2020).

Purcawaraka menjelaskan bahwa, berdasarkan relief Candi Borobudur tersebut, bangsa ini sudah menemukan komposisi, aransemen, progresi, dan segenap unsur musikal yang moderen pada abad ke-7. 

Perjalanan Sound of Borobudur tidaklah mudah. Mereka memulainya dengan meneliti relief, membongkar skripsi tentang alat musik di Candi Borobudur, menelusuri berbagai jurnal ilmiah di dalam dan di luar negeri, mencari alat musik tradisional yang ada di 34 provinsi, lalu mereka ulang alat musik seperti yang tergambar di relief Candi Borobudur. Alat musik yang dibuat tersebut merupakan alat musik yang sudah punah. 

Dia mengatakan bahwa upaya untuk menciptakan kembali alat musik yang sudah punah tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan para seniman yang sepikiran dengan mereka. "Berkumpul dan meinterpretasikan bunyi, membuat komposisi, merawat gaya dalam sebua aransemen, berlatih bersama, kemudian tampil di pentas ini di Dharmasraya," ujarnya. 

Ada 21 jenis dawai atau alat petik yang dibuat ulang. "Semuanya mirip dengan yang tergambar di relief Candi Borobudur," ujarnya.

Selain itu, ada juga berbagai macam alat tabuh dan gerabah serta berbagai jenis perkusi. 

"Selebihnya kami mencari persamaan jenis dengan ratusan instrumen musik yang ada di Nusantara. Sampai akhirnya sekarang untuk sementara waktu sudah terkumpul di tempat kami 190-an alat yang saya yakin akan terus bertambah sesuai dengan temuan selanjutnya," jelasnya. 

Ternyata, kata Purcawaraka, meski sudah berselang 13 abad, banyak sekali alat musik yang masih dipakai sampai hari ini, baik di Indonesia maupun di dunia. 

Alat musik yang telah diciptakan kembali tersebut dibawakan dan dimainkan untuk pertama kalinya di hadapan publik Indonesia dan dunia di Dharmasraya.

Penampilan mereka mampu memukau seribuan masyarakat yang hadir di lokasi acara. 

Malam puncak Festival Pamalayu dilaksanakan, Senin (6/1/2020). Acara berlangsung di kompleks Candi Padang Roco Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). 

Berdasarkan pantauan Covesia.com, sebuah panggung acara didirikan di dekat lokasi situs peninggalan kejayaan Kerajaan Dharmasraya tersebut. Seribuan masyarakat tampak antusias mengikuti acara. Masyarakat yang hadir berasal dari beragam usia, seperti orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak.

Pada acara tersebut, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan Bupati Dharmasraya Sutan Riska juga tampak hadir. Acara juga diramaikan dengan berbagai macam pameran seperti pameran artefak, pameran bonsai dharmasraya, pameran kaligrafi, dan sebagainya. 

Acara malam puncak festival ini dimulai sekitar 20.30 WIB. Acara dimulai dengan penampilan para seniman asal Desa Muara Jambi yang bergabung dalam grup band Senandung Swaradipa. Setelah itu, ada penampilan drama kolosal dari berbagai sanggar tari yang ada di Dharmasraya. Mereka membawakan drama tentang sejarah Kerajaan Dharmasraya.

Pada saat acara berlangsung, sejumlah pengunjung tampak mengeluarkan android mereka. Mereka merekam jalannya acara melalui kamera ponsel mereka, dan mungkin menyebarkannya ke media sosial yang mereka miliki.

Kontributor: Fakhruddin Arrazzi

Berita Terkait

Baca Juga