Jokowi, BG, dan Tantangan Peran serta Fungsi Intelijen di Pemerintahan Kedua Jokowi

Jokowi BG dan Tantangan Peran serta Fungsi Intelijen di Pemerintahan Kedua Jokowi Foto: Antara

Tanggal 23 Oktober 2019 lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan nama-nama yang akan membantu beliau dalam periode kedua beliau bersama Ma’ruf Amin. Ada satu nama yang tidak disebutkan di hari itu, yaitu Budi Gunawan, atau yang lebih sering dipanggil BG. Walaupun hal ini cukup mengejutkan berbagai kalangan yang sebelumnya memprediksi bahwa BG akan mendapatkan posisi baru seperti Menteri atau bahkan Menteri Koordinasi, keputusan Jokowi untuk mempertahankan BG di posisi Kepala BIN sangat bisa dimengerti oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia intelijen dan keamanan.

Melihat cara Jokowi bekerja dan mengambil keputusan selama ini, maka sangat terlihat bahwa Jokowi adalah pemimpin yang melakukan proses pengambilan keputusan dengan tidak terburu-buru, tapi tegas dan tepat. Proses pengambilan keputusan tersebut didasarkan pada masukan dari analisis yang diberikan oleh orang-orang yang punya karakter yang sama dengan beliau, yaitu tenang, tidak terburu-buru, tapi tegas dan tepat. Jokowi sangat mengerti siapa yang satu frekuensi dengan dia, dan bisa dipercaya.

Melihat bagaimana Jokowi berani mengunjungi Afghanistan, bagaimana dia berani mengambil keputusan untuk melakukan proses akusisi 51% saham Freeport, maupun kebijakan-kebijakan rekonsiliasi politik pasca Pilpres yang sangat terpolarisasi dan memiliki potensi konflik horizontal tinggi, maka bisa disimpulkan bahwa analisis ancaman dan resiko yang dilakukan oleh Badan Intelijen Negara (BIN) atas situasi maupun konsekwensi dari keputusan-keputusan politik yang dia ambil sudah sangat tepat. Jokowi percaya dengan hasil analisis dan rekomendasi BIN, yang dikepalai oleh BG.

Di tangan dingin BG, BIN benar-benar maksimal dalam melaksanakan peran, tugas dan fungsinya yang sesuai UU 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara dimana BIN merupakan “alat negara yang menyelenggarakan fungsi intelijen dalam negeri dan luar negeri, yaitu penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, yang tujuannya adalah mendeteksi, mengidentifikasi, menilai, menganalisis, menafsirkan, dan menyajikan Intelijen dalam rangka memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan bentuk dan sifat ancaman yang potensial dan nyata terhadap keselamatan dan eksistensi bangsa dan negara serta peluang yang ada bagi kepentingan dan keamanan nasional”.

Secara mekanik, keberhasilan sebuah badan intelijen dalam melakukan analisis dan memberikan rekomendasi sangat tergantung pada asset yang dimiliki. Aset tersebut bukan hanya kapabilitas teknis saja, tapi juga individu dan jaringan. Kepercayaan yang diberikan Jokowi kepada BG menunjukan bahwa BG sangat mumpuni dalam mengelola asset dan mengkombinasikan dengan kapabilitas teknis, sehingga analisis dan rekomendasi yang diberikan mampu membantu Jokowi dalam mengambil keputusan-keputusan kritis.

Di tangan BG, BIN kembali ke filosofi intelijen yaitu senyap, cepat dan tepat alias Velox et Exactus. Hal ini sangat sejalan dengan gaya kepemimpinan dan leadership philosophy yang selama ini ditunjukkan oleh Jokowi. Jokowi yang tenang, tidak terburu-buru dan cenderung mengambil keputusan yang cepat dan tepat di saat orang tidak mengantisipasi membutuhkan orang yang juga mampu memainkan irama yang sama dengan beliau. Orang-orang yang bisa beroperasi secara senyap alias covert, tapi cepat dan tepat, adalah orang-orang yang dibutuhkan dan dipercaya oleh Jokowi dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, dan BG sudah terbukti adalah orang yang dipercaya Jokowi untuk itu.

Di pemerintahan baru ini, Jokowi sudah mengatakan bahwa tidak ada visi Menteri; yang ada adalah visi Presiden. Artinya Jokowi butuh orang yang dipercaya mampu melaksanakan kebijakan-kebijakan beliau, sekaligus mampu memberikan analisis-analisis untuk memudahkan beliau mengambil keputusan. Di samping itu, arah kebijakan Jokowi yaitu meningkatkan investasi ekonomi sangat membutuhkan kondisi negara yang stabil. Hal ini membutuhkan punggawa intelijen yang bukan hanya mengerti kondisi ancaman domestic, seperti Aceh dan Papua, tapi juga pengetahuan dan proyeksi tingkat ancaman dalam skala bilateral, regional dan multilateral. BG sudah membuktikan dirinya sebagai orang yang capable untuk melaksanakan fungsi dan peran ini.

Dari penjelasan di atas maka keputusan Jokowi untuk mempertahankan BG sebagai kepala BIN bisa dimengerti. Ini adalah keputusan yang tepat, dan BG adalah orang yang tepat untuk tetap memegang komando di Badan Intelijen Negara yang secara senyap, cepat dan tepat mampu memberikan analisis dan rekomendasi kepada Jokowi selaku Presiden.

***

Alto Labetubun, ST, MIS

Alto Labetubun, ST, MIS ( Analis konflik dan konsultan keamanan )

Berita Terkait

Baca Juga