Menuju World Heritage, Kawasan Rumah Gadang Padang Ranah Dikonservasi dalam Waktu Dekat

Menuju World Heritage Kawasan Rumah Gadang Padang Ranah Dikonservasi dalam Waktu Dekat Rumah Tradisional Padang Ranah Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Foto: BPCB Sumbar

Covesia.com - Kawasan Rumah Tradisional Padang Ranah Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, merupakan salah satu investaris cagar budaya Sumatera Barat yang memilki nilai sejarah penting. Untuk itu, upaya untuk menjaga kelestariannya akan dilakukan melalui konservasi secara fisik. 

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumatera Barat dalam waktu dekat akan melakukan tindakan konservasi terhadap fisik bangunan rumah gadang khususnya di Jorong Koto Padang Ranah dan Jorong Tanah Bato.

“Kegiatan ini lebih difokuskan pada upaya membersihkan cagar budaya dari faktor penyebab kerusakan dan pelapukan dan upaya mengawetkan material cagar budaya agar tidak terjadi degradasi lebih parah,” jelas kepala BPCB Sumbar Nurmatias, dalam keterangan pers yang diterima Covesia, Kamis (13/6/2019).

Dia mengatakan, pada 2015, Perkampungan Tradisional Nagari Sijunjung masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO.

 

Dalam kawasan seluas 157,1 hektare itu, terdapat 77 rumah gadang yang tersusun linier di pinggir jalan. Rumah gadang tersebut dimiliki oleh Suku Caniago, Melayu, Panai, Tobo, Piliang dan Melayu Tak Timbago.

“Secara umum, kegiatan konservasi 20 hingga 24 Juni 2019 itu bertujuan guna melestarikan rumah gadang dan nilai yang terkandung di dalamnya,” sebut Nur. 

Kegiatan ini bertemakan Konservasi Rumah Gadang Perkampungan Tradisional Nagari Sijunjung, Budaya Minangkabau Menuju Warisan Dunia UNESCO, ulasnya.

Konservasi itu, katanya, dilakukan dengan beberapa tahap, mulai dari sosialisasi hingga penanaman pohon dengan tujuan menjaga persediaan kayu untuk perbaikan fisik rumah gadang ke depan.

Penanaman pohon bekerja sama dengan Dinas Kehutanan KPHL dan Dinas Pertanian Sijunjung di Hutan adat Nagari Sijunjung. Sementara, lahan penanaman bibit disediakan oleh Ninik Mamak setempat.

Praktik pemeliharaan fisik akan dilakukan mulai 21 hingga 23 Juni dengan melibatkan peran serta masyarakat sekitar. 

Rangkaian praktik konservasi dimulai dengan;

  • Gotong royong membersihkan rumah gadang, 
  • Persiapan bahan dan alat konservasi, 
  • Pembersihan mekanis kering bangunan rumah gadang, 
  • Perebusan dan perendaman tembakau dan cengkeh, 
  • Pembersihan dan pengawetan menggunakan tembakau dan cengkeh. 
  • Amputasi tiang yang lapuk, 
  • Penutupan kayu berlubang, 
  • Perbaikan kerusakan ringan pada rumah gadang. 

Selama kegiatan berlangsung, sebut Nur, BPCB melibatkan pelajar dalam bentuk kunjungan dengan tujuan agar proses pelestarian rumah gadang juga diketahui oleh generasi muda. 

“Pada hari terakhir dilaksanakan evaluasi kegiatan pada 24 Juni 2019, dengan prosesi acara Bakaul Adat,” tutup Nur. 

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga