Pengantar Tugas untuk Mahyeldi-Hendri Septa: Padang Itu Sudah Tertinggal

Pengantar Tugas untuk MahyeldiHendri Septa Padang Itu Sudah Tertinggal Dok. Humas Pemko Padang

Covesia.com - Secara geografis, Padang yang berada di pantai barat Sumatera bersama Bengkulu sebenarnya kurang beruntung, karena pembangunan infrastruktur nasional koridor Sumatera itu memakai jalur pantai Timur, mulai dari Bandar Lampung, Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan dan terus ke Banda Aceh. Pembangunan tol Trans Sumatera dan jalur kereta dibangun di sana.

Tetapi Bengkulu cepat mengantisipasi dengan akan dimulainya pembangunan jalan tol Bengkulu - Palembang sepanjang 330 km tahun ini, untuk mengejar lebih cepat akses ke jalan tol Trans Sumatera. Sementara jalan tol Padang - Pekanbaru, terlalu banyak cirit minyak, dimana masih berkutat dengan persoalan ganti rugi lahan yang bisa jadi menghambat proyek tersebut.

Dulu boleh Padang itu pusat dari Sumbar, Riau dan Jambi, tapi sekarang sudah tidak lagi. Pekanbaru dan Jambi mengalami lompatan pembangunan yang drastis, dan telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di pantai Timur Sumatera yang dengan cepat bisa mengakses pasar regional, Singapura, Malaysia, Thailand dan seterusnya ke Jepang, Korea dan China.

Sementara Padang masih berkutat dengan persoalan ganti rugi lahan, dan mabuk dengan cerita usang masa lalu. Padahal yang masih tersisa itu hanya pabrik semen PT. Semen Padang, lainnya sudah tiarap. Sebutlah PT. Sumatex Subur (tekstil), PT. Rimba Sunkyong (kayu lapis), PT. Polyguna (seng), PT. Asia Biskuit (pabrik roti), dan banyak lainnya.

Dulu boleh Padang menjadi pilihan favorit bagi anak-anak tamatan SMA dari Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Medan dan bahkan dari Jawa untuk menimba ilmu di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada di Padang. Tapi seiring dengan perkembangan pesatnya dunia pendidikan tinggi di daerah-daerah tadi, Padang tidak lagi menjadi perhatian utama. Kadang perguruan tinggi yang ada sudah kalah pula bersaing. Untung saja masih ada PTN seperti Unand, UNP, UIN Imam Bonjol dan PNP.

Saat ini yang diharap Padang itu "hanya" dari sektor pariwisata. Tapi dengan gejolak tarif pesawat terbang yang ada sekarang, keadaan pariwisata Padang drop, hanya tinggal para wisatawan lokal dari seputaran Sumbar yang datang meramaikan Pantai Padang, dan Pantai Air Manis. Untuk benar-benar mengandalkan pariwisata pun sebenarnya kemari tanggung, sebab pukul 9 malam Padang itu sudah seperti kota mati, yang terus buka hanya lontong malam Turagari di jalan Veteran.

Jadi dengan telah dilantiknya pemimpin baru, citarasa lama Kota Padang periode 2019-2024, Walikota Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Walikota Hendri Septa, ke depan harus ada lompatan berpikir yang "out of the box" sehingganya Padang kembali bisa meraih kejayaannya. Kalau hanya sekedar renovasi trotoar, revitalisasi pasar tradisional, pembenahan Pantai Padang, dan pembangunan kembali Pasar Raya Padang pascagempa, itu mah masih standar.

Sebagai ibukota Provinsi Sumbar, Kota Padang harus bisa bersinergi dengan kabupaten yang berbatasan dengan Padang, khususnya Kabupaten Padang Pariaman, Solok dan Pesisir Selatan. Pembangunan Padang itu harus visioner, jauh ke depan. Kita masih ingat rencana mantan Walikota Padang Fauzi Bahar untuk pengembangan Padang, dengan visinya membangun Padang Bay City dan Terowongan Pengambiran - Bungus. Kemudian pengembangan kawasan wisata Pasir Jambak dan Taman Hutan Raya Bung Hatta. Walaupun tidak terealisasi, tapi lompatan berpikir Fauzi Bahar patut diapresiasi.

Selamat bertugas.

(lif)

Baca juga: Wali Kota Padang Periode 2019-2024 Dilantik Hari Ini

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga