Agama Itu Tidak Menakutkan

Agama Itu Tidak Menakutkan Ilustrasi

Covesia.com - Kita telah "terlanjur" menganggap agama itu hukum atau hukuman Tuhan. Di dalam ajarannya ada dosa ada pahala, dan ada neraka dan surga. Hingga agama itu kemudian menjadi sesuatu yang berat dan menakutkan. Kemudian, tanpa sengaja, Tuhan pun terpresepsikan sebagai zat yang pemarah, jauh dari kasih sayang.

Anggapan itu tentu keliru. Kalaupun dianggap benar, yang demikian itu hanyalah bagian kecil atau bagian ujung saja dari agama, bukan pokok pangkalnya. Karena, agama lebih dari itu. Agama adalah jalan hidup bagi manusia menuju kebahagiaan.

Syahadatain atau dua kalimat syahadat, yang merupakan rukun Islam pertama, adalah peristiwa dimana jiwa menemukan fitrahnya. Dalam ilmu tasawuf dikatakan bahwa jiwa akan memperoleh kesenangannya bila jiwa tersebut berada pada fitrahnya. Sebaliknya jiwa yang jauh dari fitrahnya akan mengalami kesedihan dan penderitaan serta jauh dari kebahagiaan.

Salat lima waktu adalah tempat di mana jiwa bisa beristirahat dari kelelahannya. Kesibukan duniawi membuat jasmani dan rohani menjadi lelah dan menderita. Untuk mengobatinya tak ada jalan lain selain diistirahatkan, walaupun sejenak. Kata Nabi SAW kepada muazinnya, Bilal bin Rabah, ketika masuk waktu shalat, (mari kita beristirahat dengannya ya Bilal. Dapat beristirahat adalah suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang tak terhingga nilainya bagi manusia.

Begitu juga zakat. Zakat adalah tempat dimana seorang kaya bisa berbagi dengan yang papa. Bisa berbagi adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. Hingga kita sering mendengar ungkapan "indahnya berbagi". Sebaliknya, kikir dan tak mau berbagi adalah penderitaan. Karena kikir itu tak sesuai dengan fitrah manusia yang suka berbagi.

Tak berbeda dengan yang di atas yakni puasa. Meski pada bulan puasa orang tidak makan dan tidak minum di siang hari bulan Ramadhan, orang-orang puasa tak pernah sedih dan berhiba hati. Bahkan sebaliknya, mereka justru bahagia. Karena pada bulan puasa itu banyak sekali keberkahan di dalamnya. Saat sahur ada keberkahan, saat berbuka ada ampunan, siang harinya ada kemuliaan.

Di atas itu ada haji. Secara bahasa haji adalah ziarah atau berkunjung, bahasa sederhananya adalah jalan-jalan. Secara istilah haji itu adalah sengaja menuju baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melakukan ibadah-ibadah tertentu. Allah maha tahu dengan hambanya, jalan-jalan adalah salah satu kebutuhan pelengkap bagi manusia dalam hidup. Itu pula barangkali sebabnya Allah letakkan haji pada rukun yang ke lima. Itu pun hanya untuk orang-orang yang mampu. Berbeda dengan jalan-jalan biasa, perjalanan haji, selain melibatkan aspek jasmani juga aspek rohani atau spritual. Hingga, kebahagian dalam perjalanan haji jauh melebihi kebahagiaan perjalanan biasa. Itu pula barangkali sebabnya, banyak orang yang ingin berulang-ulang melakukannya.

Demikianlah, agama disediakan oleh Allah untuk mewujudkan kebahagiaan bagi manusia, bukan beban dan penderitaan. Hanya saja, agar manusia mau mencapainya, Allah "paksa" mereka untuk melakukannya. Pada tahap inilah sebenarnya muncul hukum. Bukan di awal-awal, sebagaimana yang kita pahami selama ini. Karena hukum itu pada dasarnya adalah penjamin untuk terwujudnya tujuan dari sesuatu, bukan untuk hukum itu sendiri. 

lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Direktur Pascasarjana IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga