Mengenal Suci Budiyanti, Sastrawan Muda Berbakat Asal Agam

Mengenal Suci Budiyanti Sastrawan Muda Berbakat Asal Agam Suci Budiyanti

Covesia.com - "Adakah gerimis di lereng yang menjulang, lebih menggetarkan dari hujan dikaki Singgalang, jawab tanya itu tanpa mata berlinang, sebab demi sua denganmu jantungku lama meradang, adakah senja padangmu yang jingga, lebih remang dari malam Agamku tanpa purnama, sentuh cintaku tanpa mulut berbicara, sebab demi selami hatimu, sanubariku telah banyak berkaca".

Itulah salah satu puisi terbaik yang ikut mewarnai halaman kumpulan puisi  Senja Dan Hujan, (2017). Indah bukan? Adalah Suci Budiyanti, gadis cantik asal Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, (Sumbar) sang pencipta bait-bait indah tersebut.

Meskipun tidak terkenal seperti sastrawan Asrus Sani, Chairil Anwar dan Asma Nadia, karya tulis wanita yang akrab disapa Uci itu sering dimuat di beberapa media cetak dan online serta mengisi beberapa lembaran buku sastra, kumpulan dan antolog puisi. 

"Saya suka membuat puisi dan sudah menyelesaikan beberapa buah novel namun saat ini  baru satu  yang saya kirim ke penerbit yaitu novel yang berjudul Apakah Seperti Ini Cinta Itu Sendiri, alhamdulillah mereka setuju untuk diterbitkan," ujarnya memulai bincang-bincang dengan Covesia.com, Minggu (21/4/2019).

Bakat menulis Putri kedua dari 4 bersaudara dari pasangan Akhiruddin dan Irna Effida ini sudah terlihat semenjak menginjak pendidikan sekolah dasar, bermula dari menuangkan perasaan kedalam buku diary, membuat puisi-puisi dan cerpen untuk dibaca sendiri, atau sekedar mengupload untuk status media sosial serta mengisi blog pribadi. 

"Alhamdulillah banyak yang memberikan apresiasi hasil tulisan saya dan itu menambah semangat untuk terus berkarya," ulasnya.

Sebelumnya, alumni Ilmu Komunikasi FISIP Unand Padang ini sempat menutup rapat catatan dan berhenti menulis, kesibukan kampus serta hilangnya inspirasi membuatnya enggan mengoreskan pena dan merangkai kata. 

Namun keputusan itu tidak bertahan lama setelah seorang temannya berkata tulisan itu tidak ada gunanya kalau disimpan sendiri, semua penulis punya pembacanya sendiri, jelek atau bagusnya bukan urusan kita, menulis itu menyembuhkan, tapi akan lebih mendamaikan kalau kamu berani publikasikan. 

"Selepas wisuda saya kembali membuka catatan yang tersimpan di smartphone atau laptop dan melanjutkan kembali tulisan yang sempat tertunda," tuturnya.

Saat ini ia bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang merchandising di DKI Jakarta, meski  rutinitas barunya memakan cukup banyak waktu, ia tetap menyisakan masa untuk melanjutkan tulisannya. 

Baginya, tulisan  merupakan salah satu tempat untuk menyampaikan perasaan menggunakan  cara indah dengan imbalan kepuasan batin, serta bisa dinikmati oleh semua orang. "Ketika menulis, saya seperti melepaskan sebuah beban pundak dan pikiran, ada kelegaan dan kedamaian tersendiri yang saya rasakan," tutupnya.

(han)


Berita Terkait

Baca Juga