Sumbar Itu Bukan Sekadar Rendang

Sumbar Itu Bukan Sekadar Rendang Ilustrasi

Covesia.com - Perkembangan pembangunan Sumatera Barat (Sumbar) khususnya bagian Selatan (mengarah ke perbatasan Provinsi Bengkulu dan Jambi) memang jauh tertinggal dibandingkan Sumbar bagian Utara (mengarah ke perbatasan Provinsi Riau dan Sumut). 

Kelok 9 dan rencana jalan tol adanya di ttara, sementara ke Selatan merangas. Tapi, katanya sudah ada rencana pembangunan bandara di Solok Selatan. Boleh juga lah.

Kita tidak akan membahas masalah rencana pembangunan bandara, tetapi bagaimana mengaktifkan kembali kereta api (KA) ke Sawahlunto. Dulunya KA ke Sawahlunto mengangkut batu bara ke Teluk Bayur, tapi karena batu baranya sudah habis, maka KA tersebut beberapa tahun ke belakang tidak lagi berfungsi. Saat ini kondisi relnya sudah banyak yang bersemak.

Untuk mempercepat peningkatan perekonomian Sumbar bagian selatan, sarana dan prasarana transportasi haruslah menjadi prioritas. Selain jalan, maka KA adalah salah satu alternatif yang sangat pas. KA yang biasanya hanya sampai Sawahlunto, diperpanjang hingga ke Dharmasraya. Sehingganya, arus penumpang dan barang (komoditi pertanian) dalam partai besar dari Sijunjung dan Dharmasraya bisa diangkut ke Padang dengan cepat.

Di samping itu, dengan adanya KA, dunia pariwisata Sawahlunto, Sijunjung dan Dharmasraya akan menggeliat. Menyengaja datang ke daerah itu orang yang masih "agak berat", tapi dengan adanya KA Wisata, seperti yang sekarang ke Pariaman, maka yakinlah bahwa dunia kepariwisataan kawasan tersebut akan semakin maju/meningkat. Tabiatnya para wisatawan ingin sesuatu yang baru, dan spot-spot wisata di kawasan itu sangat banyak, tapi belum tersentuh.

Dari Padang pada akhir pekan akan penuh gerbong-gerbong diisi oleh para wisatawan. Sampai di stasiun-stasiun di daerah tujuan, sudah disambut oleh bus-bus wisata yang akan mengangkut para wisatawan menikmati pemandangan alam dan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi dari zaman kerajaan Hindu. 

Kalau pandai memasarkannya, di hari biasa, dipasarkan juga wisata sejarah tersebut ke kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Bukan tidak mungkin per trip KA itu akan penuh dengan satu kampus / sekolah tiap harinya.

Implikasi peningkatan perekonomian dengan adanya KA itu bukan saja pada kawasan tadi, tapi mulai dari Lembah Anai, Padang Panjang, Ombilin, Danau Singkarak, dan Solok ikut menikmatinya. Jembatan KA Lembah Anai yang legendaris itu akan kembali hidup. Sicincin dan Kayu Tanam serta Padang Panjang akan ramai dengan wisatawan dari Pariaman, Simpang Ampek, Bukitinggi, Payakumbuh dan Lubuk Sikaping, yang akan berwisata. Sementara di Padang, dari Padang sendiri dan Painan.

Kalau saya yang jadi Gubernur Sumbar, bersama dengan kepala daerah yang melewati rel KA tadi akan berjuang habis-habisan agar pemerintah pusat mengaktifkan kembali KA ke Sumbar bagian Selatan (hingga ke Dharmasraya). 

Bahkan, bisa juga dibelokkan KA itu ke "Nagari Saribu Rumah Gadang" Solok Selatan, terus ke Danau Kembar dan kembali ke Danau Singkarak. Sebab, sebagai gubernur saya harus paham bahwa wisata Sumbar itu bukan sekadar Jam Gadang, Tabuik, Lembah Harau dan Kawasan Mandeh, serta bukan pula sekadar rendang.

(lif)

Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga