Makan Bajamba Maelo Pukek, Tradisi Sebelum Menggunakan Perahu dan Pukat Baru Nelayan di Agam

Makan Bajamba Maelo Pukek Tradisi Sebelum Menggunakan Perahu dan Pukat Baru Nelayan di Agam Tampak Jamba yang akan siap dihidangkan dalam makan bersama di tepi pantai Tiku, sebelum pukat dan kapal baru yang akan mengarungi lautan (Foto: Istimewa)

Covesia.com -  Mensyukuri rezki yang diberikan Tuhan merupakan satu kewajiban bagi setiap manusia, seperti halnya para nelayan di Pasia Tiku, kecamatan Tanjung Mutiara, kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, usai membuat perahu atau pukat baru mereka memiliki tradisi “Makan Bajamba Maelo Pukek” yaitunya satu tradisi syukuran dan makan  bersama di tepi pantai sebelum perahu atau pukat yang baru dibuat diterjunkan ke laut.

Kasi PNM kecamatan Tanjung Mutiara Weri Ikhwan, menjelaskan tradisi tersebut sudah turun temurun dilaksanakan masyarakat setempat, tradisi makan bajamba maelo pukek merupaka bentuk rasa syukur atas selesainya pembuatan perahu atau pukat, dan doa bersama para nelayan agar rezki dilimpahkan saat mencari ikan dengan peralatan baru serta terhindar dari segala marabahaya saat melaut.

“Itu memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat nelayan di kecamatan tanjung mutiara, secara turun temurun,“ ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, Selasa (20/11/2018).

Dalam prosesnya, istri-istri para nelayan membawa Jamba atau  tempat berbentuk kerucut yang berisikan nasi dan lauk pauk lengkap ke tepi pantai, sementara itu, perahu yang baru siap dibuat ditarik bersama-sama keperairan oleh para nelayan. 

Usai menarik perahu pukat yang baru dibuat dibentangkan diatas pasir sebagai tikar, dan nasi diletakkan melingkar dihadapan para nelayan yang akan dipimpin oleh satu orang alim ulama ( Engku labai) untuk memanjatkan doa, kemudian dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang telah disediakan. 

“Setelah prosesi makan bajamba itu berlangsung, barulah mereka bersiap untuk menggunakan perahu baru yang akan mengarungi samudera luas,” ungkap Weri.

Dijelaskan Weri Ikhwan, tradisi Makan Bajamba Maelo Puket tersebut semata-mata sebagai ungkapan rasa syukur dan memohon  kepada sang pencipta dan tidak ada unsur syirik sedikitpun, baik meminta atau menyerahkan sesajen kelaut. 

“Para nelayan hanya mengungkapkan rasa berterima kasih atas rizki yang diberikan Allah, dan meminta keselamatan semata-mata kepada Nya,“ kata dia. 

(han/don)


Berita Terkait

Baca Juga