Bicara Tentang ‘’Bumi,’’ Raudha Thaib: Estetika dan Etika tak Dapat Dipisahkan

Bicara Tentang ‘’Bumi’’ Raudha Thaib Estetika dan Etika tak Dapat Dipisahkan Dari kiri ke kanan, Indra Nara Persada, Raudha Thaib, Moderator Armeynd Sufhasril, Dr Syafril dan Hidayat SS, MH, dalam Dialog Budaya Festival BUMI di Aula Museum Adityawarman.

Covesia.com – Di hari kedua dari rangkaian Festival Bumi di Aula Museum Adityawarman kegiatan difokuskan kepada dialog budaya Bumi ‘Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Datang’. Kegiatan berlangsung pada Minggu (11/11/2018).  

Lembaga Bumi Kebudayaan merupakan kelompok pegiat kajian budaya yang berbasis pada kebudayaan Minangkabau. Lembaga BUMI Kebudayaan berasal dari grup BUMI Teater yang berdiri sejak 10 November 1976 di Padang, Sumatera Barat.

“Bumi terus bisa berlanjut, karena masih ada pengasuh, Buk Upik (Raudha Thaib), Bang Darman (Darman Moenir), dan Da Is (Herisman Is). Yang ke depan paling-paling bermasalah palingan hanya regenerasi pengasuh” ungkap Dr.Syafril, memberi pendapat.

Berbeda dengan Syafril yang melihat bagaimana Bumi ke depannya, Raudha Thaib justru lebih berbicara mengenai kehadiran dan tujuan Bumi berdiri. 

“Kehadiran Bumi untuk mewarnai kesenian di Sumatera Barat. Bumi sarana untuk membangun karakter manusia yang mandiri dari anak muda yang bergabung yang punya sikap jelas terhadap agama yang dianutnya. Jadi,kegiatan-kegiatan itu hanyalah sarana atau alat untuk mewujudkan tujuan itu. Terserah nanti meraka mau jadi apa, seniman, manager, PNS, dan lainnya,” jelas ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, dalam keterangan pers yang diterima Covesia, Senin (12/11/2018).

“Estetika barat berbeda dengan kita. Bagi kita, estika dan etika itu tidak dipisahkan,” tambahnya.

Ketua Komisi V DPRD Sumbar, Hidayat, membenarkan yang disampaikan Raudha Thaib. 

“Saya dibentuk di Bumi, dan Lembaga Bumi Kebudayaan sangat relevan sebagai bentuk sampel  pembelajaran bagi anak-anak muda. Mengingat krisis moral di kalangan anak muda.Berita terbaru LGBT Sumbar sangat tinggi, kasus narkoba dan macam-macam. Saya melihat bukan hanya aksi atau pementasan tapi, proses latihanlah yang menjadi instrument pembentukan karakter pemain, actor atau pelaku dari perspektif kebudayaan,” ungkapnya.

Pada Minggu malam pukul 20.00 WIB telah di buka Pameran Bumi Seni Rupa di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Setelah itu, telah digelar pementasan Bumi Teater dengan judul ‘Mandi Angin’ dengan sutradara Syafril (Prel T) naskah Wisran Hadi. 

Selama rangkaian acara Festival Bumi juga ada stand penjualan buku novel ‘Generasi Ketujuh’ yang ditulis terakhir oleh Wisran Hadi sebelum meninggal dunia. 

Hiri ini, (Senin, 12/11), Diskusi Seni Rupa akan dilaksanakan di Galeri Taman Budaya pada pukul 13.00 WIB.  Dua pembicara akan tampil yaitu Nasbari Koto dan Amrizal Salayan. 

Malamnya, dua pementasan akan menjadi agenda Festival BUMI. Ranah PAC membawakan ‘Sandiwara Pekaba’ dan Teater Bel dari Bandung akan menampilkan ‘Penyair yang Terbunuh’. Acara dimulai pada pukul 20.00 WIB di Lantai 4 Gedung Dinas Kebudayaan Sumatra Barat.

(ril/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga