Salah Satu Masjid Tertua di Agam ini Merupakan Sejarah Peradaban Masyarakat Maninjau

Salah Satu Masjid Tertua di Agam ini Merupakan Sejarah Peradaban Masyarakat Maninjau Masjid Ummil Qura di Maninjau Agam (Foto: Covesia/ Johan)

Covesia.com - Selain memiliki potensi wisata alam dan kuliner, danau Maninjau, kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar)  juga menyimpan sejumlah peninggalan sejarah bagaimana perkembangan masyarakat dari waktu ke waktu. Ditepian danau, tepatnya di jorong Bancah, nagari Maninjau, terdapat bangunan masjid tua yang berdiri kokoh yang bernama Masjid Ummil Qura, dari papan nama yang terpasang di gerbang masjid terlihat bahwa masjid ini dibangun pada tahun 1907.

Tokoh masyarakat setempat Zal (45) mengatakan, nama Ummil Qura berasal dari bahasa Arab yang artinya Ibu Negeri  atau “Pusat Nagari/Desa”, karena masjid ini merupakan masjid tertua di nagari selingkaran danau Maninjau.

Seperti masjid tua di Minangkabau pada umumnya, selain tempat ibadah dan musyawarah, tradisi diranah Minang mewajibkan  anak laki-laki yang sudah beranjak akil baliq tidur di surau (di masjid) selain beribadah mereka di didik  untuk belajar agama, adat dan seni beladiri pencak silat, sebagai persiapan  untuk pergi merantau mencari pengalaman.

“Sebelum merantau para pemuda di salingka danau dididik berbagai ilmu, baik ilmu bela diri, ilmu agama adat dan keahlian lainnya, namun fungsi tersebut mulai terkikis seiring perkembangan zaman.“ lanjutnya.

Jika dilihat dari kontruksi bagunan, disain mesjid Ummil Qura tergolong unik, bagian dasar masjid  berbentuk segi empat yang di bagian teras luar terdapat  pilar dengan lubang melengkung di sepanjang sisi dindingnya.

Di halaman masjid terdapat kolam yang berisi ikan air tawar dari berbagai jenis dan ukuran. Desain atap masjid tersusun empat tingkat yang  tampak seperti pagoda. Di atasnya masih ada 2 tingkat lainnya yang berbentuk payung. Di ujung atap tersebut terdapat bulatan–bulatan seperti tusuk sate dengan hiasan berbentuk bulan sabit.

Untuk interior masjid terdapat  juga sembilan buah pilar yang menyangga atap dengan satu pilar yang berada di tengah–tengah ruangan. Bagian langit–langit terbuat dari susunan bulan papan yang ditata sangat rapi dan rapat, tanpa menyisakan lubang satu pun.

Tak kalah menarik, pada bagian didinding dalam masjid dihiasi dengan kaligrafi tulisan arab yang diambil dari surat Al Fatihah dan petikan Al Quran Surat Al Baqarah ayat 46 yang bila diartikan yaitu "Dan minta tolonglah kalian semua dengan melakukan sabar dan shalat, Sesungguhnya shalat adalah hal yang berat (untuk didirikan) kecuali atas orang–orang yang takut (terhadap Allah)".

Saat ini masjid yang berumur satu abad lebih itu masih digunakan sebagai mana mestinya yaitu sebagai tempat ibadah, belajar mengaji dan bermusyawarah oleh warga setempat dan saat ini sudah berstatus cagar budaya.

(han)

 


Berita Terkait

Baca Juga