Filosofi Tugu Patung Sikerei, Ikon Kultur Mentawai yang Berdiri di Tuapejat

Filosofi Tugu Patung Sikerei Ikon Kultur Mentawai yang Berdiri di Tuapejat Tugu Patung Sikerei sebagai ikon yang menjadi ciri khas kabupaten Mentawai (Foto: Covesia/ Septin Rahayu)

Covesia.com - Tuapejat sebagai sentral ibukota kabupaten Kepulauan Mentawai yang sering disinggahi pendatang lokal dan mancanegara, baik dalam rangka kunjungan kerja maupun berwisata, memiliki Tugu Patung Sikerei sebagai ikon yang menjadi ciri khas Mentawai.

Tugu Patung Sikerei ini diresmikan oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet dan Laksamana TNI Ade Supandi Kepala Staf Angkatan Laut di jalan raya Tuapejat Km.9, Kecamatan Sipora Utara pada 16 april 2016, silam.

"Pembangunan Tugu Patung Sikerei diprakarsai oleh Pemerhati  Budaya dari Pemerintah Daerah dan  Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pemda Mentawai bekerjasama dengan seniman, TNI, dan Bank Nagari dalam proses pembangunan Tugu Patung Sikerei,”ujar Matheus Samalinggai Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Disparpora Mentawai,  Minggu (16/9/2018).

Pada tugu tersebut tampak  Patung Sikerei berdiri di atas bola bumi yang juga berwarna coklat kehitaman yang menjadi cirikhas warna kulit masyarakat Mentawai yang termasuk bagian dari Benua Asia secara geografis. Bola bumi menggambarkan bahwa Mentawai terbagi atas empat pulau besar, yakni Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan.

Sikerei atau leluhur yang menjadi ciri khas kultur Mentawai ini, meyakini Arat Sabulungan yakni adanya kekuatan alam dan dedaunan. Sabulungan berarti kumpulan daun - daunan dimana dalam kehidupan Sikerei tidak terlepas dari daun - daun untuk mengadakan ritual hingga saat ini.

Oleh sebab itu Sikerei sebagai tabib sangat menghormati alam yang menjadi sumber untuk mengambil obat, seperti obat sakit kepala, sakit perut, hamil, kisei (tasapo), dan paham dengan dunia supranatural (roh dan magic).

Meskipun saat ini sudah zaman modern, namun masyarakat Mentawai masih meyakini adat Sabulungan tersebut. Dalam tatanannya, Sikerei dituakan selangkah dalam satu uma atau suku.

 Jika dilihat secara seksama, pada Patung Sikerei terdapat aksesoris yang mendeskripsikan Sikerei Mentawai. Pada kepalanya terdapat Luwat sejenis mahkota dari manik manik. Sementara di sebelah kanannya tampak Sikerei memegang parang dan di sebelah kiri menyandang panahan yang digunakan Sikerei untuk mencari mata pencaharian dengan berladang dan berburu di hutan. Seperti realita yang ada, Patung Sikerei mengenakan kabit / cawat yang hingga zaman modern ini masih dikenakan.

“Hal tersebut dapat ditemukan di daerah Siberut yang kehidupan budayanya masih melekat erat, seperti di wilayah Simatalu, sarereket, Matotonan, Madobag, Ugai, dan Rogdok. Sementara di wilayah Sipora dan Sikakap sudah tidak ada,” terang Matheus.

Kemudian tampak juga Tato yang menghiasi sekujur  Patung Sikerei. Artistik Tato tergantung pada status Sikerei yang menggambarkan filosofi kehidupannya. Jika Sikerei tersebut pernah berhasil berburu monyet, maka pada tubuhnya terdapat Tato berupa gambar monyet. Biasanya tato diberikan pada anak usia 13 tahun ke atas yang menandakan bahwa ia sudah dewasa dan bertanggung jawab dalam rumah tangga.

Penato tubuh Sikerei sendiri merupakan orang lain yang betul betul mahir dalam seni lukis secara manual dan menggunakan peralatan tradisional. Bahan dasar pembuatan tato Sikerei diambil dari  daun-daunan, air tebu dicampur arang dapur, kemudian diramu di dalam tempurung serta menggunakan jarum. Penato ini sendiri bisa ditemukan di daerah Buttui atau generasi muda yang mencintai seni tato. 

Zaman dahulu, sebagai upah dalam pembuatan tato Sikerei melalui sistem barter seperti memberikan ayam,  kuali, atau batang sagu. 

Kontributor Mentawai: Kornelia Septin Rahayu

Berita Terkait

Baca Juga