Di Sumbar, Manuskrip Muncul Setelah Terjadi Perbedaan Pandangan

Di Sumbar Manuskrip Muncul Setelah Terjadi Perbedaan Pandangan Ilustrasi Manuskrip kuno (Foto: Istimewa)

Covesia.com - Provinsi Sumatera Barat memiliki ribuan naskah atau manuskrip kuno yang telah berusia ribuan tahun, manuskrip tersebut kebanyakan ditulis menggunakan bahasa Arab dan Melayu.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, Nurmatias menyebutkan bahwa naskah-naskah masa lampau terdapat ribuan jumlahnya, bahkan sampai saat ini belum diketahui jumlahnya secara pasti.

"Naskah kuno di Sumbar banyak sekali, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar terus berupaya mengumpulkannya," ujar Nurmatias kepada covesia.com, Jumat (14/9/2018).

Kata Nurmatias, kebanyakan manuskrip kuno di Sumbar muncul setelah terjadi perbedaan pendapat atau pertentangan antar golongan masyarakat ketika itu, ia mencontohkan manuskrip tuanku Imam Bonjol yang menceritakan perjalanan melawan kaum adat hingga pengasingan yang dilakukan oleh Belanda terhadap Tuanku Imam Bonjol.

"Di Sumbar pengetahuan itu muncul setelah konflik terjadi, baik yang dilakukan oleh tokoh adat atau tokoh agama di masa silam, makanya naskah naskah kuno tersebut banyak dijumpai di daerah Pariaman, Agam, Limapuluh kota, Sawahlunto, Tanah Datar dan Solok Selatan," ujarnya.

"Ada naskah syekh Burhanuddin, Syekh Abdurrahman al Khalidi, tulisan syekh Khatib al Minangkabawi yang ditanggapi oleh Syekh Muhammad Sa'ad Mungka seorang guru besar Thariqat Naqsabandiyah di Mungka dan naskah-naskah yang ada di Calau," lanjutnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa untuk naskah Tuanku Imam Bonjol, Pemprov Sumbar akan mengupayakan naskah tersebut masuk kategori warisan dokumenter dunia atau Memory of the World (MoW) yang ditetapkan oleh UNESCO.

"Mudah mudahan setelah Tambang  Batu Bara Ombilin (TBBO) masuk kategori Warisan Budaya Dunia, naskah Imam Bonjol juga bisa masuk kategori Warisan Dokumenter Dunia," ujarnya.

(dil/don)

Berita Terkait

Baca Juga