'Kristalisasi Keringat' Para Calon Pemimpin

Kristalisasi Keringat Para Calon Pemimpin Ilustrasi (Pixaby)

Covesia.com - Jabatan, pengaruh, kewibawaan, "mantagi" kalau dalam bahasa Minangkabau memang "ditakdirkan" tidak memiliki korelasi dengan wajah dan postur. Apakah lagi yang namanya umur. Saya kebetulan menyukai membaca biografi orang-orang terkenal yang pernah dicatat sejarah. 

Cobalah lihat, Ho Chi Minh, yang biasa dipanggil dengan "Paman Ho", ia bermata sayu dan melihat posturnya, hanya satu yang akan terlintas dibenak kita; Ia kurang gizi. Tapi, Paman Ho mampu juga mempermalukan Amerika Serikat. Untuk membayar malunya ini, Amerika Serikat "terpaksa" memproduk film sejenis Rambo (bahkan berseri). 

Kebetulan waktu saya kecil, saya pernah disuguhi oleh majalah Tempo yang dibeli ayah saya, foto Paman Ho ini. Kesan saya kala itu hanya satu, ia mirip tukang pukat tetangga rumah saya. Paman Ho bisa jadi kepala negara. Mata sayu dan postur kurang gizi-nya itu, justru membuat ia (justru) menggetarkan rakyat Vietnam. Mantagi dan kharisma-nya luar biasa. Namanya diabadikan, Ho Chi Minh City.

Di sisi lain, Sukarno yang pancaran matanya yang bisa jadi binar sehingga sulit orang mengadu pandang, bisa juga jadi Presiden. Lalu, lihat John Fritzgerald Kennedy, Presiden Amerika Serikat paling muda dalam sejarah panjang Amerika Serikat, dengan sisiran rambut yang mengingatkan orang pada pemain band, yang wajahnya membuat Marlyn Monroe selalu mengirimkan bunga, juga bisa jadi Presiden.

Lalu bandingkan dengan Nikita Kruschev, musuh terdepan Kennedy ini memiliki tubuh tambun, bulat dan berkepala bundar. Ia yang pernah membuka dan memukul-mukul sepatunya dalam Sidang Umum PBB ini karena marah pada kebijakan politik luar negeri Kennedy, bisa menjadi orang masyhur. 

Kruschev yang menjadi pemimpin negara pertama mengucapkan belasungkawa dengan sesegukan atas meninggalnya Kennedy tersebut, dengan postur tubuh yang tak seganteng Kennedy, bisa menjadi Perdana Menteri Uni Sovyet paling cemerlang dan brillyan.

Lihatlah juga Pandit Javaharlal Nehru. Ayah Indira Gandhi dan kakek Rajiv Gandhi ini dikenal ganteng seperti Amitabh Bachan. Badan "founding father" Partai Kongres India ini semampai dan senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya. Sementara penggantinya Lal Bahadur Shastri, berperawakan mungil. Toh, mereka berdua juga sama-sama pernah meraih posisi Perdana Menteri India. 

Pandang pula "rangka" tubuh Gamal Abdel Nasser yang tinggi besar. Jari jemarinya besar seumpama pisang batu, toh digantikan oleh seorang keling yang bertubuh kecil dan setengah botak bernama Anwar Sadat. Gamal Abdel Nasser yang inspiratif serta Anwar Sadat ini, tercatat sebagai Presiden yang lama dan berpengaruh pada masa mereka.

Di China, ada Perdana Menteri ganteng, namanya Chou En-Lai. Alisnya tebal dan berair muka merah jambu. Kegantengannya tak bisa dikalahkan Chow Yun-Fat, Jeet Lee, Jacky Chen apa lagi Stephen Chow. Wajah Chou En-Lai memancarkan inteligensi tinggi. Namun penggantinya, Chen Yi, kebalikannya, bermuka China kebanyakan, bahkan sepintas lalu tampak seperti buruh angkat pelabuhan, sering memakai singlet dan suka angkat kaki di kursi. 

Konon, ia jarang mandi dan menyisir rambut. China pernah merasakan dipimpin oleh dua orang kontradiktif ini. Dan contoh ini akan semakin banyak, bila dirunut satu per satu.

Di Indonesia, lihatlah Abdurrahman Wahid. Tubuhnya gempal, berkaca mata tebal, bisa tidur dimana saja, bisa menjadi Ketua NU paling berpengaruh dan Presiden Indonesia. Memiliki kemampuan humor yang tinggi dan pribadi yang sulit ditebak. Terkesan enjoy.

Lalu, Habiebie nan mungil, bila bicara selalu panjang-lebar (sudah panjang, lebar lagi). Konon, karena cerdasnya, sehingga semua yang ada dalam file otaknya ingin keluar semua, demikian kata seorang sahabatnya. 

Bandingkan pula dengan SBY nan tinggi besar, postur militer tegap. Selalu menjaga penampilan, "pencitraan" istilah orang sekarang dan selalu ingin perfeksionis sehingga terkesan peragu dan banyak kalkulasi.

Napoleon Bonaparte itu pendek, Hirohito kurus dengan tatapan mata sayu, Mussolini gendut-tambun botak. Konon, Alexander Agung sang penguasa Macedonia memiliki tubuh atletis dengan dagu yang lancip, Jenderal Mc. Arthur dirindukan banyak orang pasca Perang Dunia ke-II karena kegagahannya dan Che Guevara sang petualang Marxis dari Cuba sangat macho.

Mereka semua berhasil bukan karena wajah dan postur. Tapi, karena yang disebut istilah Tukul Arwana, kristalisasi keringat.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga