Mencoba Memahami Konsep Islam Nusantara

Mencoba Memahami Konsep Islam Nusantara Ilustrasi (Istimewa)

Covesia.com - Islam Nusantara adalah Islam dengan kebudayaan Nusantara. Istilah Islam Nusantara sebenarnya adalah "derivasi" dari Islam Arab dan Islam non Arab. Islam Arab adalah Islam dengan kebudayaan Arab sedangkan Islam non Arab adalah Islam dengan kebudayaan non Arab. Keduanya sama-sama diakui oleh Islam. 

Karena, sudah menjadi sunnahnya bahwa manusia diciptakan oleh Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang tiap-tiapnya memiliki kebudayaannya sendiri. Nabi Muhammad SAW juga mengakui bahwa ada orang Arab dan ada non Arab. Beliau menyebut orang Arab sebagai ‘Arabiy dan non Arab sebagai 'ajamiy. Bahkan kata Nabi SAW, dalam pidatonya, “Wahai manusia, ingatlah, sesunguhnya Tuhanmu adalah satu, dan ayahmupun satu (Adam). Orang Arab tidak lebih utama dari orang Ajam (non-Arab), dan orang Ajam tidak lebih utama dari orang Arab. Tidaklah lebih mulia orang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, dan tidak lebih mulia orang yang berkulit merah atas orang yang berkulit hitam, kecuali karena taqwa.”H.R.Ahmad.

Jadi, adanya Islam dengan kebudayaan nusantara atau kebudayaan Arab tersebut disebabkan Islam itu turun atau masuk bukan ke ranah yang kosong dari kebudayaan. Dulu, waktu islam turun di Arab (Kota Makah), masyarakatnya memiliki kebudayaan Arab kuno atau Arab Pagan. Mereka dalam kacamata agama dikatakan sebagai Arab Jahiliyah. Mereka punya norma-norma hukum, punya sistem politik dan pemerintahan sendiri, meskipun dalam bentuk yang sangat sederhana, mereka punya agama yakni agama nenek moyang mereka, mereka punya sistem ekonomi, dan lain-lain yang merupakan bagian dari kebudayaan Arab itu sendiri. 

Ketika Nabi datang membawa ajaran Islam, tak semuanya kemudian diganti oleh Nabi dengan segala sesuatu yang sama sekali baru. Melainkan, yang sudah baik, tetap dibiarkan oleh Nabi hidup dan berkembang, yang jelek-jelek diberantas oleh Nabi. Hal ini, paralel dengan tugas kerasulan Muhammad, yakni untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak H.R. Bukhari.

Sebagai contoh adalah tentang sistem kewarisan. Sistem kewarisan yang berlaku dalam Islam dewasa ini, persis seperti yang berlaku di masyarakat Arab zaman sebelumnya. Hanya kemudian Nabi, sesuai dengan tugasnya untuk menyempurnakan atau memeperbaiki, disempurnakannya hukum kewarisan tersebut, antara lain, dengan membatalkan kewarisan anak angkat. Kemudian, anak-anak dan perempuan yang masa jahiliyah tidak diberi hak waris, oleh Nabi diberi hak untuk mewarisi. 

Begitu pula, sebab kewarisan karena sumpah setia, juga dibatalkan oleh Nabi SAW. Dalam masalah perkawinan juga begitu, masa jahiliyah banyak sekali bentuk-bentuk perkawinan yang berlaku. Lalu, Nabi memilih dan menetapkan salah satu bentuk perkawinan sebagaimana yang berlaku sekarang, misalnya mesti ada wali, saksi, ijab dan qabul, serta mahar. 

Dulu, orang Arab jahiliyah mempraktikkan perkawinan poligami tanpa batas, sama dengan yang berlaku di masyarakat Rumawi dan Persia ketika itu, Islam kemudian tetap membolehkannya, tetapi dengan membatasi menjadi empat saja. Selain itu, dulu ada jual beli dan juga riba. Islam kemudian hanya mengakui jual beli dan mengharamkan riba.

Cak Nur atau Nurchalis Madjid, tokoh cendekiawan muslim Indonesia (w.2005) berpendapat  Agama tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan. Keduanya hanya bisa dibedakan. Kemudian, menurutnya juga, Agama itu primer dan kebudayaan itu sekunder. 

Dengan kata lain, agama dalam keadaan bagaimana pun harus didahulukan. Kebudayaan yang tidak sesuai dengan Islam mestilah ditinggalkan. Sedangkan kebudayaan yang sesuai dengan Islam, dapat dipertahankan dan sekaligus menjadi kebudayaan Islami. Dari sini lah, orang kemudian mengenal kebudayaan Islam Nusantara. 

Sebagaimana Islam turun di Arab dan tidak serta merta memberantas kebudayaan Arab yang sudah ada sebelumnya, Islam masuk ke Nusantara juga demikian, tidak memberantas semua kebudayaan yang sudah ada di Nusantara. Artinya kebudayaan yang sudah berlaku di Nusantara, selama tidak bertentangan dengan agama Islam yang baru masuk, tetap berlaku. 

Pemberlakuan kebudayaan tersebut dalam ilmu sosiologi ada dalam bentuk akomudasi dan ada pula dalam bentuk akulturasi. Tetapi, harus pula diingat keduanya hanya berlaku dalam bidang mu'amalah, tidak dalam bidang aqidah ataupun ibadah mahdah. Karena dua bidang tersebut adalah pokok-pokok agama. 

Kalau ke ranah itu, kebudayaan dimasukkan, orang Islam akan terjerumus ke dalam apa yag biasa disebut sebagai TBC (Tahayul, Bid'ah, dan Khurafat). Sebagai contoh, adalah tentang ornamen Islam Nusantara, atau mungkin juga arsitektur masjid Nusantara. Semuanya itu adalah bagian dari kebudayaan Islam Nusantara. Itu sangat berbeda dengan apa yang ada di dunia Arab sana. 

Untuk Minangkabau, dalam masalah hukum waris misalanya. Sebelum  Islam masuk ke bumi Minangkabau, Minangkabau sudah memiliki hukum kewarisannya sendiri. Minangkabau yang mengenal sistem kekerabatan meterilinial atau keibuan, memiliki hukum waris dari niniak turun ke mamak, dari mamak turun ke kemenakan menurut garis ibu. 

Sistem ini, tampak bertentangan dengan Hukum kewarisan Islam yang menganut garis keibubapakkan atau bilateral/parental (sebagian berpendapat patrilinial atau kebapakan saja). Meski persoalan ini pernah menjadi konflik di Minangkabau, ahli agama dan ahli adat kemudian menemukan jalan tengah dengan tetap memberlakukan kewarisan Minangkabau tersebut, tetapi hanya untuk harta pusaka tinggi. Sedangkan untuk pusaka rendah yakni harta pencarian, berlaku faraidh. 

(lif)

Ismail Novel

Ismail Novel ( Dosen Pascasarjana IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga