Perancis Rasis

Perancis Rasis Ilustrasi

Covesia.com - "Nos encestres les Gaulois etaientt Blonds" Demikian yang sering dikatakan politisi Jean Marie Le Pen. Kira-kira artinya, "Nenek moyang kita adalah bangsa Gaulis yang berambut pirang".

Tahun 1996/1997, menjelang pemilu Perancis, istilah ini begitu populer. Le Pen seorang politisi. Sudah menjadi kelaziman, politisi membutuhkan isu-isu yang dengan isu tersebut, mereka bisa mengkapitalisasinya untuk kepentingan mereka sendiri. Seumpama Trump yang juga menggoreng "isu sejenis" ketika berhadapan dengan Hillary Clinton dalam kontestasi Pilpres AS, maka sinisme terhadap imigran adalah andalan Le Pen.

Ia menganggap para imigran tersebut tidak memiliki nasionalisme. Tidak cinta tanah air. Termasuk sinisnya kepada pemain Perancis yang dianggapnya menyanyikan lagu kebangsaan Perancis bukan dari hati. Imigran bagi Le Pen adalah pangkal bala permasalahan sosial dan seterusnyanya. Pokoknya, yang buruk-buruk, ia nisbatkan pada warga negara Perancis keturunan imigran tersebut. Le Pen kalah. Ia kemudian menghilang setelah Perancis menggondol Juara Dunia 1998 dan Juara Eropa 2000. Dagangannya merugi. 

Semua ini karena kontribusi besar para pemain Perancis keturunan imigran. Figur Zinedine Zidane (Zainuddin Zaidan), pemain andalan Prancis ketika itu, adalah keturunan imigran asal Aljazair. Lalu si tembok tegar bernama Lilian Thuram berasal dari Guadeloupe, sebuah daerah di Karibia yang merupakan wilayah koloni Prancis. 

Lalu siapa yang tidak kenal dengan Marcel Desailly yang memiliki darah Ghana serta Patrick Vieira keturunan Senegal. Lalu ada Trezeguet, Thierry Henry dan lainnya. Dengan dipimpin oleh pelatih Aime Jacquet dan Kapten Didier Deschamps, mereka membuat Perancis "terbang tinggi" dalam sepak bola dunia.

Le Pen, senyap.

Lalu, tahun 2012 - 2014 yang lalu, Le Pen muncul lagi. "Dna politiknya" tetap seperti dulu. "Nos encestres les Gaulois etaientt Blonds". Tapi publik Perancis tahu, Le Pen hanyalah politisi yang sebenarnya tidak mencintai negaranya. Ia hanya memanfaatkan isu sensitif ini hanya untuk kepentingan politiknya. Kepentingan instan. Jangka pendek. Parsial dan egoistik.

Dalam Piala Dunia 2018 di Rusia ini, kembali pemain Perancis keturunan imigran menunjukkan nasionalisme mereka. Di bawah pelatih Didier Deschamps yang dulunya sukses memimpijn kawan-kawannya tahun 1998 dan 2000, Kylian Mbappe pemain Perancis keturunan Kamerun dari ayahnya dan Aljazair milik sang ibu, bahu membahu bersama kawan-kawannya seperti Samuel Umtiti, Presnel Kimpembe, Benjamin Mendy, Lucas Hernandez, N'Golo Kante, Paul Pogba yang juga keturunan imigran membawa Perancis final Piala Dunia 2018. 

Tak kecil kemungkinan mereka akan membuat Didier Deschamp, sang pelatih, kembali memegang tropi Piala Dunia di dua posisi yang berbeda (Pemain-Kapten dan Pelatih) seperti yang pernah dialami oleh "der-Kaizer" Fransz Beckenbauer.

Lalu Le Pen?

Ia kalah (kembali) dalam kontestasi Pilpres Perancis beberapa tahun yang lalu. Saya yakin, Le Pen tidak akan muncul lagi. Jualannya tak pernah laku-laku. Perjalanan sejarah peradaban umat manusia tidak pernah ramah terhadap orang rasis.

Mengingat perjalanan Le Pen tahun 1996/1997 dan Le Pen 2012-2014 ini, saya kok jadi yakin Perancis akan juara.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga