Mengitari Danau Dengan Rakit, Tradisi Menyambut Idul Fitri di Maninjau

Mengitari Danau Dengan Rakit Tradisi Menyambut Idul Fitri di Maninjau Foto: Johan Utoyo

Covesia.com - Setiap daerah mempunyai cara tersendiri dalam menyambut hari Raya Idul Fitri. berbagai kegiatan dan lomba pun diadakan untuk merayakan hari kemenangan umat Islam. Salah satunya masyarakat, nagari Maninjau, kecamatan tanjung raya, kabupaten Agam, provinsi, Sumatera Barat (Sumbar).

Dalam menyambut hari kemenangan umat islam ini, masyarakat  setempat mengisi dengan  tradisi unik yaitunya mengitari danau Maninjau menggunakan rakit.

Rakit-rakit itu dihiasai berbagai rupa, ada yang berbentuk rumah adat Minangkabau, Kapal Pesiar, Jam Gadang bahkan menyerupai kubah mesjid dan ripercantik dengan hiasan Obor, meriam bambu, dan pernak-pernik lainnya.

Walijorong Kubu Baru, nagari Maninjau, Ferdian Mengatakan, Untuk membuat Rakit itu dibutuhkan Waktu lebih kurang 1 bulan, di awal Ramadhan, para pemuda, sudah mulai merencanakan Model rakit yang akan di buat serta menetapkan hari yang pas untuk gorong royong mencari bahan baku ke hutan.

"Bambu yang digunakan, dicari di pinggiran hutan, semua pemuda mengerjakannya secara gotong royong hingga selesai, sedangkan biaya dikumpulkan dari sumbangan masyarakat, Perantau dan pihak terkait lainnya," ujarnya saat menyaksikan tradisi Rakit, Kamis malam (14/6/2018).

Untuk malam 1 Syawal ini rakit yang berlayar sebanyak 5 unit, yaitu dari jorong Gasang, Pasa Maninjau, Kubu Baru, Bancah dan Kukuban.

5 rakit itu berkumpul di Kubu Baru karena terletak di tengah-tengah. saat menepi para pemain Tambua Tansa naik keatas Rakit, memainkan alat musik dan mengumandangkan takbir sesekali diselingi dentuman meriam bambu.

"Nantinya ke 5 rakit akan bertemu di mesjid Raya Maninjau, jorong Kubu Baru, barulah Rakit-rakit itu berlayar ketengah dan kembali merapat ke dermaga masing-masing," lanjutnya.

Untuk memeriahkan acara terkadang masyarakat pun memperlombakan Rakit tersebut, para pemuda berupaya membuat rakitnya paling bagus dan indah.

Dijelaskan Ferdian, dalam sejarahnya tradisi rakit itu merupakan ungkapan rasa syukur para pemuda yang kesehariannya belajar dan tidur di surau. Mereka bergotong royong membuat rakit dan pada malam 1 Syawal mengitari danau.

"Tradisi ini sudah diwarisi turun temurun, semenjak dari zaman penjajahan dulu, dan masih dilaksanakan hingga saat ini," terangnya.

Kesempatan yang sama Camat Tanjung Raya, Handria Asmi berharapan tradisi Rakit itu bisa terus dipertahankan, karena Kegiatan itu merupakan Warisan Kebudayaan sekaligus sebagai ajang silaturahmi masyarakat dan para perantau.

"Ini tradisi yang harus di pertahankan, kita berharap dalam kegiatan tetap menjaga keamanan dan ketertiban," harapnya.

(han/don)

Berita Terkait

Baca Juga