Tumbilotohe, Tradisi yang Biasa dilakukan Masyarakat Muslim Manado Jelang Lebaran

Tumbilotohe Tradisi yang Biasa dilakukan Masyarakat Muslim Manado Jelang Lebaran Ilustrasi

Covesia.com - Masyarakat Muslim Manado, melakukan tradisi malam pasang lampu atau "tumbilotohe" menjelang Hari Raya Idul Fitri 1439.

"Tradisi tumbilotohe dilakukan oleh Umat Islam, khususnya dari etnis Gorontalo dan Bolaang Mongondow dalam rangka menyambut Lailatur Qadar," kata Tokoh Muslim Manado, Amir Liputo di Manado, Selasa (12/6/2018).

Dia mengatakan, tumbilotohe, dimulai pada malam ke-27 Ramadhan, sampai malam takbiran, dimana Umat Islam akan memasang lampu dan diletakkan di depan rumah masing-masing, setelah Shalat Maghrib sampai jelang subuh.

Selain etnis Gorontalo, kata Liputo, tradisi malam pasang lampu juga dilakukan etnis Mongondow, dari Bolaang Mongondow dan menyebutnya Monontul.

"Tradisi ini sarat makna religi dan kearifan lokal, sehingga selalu dilakukan setiap tahun tiga hari menjelang Lebaran," katanya.

Di Manado, katanya, semua Muslim melaksanakan tradisi tumbolotohe atau monontul, karena memang yang paling diingat adalah makna religinya, sehingga warga tidak pernah melewatkanya.

Salah satu warga muslim Manado asal Tuminting, Nanang Naholo mengatakan melakukan tradisi tumbilotohe, dan lampu-lampu botol dengan minyak dan sumbu dipasang dan diletakkan depan rumah.

Dia mengatakan, lampu yang dipasang itu disesuaikan dengan jumlah penghuni rumah, karena di rumahnya ada ayah, ibu dan adiknya, maka ada empat yang dipasang.

"Jumlah lampu harus sama dengan orang yang tinggal di rumah, lalu diletakkan depan rumah, biasanya kami membuatnya seperti gerbang, memakai tebu kemudian ditambah dengan bunga-bunga di depan rumah, dan lampunya diletakkan di situ," katanya.

Suasana tumbilotohe di Manado, sangat ramai karena dilakukan di sebagian kota, sehingga lampu-lampu dengan cahaya indah dipasang, bahkan ada yang memperlombakannya sehingga membuat malam menjadi ramai.

(ant/sea)

Berita Terkait

Baca Juga