Senjata Kimia dan Damai di Suriah

Senjata Kimia dan Damai di Suriah Ilustrasi

Covesia.com - Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang Suriah kembali menghiasi berita-berita di media massa arus utama (mainstream) internasional. Setelah pembebasan Ghouta, isu tentang penggunaan senjata kimia muncul lagi setelah sempat redup.

Sebagaimana yang dilansir Anadolu Agency pada Selasa (10/4/2018), Dewan Keamanan (DK) PBB dilaporkan menggelar pertemuan darurat untuk membahas serangan senjata kimia terbaru yang terjadi di Suriah. Serangan itu diketahui telah menewaskan ratusan orang.

Pertemuan itu, sebagaiaman biasa, diusulkan oleh Amerika Serikat (AS). Walau dibantah oleh perwakilan Republik Arab Suriah di PBB, tapi Donald Trump yakin seyakin-yakinnya bahwa penggunaan senjata kimia memang terjadi di negeri yang koyak moyak oleh perang ini. Bahkan Amerika Serikat mengklaim mendapat dukungan dari beberapa negara, diantaranya Prancis, Kuwait, Belanda, Peru, Polandia, Swedia, Pantai Gading dan juga Inggris. 

Nikki Halley, Duta Besar AS di PBB menganggap penggunaan senjata kimia adalah sesuatu yang telah menjadi "terlalu umum" di Suriah. Bagi Halley/Trump, tujuannnya jelas, yaitu untuk melukai dan membunuh warga Suriah. Amerika Serikat tidak mengelaborasi lebih lanjut makna "terlalu umum" tersebut. "Terlalu umum" bagi siapa? Bagi pihak-pihak yang berseberangan dengan Bashar Al-Assad atau oleh siapa ?

Rakyat yang banyak terdampak itu apakah memang disengaja oleh pihak Assad atau lawan Assad (sebagai tameng). Saya jadi ingat diskusi dengan seorang kawan, beberapa bulan yang lalu, ketika isu penggunaan senjata kimia ini dimunculkan oleh Amerika Serikat saat Aleppo berhasil diduki oleh tentara Suriah (Assad).

"Donald Trump marah besar pada Suriah. Bermula sebab karena adanya (fakta) bahwa senjata kimia digunakan untuk menghantam pemberontak ISIS. Justru yang kena adalah rakyat biasa. Semoga Bashar Al-Assad runtuh oleh Trump," kata kawan saya ini.

Baru terasa beberapa purnama yang lalu, marah membuncah pada Trump. Sekarang berharap banyak pada ayah Ivanka Trump ini. Lucu saja!

Soal senjata kimia, saya tak punya pendapat banyak. Banyak tanggapan tentang hal ini. Menganggap itu sebuah kesalahan fatal rezim Suriah. Di sisi lain justru memandang sebuah konspirasi politik dan media. Wallahu a'lam.

Saya hanya ingat dengan film "13 Hours The Secret Soldiers Of Benghaz". Film ini bukan "sejenis" Rambo maupun film Chuck Norris. Menonton (edisi lengkap) film ini mengingatkan kita akan akhir tragis pemimpin Libya Muammar Qaddafi. Dengan teramat jelas, sebagaimana yang juga diposting di youtube, Qaddafi diseret beramai-ramai dari dalam got, wajah berdarah-darah. Mantagi Qaddafi seakan-akan hilang-lenyap, tinggal rasa kasihan teramat dalam bagi yang menontonnya, setidaknya bagi saya pribadi. 

Padahal Qaddafi selama ini dikenal sebagai pemimpin yang teramat disegani di Jazirah Arab. Ia menjadi "ayah" bagi komunitas muslim minoritas di berbagai belahan dunia. Libya di tanganya cukup makmur. Qaddafi lunglai ketika diarak beramai-ramai, diludahi, dihantam, ditendang. Terakhir, tubuh penuh darah itu roboh ditembak.

Lalu, tahukah apa yang terjadi pada fase berikutnya? Dubes Amerika Serikat, J Christopher Steven kemudian berpidato "Kemenangan ini adalah, kemenangan rakyat. Kematian Qaddafi akan membawa kedamaian dan ketemtraman buat rakyat Libya". Mimpi dan janji itu, tak terwujud. Libya akhirnya terseret kedalam perang sipil tak berkeruncingan hingga hari ini. Yang paling beruntung adalah para "kapitalis" yang mulai berhitung untuk membagi konsesi minyak.

Saya juga ingat dengan George Walker Bush atau Bush Junior. Dengan teramat lantang ia mengatakan bahwa Saddam Husein menyimpan senjata kimia dalam jumlah yang teramat besar. Kemudian operasi militer dilaksanakan. Opini dibentuk. Saddam terjungkal dengan teramat memiriskan. Irak porak poranda. Tiang gantungan mengakhiri hidup ayah Uday Saddam ini. Senjata kimia tak ditemukan. Konsensi minyak pun dibagi-bagi. 

Bush Junior tertawa riang. Walau pada akhirnya, ia dilempar "sepatu" oleh salah seorang jurnalis Irak sambil mengatakan, "anda pembohong".

Peristiwa sejarah itu hanya terjadi satu kali (einmalig : istilahnya). Tapi, pola-nya akan tetap berlangsung. "Sejarah terus berulang" (historia repette). 

Dalam teori perilaku sosial, diasumsikan bahwa perilaku dalam bentuk pola yang sama, apabila hasilnya menguntungkan, akan dilakukan secara berulang-ulang. Jangankan manusia, binatang pun akan melakukannya secara berkelanjutan bila keuntungan didapatkannya.

Salam damai untuk rakyat suriah.

(lif)

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga