Mengutuk Israel dari Pinggiran

Mengutuk Israel dari Pinggiran Ilustrasi

Covesia.com - Sejak kecil, sekitar tahun 1980-an ketika saya masih membolak-balik beberapa majalah milik almarhum ayahanda, selalu yang paling saya sukai adalah membaca catatan seorang wartawan freelance, Nasir Tamara, serta Lukman Harun, tokoh Muhammadiyah sekaligus wartawan Panjimas.

Catatan dari wartawan-wartawan ini tentang konflik di Timur Tengah (kelak : Lukman Harun menerbitkan catatan perjalanannya tersebut ke dalam bentuk buku; Potret Dunia Islam.

Satu yang masih saya ingat adalah  Organisasi Konfrensi Islam (OKI) selalu mengeluarkan pernyataan resmi 'mengutuk Israel'. Mengutuk itu pun berlangsung hingga hari ini. Termasuk ketika Israel akan menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka.

Kita mengutuk dari daerah "pinggiran", sementara mereka yang berada di daerah "pusat" (negara-negara berpengaruh di Timur Tengah) hanya menganggap rekomendasi kutukan itu sebagai angin lalu. Istilah kampung saya, yang berada "dibawah ketiak" tak bersuara nyaring.

Ini kembali memperkuat asumsi, Palestina sebenarnya tidak diinginkan oleh negara-negara Timur Tengah menjadi sebuah negara berdaulat/merdeka. Bila keinginan itu ada, niscaya sejak dulu Palestina sudah berdiri tegak kokoh. Dalam bahasa lain, isu Palestina menjadi isu "seksi" bagi politik regional maupun global.

Bila kalangan Maois (Mao Tse Tung) percaya bahwa perubahan revolusioner itu berangkat dari kepungan daerah "pinggiran" terhadap "pusat" (desa mengepung kota), maka saya lebih percaya pendapat sejarawan klasik, Immanuel Wallerstein tentang analisis "Phery-Phery (pinggiran) vs Centre (pusat)" yang melihat perubahan akan signifikan bila dilakukan oleh daerah-daerah "Centre".

(lif)


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga