Cadar

Cadar Itimewa

Covesia.com - Cukup banyak yang bertanya; bagaimana pendapatmu bila ada mahasiswi yang bercadar, apakah kamu larang ? Pertama, saya seorang guru di sebuah Perguruan Tinggi Islam. Tentunya warga kampus saya tersebut terikat dengan aturan dan tata tertib berpakaian. Saya punya mahasiswi yang bercadar. Selagi belum ada aturan yang ditetapkan oleh kampus tempat saya mengajar, saya yakin bila nantinya telah ditetapkan aturan yang tentunya sudah difikirkan secara matang, maka saya tidak akan melarang mahasiswi saya menggunakan cadar. Bila saya melarang, berarti saya diskriminatif. Kecuali aturannya sudah ada.

Kedua, ada yang beranggapan bahwa larangan bercadar sama dengan larangan pakai kaos dan celana sobek ataupun pakai sandal jepit ketika kuliah. Bagi saya, perumpamaan ini tidak pas. Kaos dan sandal jepit lebih kepada aspek kepantasan. Sedangkan cadar, apakah digunakan juga alasan kepantasan?

Ketiga, saya setuju bila alasan dilarangnya cadar di kampus lebih didasarkan kepada aspek "kepastian identitas". Pengalam empirik, saya harus memastikan identitas mahasiswa yang saya hadapi, baik di lokal maupun di areal kampus. Baik ketika kuliah maupun ketika berdiskusi. Kepastian itu saya dapatkan dari "wajah" nya. Saya tak punya kemampuan telepati untuk menentukan seseorang hanya dari suaranya. Tapi, saya tidak setuju bila dilarangnya cadar tersebut karena faktor ideologis. Cadar diidentikkan dengan gejala radikalisme. Alasan yang tak tepat. Apakah bercadar identik dengan radikalisme ? Untuk menjawabnnya, maka bisa saja kita ajukan pertanyaan, apakah berkopiah identik dengan keshalehan? Karena itu, saya lebih mendukung alasan yang rasional, bukan distortif apriori.

Keempat, bagi saya cadar tersebut lebih kepada budaya. Sejarawan Islam yang dianggap banyak pihak sangat otoritatif di bidangnya, Isma'il Raji Al-Faruqi pernah menjelaskan tentang sejarah cadar ini. Walau tidak elaboratif detail, dalam bukunya yang sudah dianggap monumental dan klasik, "Atlas Budaya Islam". Faruqi mengatakan cadar atau burqa' dan sejenisnya, sudah digunakan di jazirah Arab, sebelum Islam lahir. Bahkan hingga kini, penggunannya pun juga ditemui di komunitas Kristiani Arab. Pertimbangan geografis dan kultural lebih utama. Karena Islam hadir sebagai entitas agama di sebuah komunitas yang telah memiliki nilai-nilai budaya sendiri, maka tidaklah mengherankan apabila nilai-nilai itu tetap ada. Bahkan sulit dipisahkan. Sulit untuk dibedakan. Islam tidak hadir di "ruang kosong". Tapi hadir di tempat yang telah memiliki "nilai-nilai" sendiri yaitu nilai historis dan kultural jazirah Arab.

Jika ada yang bertanya kepada saya, kalau anak gadismu, bagaimana? Pernah bertanya tentang hal ini? Pernah. Bahkan saya katakan tutup aurat. Walaupun ada yang menganggap defenisi aurat tersebut debatable, saya tetap menghormati pendapat itu. Tapi bagi saya, anak gadis saya, harus berjilbab bila keluar rumah. Jilbab yang pantas. Itu sudah cukup.

"Cukupkah seperti itu? Bukankah seorang perempuan harus menundukkan wajahnya bila berjalan. Intinya, wajahnya tertutup terlindungi. Dengan menggunakan cadar, kan lebih efektif?

Pertama, bagi saya defenisi menundukkan wajah itu bukan hanya untuk perempuan, tapi juga untuk laki-laki.

Kedua, defenisi menundukkan wajah itu lebih kepada hati. Menundukkan hati. Berjalan di muka bumi ini janganlah sombong.

Karena itu, saya pesankan kepada anak-anak gadis saya termasuk kepada para mahasiswi saya, tundukkan hati kalian, perlihatkan muka dan lihat orang yang ada di depan samping belakang kalian. Kemudian sapa, "abang, kakak, adik, om dan seterusnya. Jangan lupa senyum. Senyum itu sunnah Rasul.

Bukankah senyum itu nanti dianggap genit? Menyapa orang dan senyum itu harus dilakukan. Tapi dengan wajar dan patut. Ukuran senyum itu tak semuanya harus dikuantitatifkan. Kita pernah memesan teh panas dan teh es di sebuah kedai minuman. Pernahkah si pemilik kedai minuman itu bertanya, berapa derjat celcius panas atau dinginya air teh ini? Itu saja, Wallahu a'lam.


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga