Ahli Temukan Bahasa Daerah Baru di Malaysia

Ahli Temukan Bahasa Daerah Baru di Malaysia pixabay

Covesia.com - Bahasa daerah yang baru ditemukan di Malaysia mencerminkan cara hidup ketika pria dan perempuan mendapatkan kesetaraan cukup besar dan hanya ada sedikit perselisihan, menurut penemuan peneliti pada Rabu (14/02), mendorong para aktivis untuk menuntut perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat suku.

Ahli bahasa menemukan Jedek, yang hanya dipakai oleh 280 orang, selama proyek yang menuntut mereka untuk pergi ke desa terpencil guna mengumpulkan data dari beberapa kelompok yang berbeda di negara bagian utara, Kelantan.

Tim dari Lund University Swedia sedang meneliti bahasa Jahai yang sebelumnya sudah diketahui di desa terpencil yang dikelilingi oleh hutan – tempat orang-orang tinggal di rumah panggung yang terbuat dari kayu – ketika mereka menyadari beberapa orang berbicara dengan sedikit berbeda.

Niclas Burenhult, yang merupakan salah satu peneliti, mengatakan bahwa beberapa antropolog telah mempelajari komunitas pemburu yang sama sebelumnya, tetapi beberapa ahli bahasa menanyakan beberapa pertanyaan berbeda, yang menyebabkan mereka menemukan bahasa baru itu.

Bahasa Jedek mencerminkan cara hidup tempat orang-orang mendapatkan kesetaraan yang lebih besar antara pria dan perempuan dibandingkan dengan mereka yang hidup di negara Barat, hampir tidak ada aksi kekerasan dan anak-anak didorong untuk tidak bersaing, menurut Lund University.

“Tidak ada kata asli untuk mendeskripsikan profesi atau untuk pengadilan hukum, dan tidak ada kata kerja asli untuk mewakili kata kepemilikan seperti meminjam, mencuri, membeli atau menjual,” kata universitas tersebut dalam sebuah pernyataan.

Namun, mereka menambahkan bahwa ada “kosa kata yang sangat banyak untuk mendeskripsikan pertukaran atau berbagi.”

Colin Nicholas – dari Center for Orang Asli Concerns, yang membela hak masyarakat suku Malaysia – mengatakan dirinya berharap penemuan itu akan meyakinkan pihak berwenang untuk berbuat lebih banyak guna melindungi cara hidup masyarakat suku kuno.

(ant/adi)

Berita Terkait

Baca Juga