Buya Syafi'i Ma'arif, Ulama dan Bukan Ulama dalam Perspektif Kita

Buya Syafii Maarif Ulama dan Bukan Ulama dalam Perspektif Kita Syafi'i Ma'arif/ Foto: Antara

Covesia.com – Sejak beberapa hari terakhir, ada sejumlah umpatan dan sinisme yang dialamatkan kepada Buya Syafii Maarif. Banyak juga ungkapan apresiasi.

Malam lalu, beberapa sahabat, mengirimkan tulisan ringkas plus video di inbox saya. Seperti biasa, menyudutkan Buya. Memanggil buya dengan tambahan huruf. Panggilan yang tak elok. Kemudian menutupnya dengan kalimat, "Kamu harus tahu, ia bukan ulama. Bukan tokoh agama! "

Pertama, defenisi kita beda tentang ulama. Sejak saya mahasiswa, saya punya pemahaman siapa itu ulama dan siapa (sebenarnya) politisi.

Kedua, lebih dari setahun yang lalu, saya pernah menulis artikel tentang Buya Syafii Maarief. Saya publikasikan di tengah suasana yang panas. Tulisan tersebut banyak dikomentari. Bahkan dishare hingga 1.349 kali. Saya catat. Ada kebahagiaan rasanya. Saya ingin melihat kehadiran Buya asal Sumpur Kudus Sumatera Barat ini dari sisi saya. Tak adil hanya menilai saat ini, ketika ia menentukan sikap yang dianggap "berbeda".

Sejak dulu saya mengikuti pemikiran Buya. Buku-bukunya saya baca. Artikelnya saya kliping. Riwayat hidupnya sering saya dengar dari orang lain. Lalu beberapa diantara dari sahabat tersayang saya "menilai" Buya. Penilaian kini. Dengan melampirkan berita-berita tendensius. Buya dihantam. Disinisi. Dikatakan "bu*ya". Tak sedikitpun pantas menyandang gelar Buya. "Tak terkaha" saya membaca umpatan-umpatan vulgar yang dialamatkan kepada mantan Ketua Muhammadiyah ini.

Jujur, kadang mata saya sabak.

Termasuk malam itu.

Entah mengapa.

Mungkin beliau yang kehidupannya teramat sederhana ini, bukan ulama. Ulama itu mungkin hanyalah si anu, si anu dan si anu. Bahkan dengan sinis seseorang pernah berkata, "Buya itu bukan ulama. Ia sejarawan. Tamatan Amerika. Walaupun SMP dan SMA-nya tamatan Muhammadiyah".

Jadi ulama itu harus tamatan Timur Tengah .... gitu? Kalau tamatan Barat, bukan ulama? Padahal guru-guru saya waktu kuliah dulu selalu bilang, "Barat dan Timur milik Allah. Ilmu yang berada disana juga milik Allah".

Lalu, saya pernah menulis tentang Qureish Shihab. Tamatan Timur Tengah. Pakar tafsir yang keilmuannya hampir dipastikan, Insya Allah, tak bisa ditandingi oleh ulama si anu, si anu dan si anu. Tapi tetap dihantam. Disinisi. Dikuliti. "Dipisangi". Dikatakan Syi'ah. Dianggap bukan ayah yang baik karena tak mampu membuat anaknya Najwa Shihab, berjilbab.

Lalu, Gus Mus, Azyumardi Azra, Said Agil Siradj, Komaruddin Hidayat dan seterusnya. "Bukankah mereka ini juga ulama?".

"Mereka bukan ulama!" Kata anda.

Ya sudah. Ketemu, kan ?

Ulama bagi anda tak sama dengan ulama bagi saya. Lantas mengapa anda memaksa saya harus sama dalam mendefenisikan sesuatu.

Terakhir, saya kutip joke seorang kawan :

"Alun luruih kajamban kito, Ahmad Syafii Ma'arief alah dipanggia Buya!"

(Belum lurus kencing kita, Ahmad Syafii Ma'arie sudah dipanggil Buya!”

Wallahu a'lam

Salam damai

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga