Perspektif SARA dan Trauma Sejarah Masyarakat Kita

Perspektif SARA dan Trauma Sejarah Masyarakat Kita Ilustrasi

Covesia.com - Sejak kecil, saya teramat suka menghafal nama-nama pengusaha China Indonesia. Sebagaimana halnya dengan nama-nama pemimpin-pemimpin besar dunia. Semua itu saya dapatkan dari majalah Tempo dan Panji Masyarakat (Panjimas) serta majalah Suara Muhammadiyah yang dilanggani ayah saya sejak tahun 1980. Majalah yang datangnya selalu telat. Paling cepat 1 minggu dari tanggal terbitnya. 

Maklum, Air Bangis, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat kampung saya masa itu masih berada dalam kategori kampung terisolir. Listrik saja masuk tahun 1984. Itupun listrik diesel di dua masjid besar yang kemudian di bagi ke beberapa rumah hanya untuk dua atau tiga buah lampu. Rentang hidupnya hanya jelang maghrib. Pukul 10 malam, Air Bangis kembali gelap gulita. 

Pada masa-masa inilah saya yang telah mulai sekolah di Sekolah Dasar, sering melihat foto-foto pengusaha Indonesia yang berasal dari etnik China/Tionghoa. Ada William Soerjawidjaja, bosnya Astra, Prajogo Pangestu, bosnya kertas/pulp, Eka Tjipta Widjaja “siraja minyak goreng”, Bos Lippo Mocthar Riyadi, Keluarga Sampoerna, Syofyan Wanandi (aktivis 66 : adiknya bos “think thank” Orde Baru CSIS, Jusuf Wanandi), The Kian Seng alias Mohammad Bob Hassan (mantan Menteri Perdagangan dan Perindustrian era Soeharto) dan yang paling populer, Om Liem alias Soedoeno Salim atau Liem Shie Liong.

Saya sering bertanya pada ayah, “siapakah mereka ?”. Almarhum ayah selalu menjawab, “pengusaha Indonesia etnik China, kesayangan Soeharto. Mereka orang kaya. Soeharto butuh mereka. Jawaban yang cukup bagi saya. Dengan jawaban seperti itu, saya hanya berfikir bahwa pantas mereka sering berfoto dengan Presiden Soeharto. Pantas mereka sering diliput media massa. Maklum, sahabat baik Presiden. Itu saja. Saya tak punya kemampuan untuk menganalisis lebih lanjut.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bagaimana seorang penguasa senantiasa berkepentingan terhadap pengusaha. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kasus-kasus interaksi politik, selalu berbau “fulus” (pengusaha). Terdapat hubungan simbiosis mutualisme. Hubungan saling menguntungkan. Buku Ong Ho Kham, “Anti China, Kapitalisme China dan Gerakan China” yang diterbitkan (ulang) oleh Komunitas Bambu Yogyakarta serta buku klasik “Tionghoa dalam Pusaran Politik” karangan Benny G. Setiono. Buku ini saya beli tahun 1996 di pasar loak dengan menteng Jakarta, kalau tak salah, menjelaskan dengan baik hubungan simbiosis mutualisme ini dari aspek kausalitas historis.

Jadi tidaklah mengherankan, dalam konteks Orde Baru, untuk memastikan seluruh mesin politiknya yang membutuhkan biaya besar bisa bergerak sebagaimana mestinya, Soeharto berkepentingan untuk menjaga hubungan baik dengan para pengusaha (etnis China) ini. 

Dalam sebuah wawancara di salah satu majalah (saya lupa nama majalahnya), pengusaha Sofjan Wanandi, mengatakan bahwa sebelum Pemilu dimulai, Soeharto akan memanggil pengusaha-pengusaha etnis China tersebut dan meminta dana dari mereka. Biasanya, Om Liem ditunjuk sebagai “yang dituakan” untuk mengumpulkan dana.

Ia memberikan konsesi dan keistimewaan-keistimewaan, sebagaimana yang diakui oleh Om Liem dalam bukunya “Liem Sioe Liong’s Salim Group: The Business Pillar of Suharto’s Indonesia”. Saya tidak pernah membaca buku ini secara utuh. Saya hanya membaca resensi serta kritik bukunya di beberapa media beberapa tahun lalu. 

Dalam buku ini, Om Liem mengakui bahwa apa yang diberikannya selama ini buat Soeharto adalah bentuk “balas budi”. Bahkan, balas budi tersebut bukan hanya kepada mesin politik yang mendukung agar stabilitas politik orde baru berjalan sebagaimana yang diharapkan Soeharto, Liem bahkan memberikan sebagian saham di beberapa perusahaannya kepada keluarga Soeharto. Untuk anak tertua Soeharto, Mbak Tutut alias Siti Hardijanti Indra Rukmana dan Sigit Harjojudanto diberi saham “duduk tanpa kerja” di Bank Central Asia (BCA).

Sepupu Soeharto, Sudwikatmono, termasuk kroni-kroninya, juga kaya mendadak akibat manisnya hubungan Soeharto dengan pengusaha China. Bacalah buku karangan Richard Robinson, “Soeharto dan Bangkitnya Kapitalisme di Indonesia”. Tentakelnya akan terlihat dengan nyata. Bahkan, besan Soeharto Soemitro Djojohadikusumo (ayahnya Prabowo Subianto) dianggap sebagai salah satu ekonom yang meletakkan dasar mesranya hubungan Soeharto dengan pengusaha-pengusaha etnik China ini. Walaupun belakangan, pak Mitro mengkritisi gaya politik Soeharto yang berujung pada tidak harmonisnya hubungan diantara dua besan ini. 

Bila dirunut sejak kolonial Belanda hingga Orde Baru, tulisan tentang etnik China ini bisa panjang. Namun yang pasti, sebagaimanan yang dikatakan oleh Ben Anderson, bila dibandingkan dengan etnis China di beberapa negara di Asia Tenggara, maka keberadaannya di Indonesia, sungguh tidak mengenakkan. Sejarah mereka direkonstruksi sejak zaman Belanda sebagai “warga di atas pribumi”.

Belanda membagi tiga stratifikasi secara umum yaitu : warga Eropa, warga China Pribumi. Pembagian ini memunculkan dendam historis. Etnik China dianggap sebagai warga diatas pribumi, warga binaan penjajah Belanda, tidak pernah merasakan duka derita dijajah dan seterusnya. Hal ini kemudian berlanjut, ketika pengusaha-pengusaha etnik China dimanfaatkan sebagai “mesin uang” rezim penguasa. Sehingga tidaklah mengherankan, apabila ketika Indonesia baru merdeka, gerakan anti China mulai berkecambah. Nasionalisme mereka dipertanyakan. Semua ini karena imbas politik penjajah Belanda.

Lalu ketika Soekarno runtuh, Soeharto naik, etnis China dicurigai sebagai antek komunis, pendukung setia Soekarno dan seterusnya. Beberapa kebijakan politik yang semua kita sudah mafhum diterapkan khusus bagi mereka dari etnik China. Tapi lucunya, Soeharto justru memanfaatkan pengusaha-pengusaha etnik China sebagaimana yang saya deskripsikan di atas, sebagai sumber pendanaan politiknya. 

Maka, ketika Soeharto lengser, ketidaksukaan pada suami ibu Tien ini yang berkecambah, juga terimbas secara nyata dan “kental” kepada etnik China. Dalam bab II buku Perry diatas, dikisahkan bagaimana kebencian itu terejawantahkan dalam kekacauan di Jakarta menjelang kejatuhan Soeharto. Korban bukan para pengusaha etnik China yang dimanfaatkan oleh Soeharto tersebut, tapi saudara-saudara kita etnik China yang seperti kita. Pedagang kecil, ibu rumah tangga, pemulung, dan sebagainya. Mereka terkena imbas. Mereka tetap tidak dianggap sebagai saudara. Mereka etnik China. Etniknya Liem Shie Liong, pengusaha kesayangan Soeharto.

Lalu kini, perbincangan tentang etnik China mulai kembali “dihangat-hangat”. Sebagaimana halnya ketika Republik ini terbentuk, nasionalisme mereka kembali dipertanyakan. Mereka tetap tidak dianggap bukan orang Indonesia. Bahkan dalam sebuah siaran di youtube, Sri Bintang Pamungkas dengan berani mengatakan, “etnik China yang masuk Islam pun, itu pura-pura”. Sebuah pernyataan yang secara eksplisit mengatakan bahwa perubahan identitas kepada identitas mayoritas sekalipun, nasionalisme etnik China tetap diragui.

Saya sering dikirimi tautan-tautan tentang berita mengenai “tenaga kerja illegal” dari China daratan. Tertangkap. Kemudian diproses secara hukum. Dipulangkan ke negaranya. Kemudian jadi komoditas politik. “Ini bukti, orang Cina menjajah kita!”, kata seorang kawan. Saya hanya tersenyum. Tak mengiyakan, tidak pula membantah. Saya hanya ingat bagaimana ribuan tenaga kerja illegal Indonesia di Malaysia, tertangkap, bahkan ada yang diputihkan, tidak menjadi isu politik menggemparkan bagi etnik China Malaysia. Saya sering menonton di youtube tentang kisah-kisah Tenaga Kerja Indonesia yang jumlahnya ribuan, bahkan puluhan ribu, di daratan China, di Hongkong dan Singapura. Mereka bekerja di sana. Sampai hari ini.

Saya tidak tahu, apakah ada demonstrasi warga China (maksud saya RRC dan Hongkong) atas kehadiran ribuan tenaga kerja Indonesia ini. Kadang-kadang, saya mengkritisi diri saya sendiri. Tajam sebelah. Orang lain tak boleh datang ke sawah kita, sementara kita harus boleh mengunjungi sawah orang lain. 

Dulu, ketika kasus Ambalat sedang hangat-hangatnya (2005), saya dimarahi beberapa orang kawan karena tidak ikut menjelek-jelekkan Malaysia. “Kalau salah ya, saya bilang salah. Tapi kalau ngajak perang dan menyuruh TKI Indonesia pulang dari Malaysia, memangnya TKI itu mau pulang. Yang saya takutkan justru mereka lebih mencintai Malaysia dibandingkan Indonesia. Maklum, Malaysia memberikan mereka "kebahagiaan”.

Point yang ingin saya sampaikan dari tulisan “tak beraturan” di atas adalah kebencian atas nama suku, atas nama agama, justru akan meninggalkan trauma sejarah yang amat luar biasa. Butuh sekian generasi untuk merekatnya kembali. Kita tidak bisa bayangkan, bagaimana anggapan anak-anak suku Dayak di Kalimantan sekarang ini terhadap anak-anak Madura. Padahal, semua itu dikonstruksikan yang kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk kepentingan mereka. 

Banyak anak-anak Indonesia keturunan China yang tidak optimis menghadapi masa depan mereka di Indonesia. Sejak kecil di kampung hingga sekarang, saya cukup sering berinteraksi dengan saudara-saudara dari etnik China, baik yang non muslim maupun muslim. Rasa tidak optimisme tersebut terlihat dari reaksi mereka. Bagaimana kami mencintai Indonesia, bila sejarah kami dicurigai. Ibarat penggalan puisi Kuntowijoyo :kalian marahi, tapi tak kalian pupuk.

Ada China yang jelek, sebagaimana juga berlaku pula pada etnik yang lain. Banyak saudara-saudara kita etnik China yang baik, sebagaimana yang juga di etnik yang lain. Ada etnik China yang koruptor sebagaimana yang lain pula. Tidak semua orang Madura jelek sebagaimana yang dipandang oleh orang Dayak dalam kacamata Buku Perry di atas dan sebaliknya.

Tapi sudahlah. Kita semuanya cinta Indonesia. Bukan membenci negara sendiri, menaikkan-naikkan negara lain. Dalam setiap konflik sosial, akan selalu ada pihak-pihak yang memanfaatkannya. 

Bukan salah bunda mengandung. Tak ada yang mau dilahirkan sebagai mata sipit, rambut keriting ataupun kulit sawo matang. Semuanya karena takdir Allah SWT.

Kalau saya boleh memilih, saya ingin dilahirkan (mohon maaf) dari rahim istri Sri Sultan Hassanal Bolkiah Mu’azziddin Waddaulah (Sultan Brunei). Atau punya ayah bernama Kareem Abdul Jabbar, pebasket muslim terkenal era 80-an. Kalau itu yang berlaku, maka Facebook ini akan saya beli. Biar Mark Zuckenberg terperangah. Tapi sayang, ayah saya hanya punya perusahaan mesin jahit kelas kampung yang “megap-megap”, sesuai dengan namanya MELARAT Tailor. Ya, jadilah seperti ini.

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga