Ariel Sharon

Ariel Sharon

Pada pertengahan bulan Januari 4 tahun lalu, salah seorang elit politik Israel, menemui ajalnya. Namanya selalu diperbincangkan publik dalam beberapa dekade. Bahkan hingga kini. Tentang tangannya yang "berdarah". Ia bernama Ariel Sharon. Delapan tahun koma. Setelah itu, ia pun "pergi".

Mantan Perdana Menteri Israel yang digelari "Tukang jagal dari Beirut" ini mengingatkan dunia pada tragedi pembantaian Qibya tanggal pada bulan Oktober 1953. Hampir seratus orang Palestina tewas oleh Unit 101 yang dipimpinnya.

Selanjutnya, bersama dengan Menachen Begin, Sharon melakukan pembantaian Sabra dan Shatila di Libanon. Pembantaian yang mengharu berita pemberitaan dunia internasional di tahun 1982. Ribuan jiwa terbunuh.

Lalu, Begin (bersama-sama dengan Anwar Sadat dan Jimmy Carter dihadiahi Nobel Perdamaian). Sementara itu, jalan hidup Moammar Qaddafi teramat berbeda dengan "mentornya" Gamal Abdel Nasser. Nasser "pergi" akibat sakit setelah peperangan (perang Arab-Israel) usai pada 28 September 1970, sementara Sang Kolonel "terbang" akibat laras senapan rakyatnya sendiri.

Tapi ada satu pertanyaan yang mengemuka: Mengapa Nicholas Sarkozy, ketika menjadi Perdana Menteri Perancis, yang berhidung mancung-melengkung itu mengatakan bahwa Qhaddafi tidak layak pimpin rakyat Libya? Sementara, sebelumnya Sarkozy adalah sohib akrab Qhaddafi bahkan si Moammar ini menjadi penyandang dana terbesar kala Sarkozy ikut Pilkada-nya Perancis?

Terlepas salah benar-nya Khaddafi, sudah sepantasnya dunia "memperkatakan" bahwa begitu berbedanya perlakuan barat pada Khaddafi dibandingkan dengan Ariel Sharon.

Teringat kembali dengan dialog antara seorang Nelayan kecil dengan Alexander Agung. Alexander the Great putra Philipus penguasa Macedonia ini "menilang" seorang nelayan karena menangkap ikan di wilayahnya. Dengan teramat ketus, si Nelayan tadi berkata pada murid Aristoteles ini: "saya mengambil ikan di tempat saya, anda bilang saya pencuri, sementara anda mencaplok wilayah orang lain, anda dianggap pahlawan.

Tajam sebelah!

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga