Pilkada dan Pemilih Milenial

Pilkada dan Pemilih Milenial Ilustrasi

Covesia.com - Pertarungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak sudah di depan mata. Pasangan calon kepala daerah sudah bermunculan dengan partai politik (parpol) pendukungnya, ada juga yang memilih jalur perseorangan.

Pilkada tersebut tidak bisa dilepaskan dari pemilih milenial. Pemilih yang sikapnya cuek bebek alias tidak terlalu mempedulikan soal politik. Akan tetapi ketika calon itu sudah melekat di hatinya(gue banget), maka apa pun yang disampaikan untuk merubah pilihannya, mereka tetap keukeuh dengan pilihannya. 

Berbusa-busa pun mulut kita untuk menyampaikan program dan segala macamnya, tidak akan mempan. Mereka para pemilih milenial tidak akan tergoda. Itulah karakter pemilih milenial, tidak sama dengan pemilih kultural dan tradisional. 

Mereka ini merupakan generasi "layar sentuh". Mereka asyik dengan dunianya sendiri, dan ketika diberikan pilihan, mereka melihat dari kacamata kekinian, "Ini yang gue demen. Loe asyik Bro!".

Pemilih milenial itu adalah mereka yang lahir di tahun 1980-an sampai tahun 2000. Umur mereka itu antara 17 - 35 tahun. Jumlah mereka sangat signifikan dan sudah masuk ke dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Di setiap daerah ditenggarai sekitar 20-30% pemilih adalah mereka. Dan untuk mendapatkannya tentu perlu trik-trik tersendiri.

Saya yakin siapa calon kepala daerah yang bisa "mengambil hati" pemilih milenial termasuk di dalamnya pemilih pemula diprediksi akan menang. Makanya setiap pasangan calon harus memperhatikan pemilih milenial ini, jangan pernah anggap remeh mereka, meskipun mereka masih awam soal politik.


Isa Kurniawan

Isa Kurniawan ( Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga