Kalitok, Komedian Ranah Minang yang Lahir Karena Pandemi Covid-19

Kalitok Komedian Ranah Minang yang Lahir Karena Pandemi Covid19 Ilustrasi (Ist)

Covesia.com - Enam orang pemuda Asal Nagari Simpang Kapuak, Kecamatan Mungka, Kabupaten Limapuluh Kota mungkin bisa menjadi inspirasi bagi pemuda lain di Indonesia. Di tengah masa Pandemi Covid-19 yang serba terbatas, mereka bisa menembus kebuntuan Work From Home (WFH). Bermodal smartphone, pemuda-pemuda ini mampu menjadi komedian yang sekarang tengah eksis di dunia maya. 

Mereka adalah Rendion Pratama, Rival Adela, M Zanil, Miko Afmi, Ebit Regialdi dan Nandi. Seluruhnya adalah pemuda Nagari Simpang Kapuak. Juli 2020, ditengah Pandemi Covid-19 mulai mengganas di Sumatera Barat, mereka membentuk Kalitok, sebuah Grup komedi berbahasa Minang.

Inspirasi Kalitok ini muncul karena imbas pandemi Covid-19. Rendion yang sebagai inisiator melihat teman-temannya yang masih pelajar dan mahasiswa mulai bosan dengan belajar di rumah. Mereka pun lebih banyak menghabiskan waktu di warung jika tugas telah selesai. 

"Saya lihat adik-adik mahasiswa dan yang masih SMA sudah mulai bosan belajar di rumah. Kalau tugas udah kelar, mereka pasti ke warung. Tapi di warung bengong-bengong gak jelas. Makanya saya ajak diskusi, dan timbul ide untuk bentuk Kalitok," sebut Rendion kepada Covesia.com, Selasa (9/2/2021).

Nama Kalitok ini sendiri berasal dari panggilan kecil tiga temannya. Rival Adela yang biasa dipanggil Kacak. M. Zanil dengan Lisuk dan Miko dengan Kotok. Saat singkatan ketiga panggilan Kacak, Lisuk dan Kotok ini dipadukan, menghasilkan nama Kalitok.

"Jadi Kacak, Lisuk dan Kotok yang jadi pemain. Makanya nama mereka yang kami ambil. Jadinya Kalitok. Sedangkan saya, Nandi dan Abit hanya di belakang layar," sebut Rendion.

Walaupun terbilang pendatang baru di dunia grup pelawak, Kalitok sudah mendapat tempat di hati masyarakat Sumbar. Ini terlihat dari setiap videonya yang di upload ke Youtube, ditonton sampai belasan ribu kali. Kemudian subscribenya sudah mencapai 15 rb. Bahkan satu videonya sempat ditayangkan oleh stasiun TV Nasional Trans 7. 

"Ada satu cuplikan video kami dimasukkan di program Kelakuan Warga +62 trans 7," kata Rendion lagi.

Selain menampilkan adegan dan dialog yang kocak, penonton cukup terhibur dengan akting pemain Kalitok yang natural. Ditambah lagi setiap video dibuat atas dasar fenomena yang terjadi di tengah masyarakat. Ini yang membuat di video-video Kalitok selalu memberikan pesan yang cukup dalam. 

Dari 22 video yang telah menjadi konsumsi masyarakat, seluruhnya di produksi hanya dengan Smartphone. 

"Ambil gambar dan edit video kami cuma pakai Handphone. Tambahannya hanya aplikasi berbayar Kinemaster Premium. Sudah kami coba pakai handycame dan laptop. Malah bikin repot. Lebih praktis semuanya dilakukan pakai Handphone," katanya lagi.

Hanya saja, sejak awal Januari 2021 Kalitok terpaksa vakum. Ini karena seluruh pemainnya sudah tak lagi belajar di rumah dan berpengaruh pencar. Mereka sudah kembali ke sekolah dan ke kampus untuk belajar.

"Sekarang vakum dulu. Karena sudah masuk sekolah dan kuliah. Apalagi beberapa kawan-kawan ada yang ujian. Insya Allah Kami akan hadir lagi di akhir Februari 2021," ucap Rendion.

Sementara itu Walinagari Simpang Kapuak, Felliadi mengaku bangga dengan prestasi dan kreativitas Rendion dan kawan-kawan. Grup lawak yang baru berusia enam bulan ini juga membuat Simpang Kapuak di kenal masyarakat luar. 

"Selain menghibur, Kalitok juga mempromosikan Simpang Kapuak ke luar," kata Felliadi. 

Sebagai Walinagari, Felliadi sadar Simpang Kapuak belum begitu dikenal masyarakat. Mengingat secara Geografis, Simpang Kapuak termasuk daerah pinggiran dan belum banyak tersentuh pembangunan. Apalagi sinyal seluler dan internet baru masuk pada Juni 2020. 

"Semoga dengan kreatifitas Kalitok, banyak menarik hal-hal positif ke Simpang Kapuak. Apalagi, Kalitok lahir sebulan setelah internet masuk ke nagari ini," katanya. 

Selain Kalitokk, Felliadi juga mengatakan masih banyak kreatifitas pemuda dan pemudi Simpang Kapuak yang belum bisa tersalurkan karena masih banyak keterbatasan.

(agg)

Berita Terkait

Baca Juga