Model Pembelajaran dengan Pendekatan 'Coorperative-Discovery Learning'

Model Pembelajaran dengan Pendekatan CoorperativeDiscovery Learning Hendri Novrianto (Dok. Humas ITP)

Covesia.com - Pendidikan vokasi merupakan pendidikan menengah dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 15). Pendidikan vokasional  juga mempunyai misi mempersiapkan peserta didik untuk mampu menghadapi perubahan-perubahan dalam komunitasnya. Jama (2010) menyatakan “Vocational education should be responsived to the changes in society. In this era of the rapid change of technology, vocational education must play many important roles in order to grabe roles in the world of work.” 

Sebuah lembaga pendidikan vokasi seharusnya tidak hanya memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan kerja, tetapi juga bertanggungjawab terhadap perkembangan dan pengembangan karir peserta didiknya dibelakang hari. Sehubungan dengan hal ini, Jama (2012) dalam seminar internasional tentang Pendidikan Teknologi dan Vokasi (Vocational and Technical Education) mengungkapkan bahwa selain dari pembelajaran berbagai basis yang dilaksanakan dalam saat ini, seperti pembelajaran berbasis kompetensi, pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), dan lain sebagainya, perlu pula dikembangkan pembelajaran berbasis outcome (outcome based learning). Pembelajaran berbasis outcome, artinya adalah bahwa para peserta didik tidak hanya dibekali dengan kompetensi kerja, tetapi juga dibekali dengan kecakapan-kecakapan untuk mengembangkan karirnya dalam bidang pekerjaannya sewaktu mereka sudah bekerja nantinya. 

Lulusan pendidikan vokasi hendaknya harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan dan kemajuan teknologi yang berkembang didunia kerja/industri. Perubahan dan kemajuan teknologi membuat struktur jenis pekerjaan di dunia kerja/industri juga berubah. Berbagai jenis pekerjaan membutuhkan kompetensi yang baru agar produksi industri dengan teknologi baru dapat bernilai ekonomi bagi bangsa dan negara. Hayton (2003) mengemukakan bahwa komponen persaingan dunia industri abad ke 21 akan tergantung pada kemampuan dunia industri dalam menciptakan inovasi baru barang produksinya, agar dapat untuk bersaing dipasar bebas. 

Perguruan Tinggi sebagai salah satu institusi pendidikan yang mengelola vokasi hendaknya harus dapat menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi yang mampu memasuki dunia kerja, berdaya saing tinggi, responsif dan antisipatif terhadap perubahan dan kemajuan teknologi, hidup secara harmonis dengan lingkungan kerjanya, dan dapat mencapai tujuan karir yang layak dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan rumusan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) 2011. BNSP merumuskan bahwa pengembangan SDM Indonesia memiliki kompetensi dan keahlian sebagai berikut. Pertama, mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah secara lateral dan sistemik. Kedua, mampu berkomunikasi dan bekerjasama yang efektif. Ketiga, mampu mencipta dan memperbarui (kreatif dan inovatif). Keempat, mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi informasi dan  komunikasi, dan terakhir mampu belajar dan beradaptasi secara kontekstual dengan lingkungan. 

Perguruan Tinggi secara terus menerus dituntut untuk mengembangkan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif sehingga peserta didiknya belajar seakan-akan berada dalam lingkungan dunia kerja nyata sesuai dengan 16 prinsip pendidikan vokasi menurut Charless Allen Prosser dalam bukunya Vocational Education in a Democracy (Prosser, 1949).

Perencanaan Perkerasan Jalan Raya, sebagai salah satu matakuliah bidang keahlian pada Program Studi S1 Teknik Sipil ITP, ditujukan untuk membekali mahasiswa dengan kompetensi kerja dalam bidang kerja Perkerasan jalan diharapkan pula mahasiswa dapat mengembangkan diri setelah menyelesaikan pendidikannya di lembaga pendidikan ini. Namun saat ini tujuan tersebut belum sepenuhnya dapat direalisasikan. 

Dalam pelaksanaan pembelaaran pada mata kuliah ini, telah mulai diterapkan model pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif mahasiswa, yaitu dengan penerapan cooperative learning dengan memberikan tugas kelompok kepada mahasiswa pada beberapa pertemuan kuliah dan discovery learning diterapkan pada beberapa pertemuan kuliah lainnya dengan memberikan tugas mandiri kepada mahasiswa. Namun, penerapan model pembelajaran tersebut belum efektif dalam mengoptimalkan hasil belajar mahasiswa karena penerapan dari kedua model pembelajaran tersebut belum tertata dengan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dan pengembangan terhadap model pembelajaran gabungan dari cooperative learning dan discovery learning ini, untuk menghasilkan produk model pembelajaran yang teruji secara empiris.

Discovery learning merupakan salah satu model pembelajaran yang dikenal dapat meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam pembelajaran adalah.  Namun, penerapan model pembelajaran ini memiliki beberapa kendala terkait kemampuan siswa/mahasiswa. Metode pembelajaran ini  sulit dilaksanakan bagi siswa/mahasiswa dengan kemampuan rendah atau dengan kemampuan rata-rata (Gijlers dan de Jong, 2004) dan tidak efektif tidak bagi siswa yang kurang memiliki kemampuan mehamami konsep-konsep atau informasi baru dengan cepat (Ausubel dalam Cahyo, 2013). Masalah yang muncul akibat kurangnya kemampuan individu mahasiswa  ini  diharapkan dapat dikurangi dengan mengkombinasikan model pembelajaran ini dengan cooperative learning dimana mahaiswa dapat bekerja sama dalam kelompok. Sedangkan Model pembelajaran cooperative learning juga telah dikenal sebagai model pembelajaran yang memiliki efek yang sangat besar terhadap prestasi siswa/mahasiswa dibandingkan dengan pembelajaran secara indiividu (Johnson and Johnson, 2002). 

Pada model yang dikembangkan ini merupakan model pembelajaran gabungan dari kedua model tersebut yang disebut dengan Cooperative Discovery Learning, yang diharapkan lebih efektif dalam mengaktifkan mahasiswa dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa. Model pembelajaran ini kemudian diterapkan pada satu mata kuliah di perguruan tinggi, yaitu pada mata kuliah Perencanaan Perkerasan Jalan Raya di Program Studi Teknik Sipil S1 Institut Teknologi Padang.

Pengembangan model Cooperative-Discovery Learning diterapkan model lima langkah dari ADDIE: 1) menganalisis model pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya yang ada saat ini 2) merancang model pembelajaran yang baru, 3) mengembangkan model dan melakukan validitas internal, 4) mengimplementasikan Model Cooperative-Discovery Learning di kelas eksperimen untuk menentukan keefektifan model dalam meningkatkan prestasi belajar mahasiswa, dan 5) membandingkan capaian hasil belajar mahasiswa menggunakan model Cooperative-Discovery Learning dengan model konvensional. 

Temuan dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan model Cooperative-Discovery Learning dalam pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya menunjukkan bahwa mahasiswa lebih termotivasi untuk belajar, lebih percaya diri dan lebih baik menyelesaikan masalah yang diberikan, bertanggung jawab dan mampu bekerja dalam tim.

Untuk menguji kefektifan model maka dilakukan uji-t terhadap hasil belajar untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Secara statistik hasilnya menunjukan bahwa ada peningkatan secara signifikan hasil belajar mahasiswa kelas eksperimen dibandingkan terhadap kelas kontrol. Selain itu penilaian dari aspek afektif dan psikomotor mahasiswa mendapatkan nilai dalam kriteria lebih baik. Penggabungan nilai dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor mahasiswa mendapatkan nilai dalam kriteria sangat baik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah model Cooperative-Discovery Learning lebih efektif dari pada model konvensional dalam pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya.

Dampak instruksional Model pembelajaran yang berorientasi Student Center Learning, Memberikan peluang kepada Mahasiswa untuk lebih aktif, kreatif dan inovatif. Dampak pengiring Dapat meningkatkan kemampuan berfikir mahasiswa secara kritis, Model pembelajaran ini dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa, kemampuan berkerjasama, memiliki rasa tanggung jawab, dan mampu memcahkan masalah.

Implikasi temuan Dihasilkannya sebuah model Model Cooperative-Discovery Learning dalam Perencanaan Perkerasan Jalan Raya ini, maka akan menambah referensi dan sumber acuan bagi dosen, sumbangan pemikiran bagi dosen untuk mengembangkan variasi model pembelajaran, menambah wawasan dosen dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya untuk mencapai hasil belajar dari aspek kognitif, afektif dan psikomotor. 

Pemanfaatan Model Cooperative-Discovery Learning dalam pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya agar dimaksimalkan guna mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Didasari oleh uraian di atas maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa model Cooperative-Discovery Learning menjadi solusi dalam meningkatkan hasil belajar mahasiswa dalam pembelajaran Perencanaan Perkerasan Jalan Raya.

Artikel ini ditulis oleh Dr.(c) Ir. Hendri Novrianto, MT berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S-3) pada Prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Pascasarjana Universitas Negeri Padang.

Tim Promotor I. Prof.Dr. Jalius Jama, M.ed dan Promotor II Dr. Azwar inra, M.Pd. yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 9 November 2020 pukul 09:00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D.; Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T.; Prof. Dr. Ambiyar, M.Pd.; Prof. Dr. Nizwardi Jalinus, M.Ed dam Dr.Ir. Arwizet K. ST, MT dan penguji ekternal Prof.Ir.Zaidir, MS.Dr.Eng.

Dari hasil temuan penelitian disertasi ini, berkenaan dengan model yang dikembangkan telah berhasil mempublikasi artikel di jurnal international bereputasi (Q2) dengan judul Validity of Cooperative-Discovery Learning Model to  Improve Competencies of Engineering Students Kemudian juga telah didesminasikan pada saat pelaksaan weibinar pascasarjana PTK FT UNP.

Dr.(c) Ir. Hendri Novrianto, MT

Dr.(c) Ir. Hendri Novrianto, MT ( Rektor Institut Teknologi Padang )

Berita Terkait

Baca Juga