Kalender Event Pariwisata Sumbar Dinilai Masih Monoton dan Belum Beri Ruang untuk Sastra

Kalender Event Pariwisata Sumbar Dinilai Masih Monoton dan Belum Beri Ruang untuk Sastra Muhammad Subhan, Penulis dan Pegiat Literasi (Ist)

Covesia.com - Beberapa waktu lalu Dinas Pariwisata Sumbar telah merilis kalender Pariwisata Sumbar 2020, namun dari 35 event yang akan diselenggarakan tidak ada event-event sastra.

"Sepertinya pemerintah daerah menilai event sastra belum cukup menarik dijadikan bagian dari agenda Kalender Wisata Sumbar, padahal Sumbar dikenal salah satunya karena kaya karya sastra dan sastrawannya," ungkap pegiat literasi sekaligus Penulis, Muhammad Subhan kepada Covesia di Padang, Rabu (15/1/2020).

Lebih lanjut Subhan mengatakan belum dijumpai festival-festival sastra permanen yang digelar berkelanjutan di Sumbar.

Hal ini berbeda dengan daerah-daerah lain, salah satunya Lampung. Pemerintah Lampung memasukkan Tegal Mas Island International Poetry Festival pada 24-26 Januari 2020 sebagai bagian dari Agenda Kalender Wisata mereka.

Selanjutnya Bali punya “Ubud Writers and Readers Festival” (UWRF), festival sastra Asia Tenggara, bahkan kelas dunia, dan itu sudah belasan tahun. "Ramai orang datang ke Bali salah satunya karena UWRF," ungkapnya.

Selain itu, Subhan juga menyebutkan daerah Banjarbaru Kalimantan Selatan yang memiliki Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival yang juga masuk Kalender Wisata mereka.

Sedang Sumbar masih monoton untuk kegiatan sastra dan literasi. Jika Sumbar ingin menjadi “Provinsi Literasi” selayaknya pemerintah daerah ikut andil memberikan kebijakan pemerintah melalui regulasi-regulasi strategis. "Karena ini bukan semata-mata tugas pegiat saja," ujarnya.

Ia menilai, kalau sekadar mencanangkan, gampang, asal ada anggaran, itu bisa terwujud. Tapi tugas besarnya ialah bagaimana menjaganya, bagaimana soal pembinaan ke kantong-kantong literasi, ketersediaan buku, event-event literasi skala besar yang berkelanjutan, apakah pemerintah perduli hal tersebut," jelasnya.

Sinergisitas dan kerja kolaboratif antara Pemerintah Provinsi dengan seluruh pegiat literasi tentu sangat dibutuhkan.

Ia menambahkan bahwa Sumbar tidak hanya dikenal lewat adat dan budayanya, agama, pendidikan, kuliner dan kehidupan masyarakatnya, tapi juga sastra.

Subhan mengatakan gerakan literasi dan sastra baru sebatas gerakan individual. "Belum cukup tertampung oleh Pemerintah Daerah bahwa kita butuh event sastra bergengsi yang setiap tahunnya ditunggu-tunggu orang dari luar, terutama wisatawan," terangnya.

Perlu diingat, bahwa selain Fisika, Kimia, Kedokteran, Perdamaian, Nobel, penghargaan kelas dunia yang dianugrahkan setiap tahun sejak 1901 itu, salah satunya ada di bidang Sastra.

"Event sastra salah satu cara melahirkan banyak calon-calon sastrawan, karena ada wadah, ada ruang diskusi, ada ruang menampilkan karya, ada ruang bertemunya mereka dengan para sastrawan dunia, meski mungkin secara individu-individu tadi mereka sudah melakukan itu,"katanya.

Namun, tak cukup dengan hal tersebut, pemerintah hendaknya memberikan ruang kepada sastra sehingga wisatawan ke Sumbar tidak hanya menikmati pariwisata yang monoton.

(lia)

Berita Terkait

Baca Juga