Yuk, Wisata Edukasi di Konservasi Penyu Pasir Jambak Padang

Yuk Wisata Edukasi di Konservasi Penyu Pasir Jambak Padang Lokasi pengembangbiakan telur penyu, Sabtub(9/10/2019)

Covesia.com - Konservasi Penyu di Sumatera Barat tak hanya terdapat di Pariaman, dan Pesisir Selatan. Namun juga ada di kawasan Pantai Pasir Jambak, Kota Padang, yang dikenal dengan konservasi penyu Jambak Sea Turtle Camp.

Berangkat dari keprihatinan menemukan Penyu sudah tak bernyawa dan perutnya terbelah, Pati Hariyose mendirikan konservasi tersebut.

Dibantu adiknya sedikit demi sedikit konservasi kian berkembang. "Sebenarnya konservasi sudah ada semenjak 2011," ungkap Julira (36) adik kandung Pati Hariyose yang juga menjadi pengelola konservasi kepada Covesia, Rabu (9/10/2019).

Ia juga mengatakan bahwa tempat penangkaran baru dibangun 2 tahun yang lalu. "Pemerintah membantu fasilitas saja, sedang yang lain masih kami yang mengurus," ungkapnya.

Julira menuturkan bahwa penyu yang pernah dikonservasi di pasir Jambak ada beberapa jenis. "Penyu Hijau, Sisik, dan Lekang atau penyu abu-abu. Dulu pernah ada Penyu Belimbing," ujarnya.

Kami biasanya mengawasi pulau sekitaran pasir Jambak untuk melindungi telur-telur penyu supaya tidak disalah gunakan. "Sekali 3 bulan, kami mengelilingi Pulau Aia, Pulau Pieh, Pulau Pandan, Pulau Toran. Sebenarnya harus dikunjungi seminimal mungkin 1 kali sebulan, namun karena terkendala biaya, kami hanya bisa turun ke lokasi 3 bulan sekali," ungkapnya.

Motivasi untuk membuat konservasi ini selain menyelamatkan penyu juga potensi wisata. "Semenjak adanya konservasi kunjungan ke sini lebih meningkat," terangnya.

Namun, Julira menyayangkan masih ada oknum yang menemukan telur penyu dan memilih menjual secara sembunyi-sembunyi ke pasar. "Sebenarnya, kami pun memberi sedikit uang lelah bagi yang menemukan telur tersebut dengan harga 1500 perbutirnya. Kalau di pasar, mereka bisa menjual telur tersebut dengan harga 2500-3000 perbutirnya," ungkap Julira.

Julira mengungkapkan bahwa masih ada kendala dalam konservasi. "Kendala yang dihadapi selain dana adalah cara menjelaskan kepada masyarakat sekitar bahwa pentingnya konservasi," jelasnya.

Ia juga bercerita, dulu di awal-awal konservasi sebelum adanya bangunan konservasi ada yang mencuri telur yang sudah dikubur.

Sekarang sudah ada kolam pasir untuk penetasan telur penyu tersebut. "Biasanya dalam waktu 56-70 hari penyu sudah menetas, selanjutnya lima hari setelah itu dilepaskan," ungkapnya.

"Pelepasan penyu biasanya diumumkan kepada masyarakat, juga pengunjung yang ingin ikut berpartisipasi melalui akun  Facebook Sea Turtle Society," ungkap Julira.

Kontributor: Laila Marni



Berita Terkait

Baca Juga