Insinyur Keju Kaki Marapi: Hobi Beternak, Dirikan Lassy Dairy Farm hingga Koperasi

Insinyur Keju Kaki Marapi Hobi Beternak Dirikan Lassy Dairy Farm hingga Koperasi Foto:FB keju lasi dan Suhatril

Covesia.com - Di Kecamatan Candung Kabupaten Agam, terdapat sebuah nagari yang memiliki tiga jorong. Jorong tersebut yakni, Lasi Tuo, Lasi Mudo, dan Pasenehan. Jumlah penduduk di nagari ini mencapai 6.700 jiwa sedangkan untuk luas wilayahnya sekitar 15,32 km. Lasi tuo terletak di pinggang Gunung Marapi. Gunung yang memiliki ketinggian 2.891 Mdpl ini dapat dilihat dari Kota Bukittinggi, Padang Panjang, dan Kabupaten Tanah Datar.

Lasi Tuo memiliki keistimewaan tersendiri, airnya dingin pun udaranya, masih asri. Tumbuhan hijau masih terbentang juga sawah-sawah yang digarap oleh masyarakat sekitar. Sesekali kendaraan roda empat melewati jalan beraspal yang membelah persawahan.

Beberapa tahun terakhir, jorong ini semakin ramai dikunjungi. Perantau yang dulu menjelajah ke negeri orang sudah banyak yang kembali. Tak hanya itu,  semenjak pesantren di jorong ini mulai didatangi santri dari luar daerah, bahkan luar negeri. Awalnya, santri berasal dari daerah setempat, berlanjut ke provinsi tetangga hingga terdengarlah sampai ke negeri Jiran.

Para santri yang berdatangan dari berbagai daerah membuat perubahan di berbagai bidang. Yang awalnya rata-rata masyarakat hanya berprofesi sebagai petani, berangsur-angsur sudah mulai berdagang. Menjual makanan ringan, sarapan pagi hingga membuka kedai nasi.

Perekonomian di jorong ini sedikit demi sedikit terus meningkat apalagi semenjak adanya produksi keju. Adalah Suhatril, anak nagari Lasi yang memiliki hobi beternak sapi. Ia merasa tempat kelahirannya belum banyak perubahan semenjak 20 tahun terakhir. 

Beternak sudah menjadi kesukaan tersendiri bagi Suhatril, Alumni Institute Teknologi Bandung (ITB) yang mengambil teknik perminyakan. Berangkat dari kepeduliannya terhadap kampung ia memutuskan untuk melanjutkan hobinya beternak sapi perah.

“Sapi perah yang paling terkenal berada di New Zealand, namun saya yakin dan berusaha untuk pengembangan sapi perah di sini juga bisa maju,” ungkap Suhatril Minggu (22/9/2019). 

Ia menuturkan bahwa ingin menjadikan peternakan sapi perah di jorong Lasi Tuo menjadi sentral sapi perah di Sumatera. Melihat potensi tanah yang baik untuk pakan sapi, Suhatril akhirnya mewujudkan niatnya untuk beternak sapi perah di jorong lasi tuo ini. Tepatnya di awal 2017 20 ekor sapi perah dibuatkan kandangnya dengan 2 orang yang membantu untuk mengurusi pakan sapi tersebut.

Lahan yang dipakai adalah milik masyarakat sekitar. Melakukan negosiasi dan mencapai kesepakatan, akhirnya tanah tersebut resmi menjadi miliknya dan ia membangun kandang sapi perah. 

Mengolah Susu menjadi Keju

Beberapa bulan berjalan hasil beternak sapi perah sudah mulai nampak. Susu yang dihasilkan melimpah. Namun, penjualan susu sapi perah di tahun 2017 sedikit bermasalah. Karakteristik susu segar yang umurnya singkat sulit dalam distribusi dan penyimpanan. Sedangkan susu segar selalu diproduksi oleh sapi perah setiap hari tidak bisa dihentikan ataupun dikurangi. Biasanya susu yang tidak bisa dipasarkan dibuang ke sungai khususnya saat musim hujan.

Suhatril tidak kehabisan akal awal 2018 ia memiliki ide baru. Baginya kendala adalah sebuah peluang yang jika dilihat dari sudut pandang lain. Melihat jumlah susu yang berlimpah ia berpikiran untuk mengolah produk susu tersebut. Banyak pilihan untuk mengolah produk susu ini seperti menjadikan yogurt, mentega, hingga keju. Pilihan Suhatril jatuh pada keju.

Keju merupakan makanan yang dihasilkan dari susu yang diproses dengan sedemikian rupa. “Memproduksi keju artinya memperpanjang umur produk bahkan sampai 1 tahun,” ungkap Suhatril. Ia juga mengatakan selain mudahnya distribusi juga penyimpanan serta peluang untuk menambah jumlah sapi perah.

Kini, Suhatril sudah berhasil mendirikan usaha pembuatan keju pertama di Sumatera. Dengan 52 ekor sapi perah dengan luas lahan 4 hektar. “Dulunya saya dibantu 2 orang, alhamdulillah sekarang sudah 14 orang karyawan,” ungkapnya.

Suhatril menuturkan produk keju yang diproduksi adalah keju lasi mozarella. Keju ini bisa bertahan 10-12 bulan. Hingga saat ini Keju Lasi Mozarella sudah menembus pasar tak hanya di Sumbar tapi juga Riau dan Jambi.

Sentra sapi perah milik Suhatril ini diberi nama Lassy Dayri Farm. Tempat ini sudah dikunjungi banyak orang baik dari pelajar sekolah dasar, SLTA bahkan pemerintah, juga petani  dan peternak yang ingin belajar membuat keju dan merawat ternak. 

Kompos Lasi dari Koperasi Gerhana

Suhatril, pemilik usaha Keju Lasi Mozarella itu tak hanya fokus pada ternak sapi perah dan pengolahan keju. Ia pun mengurus kotoran sapi. “Awalnya, saya sendiri yang mengolah menjadi kompos. Namun, karena melihat semangat pemuda sekitar ia bekerjasama dengan para  pemuda yang tergabung pada kelompok tani Gerhana.

Koperasi Gerhana tak jauh dari lokasi peternakan sapi perah Suhatril. Para pemuda tersebut sering berdiskusi mengenai kompos yang mereka kerjakan dengan Suhatril. “Sebenarnya koperasi tersebut bukan anak perusahaan akan tetapi lebih tepat di bawah binaan kami,” jelasnya. 

Koperasi Gerhana diketuai oleh Fakhrul Rahzi dengan jumlah anggota 14 orang. Produk dari koperasi gerhana saat ini baru berupa kompos padat yang berasal dari kotoran sapi. “Ke depannya kami akan memproduksi pupuk cair dari air seni sapi. Kami optimis usaha ini akan berkembang sesuai dengan peluang yang ada,” jelasnya Suhatril.

Ia berharap koperasi Gerhana bisa menjadi percontohan bagi pemuda di daerah lain, khususnya kebangkitan pemuda dalam membangun nagari. Ia juga mengatakan bahwa seajuh ini pendistribusian pupuk kompos melalui dua  cara offline dan online.

Konsepnya kami ingin membuat tiap-tiap daerah memiliki koperasi. Koperasi daerah tersebut bisa bergabung dengan koperasi induk. “Saat ini sudah ada pembicaraan dengan kelompok tani di daerah Baso Kabupaten Agam tentang pengelolaan kotoran sapi di daerah tersebut,” jelas Suhatril yang juga digelari insinyur keju dari kaki Merapi.

“Pupuk kompos ini sudah sampai ke Kabupaten Solok dan Kota Padang,”ungkapnya.

Kontributor: Laila Marni

Berita Terkait

Baca Juga