Kue Bika Pariaman, Tetap Eksis Ditengah Gempuran Makanan Cepat Saji

Kue Bika Pariaman Tetap Eksis Ditengah Gempuran Makanan Cepat Saji Penjual Kue Bika di salah satu sudut Kota Pariaman, Sumatera Barat (Foto: Almurfi Syofyan)

Covesia.com - Kue Bika merupakan salah satu penganan primadona masyarakat Pariaman dimasanya. Hampir setiap pusat-pusat keramaian di Pariaman dahulunya sering dijumpai kudapan ini. Tak jarang banyak masyarakat berlomba-lomba untuk menjualnya karena tingginya minat pembeli.

Ditenggarai, karena menjamurnya makanan cepat saji yang masuk ke Pariaman, serta berubahnya gaya hidup generasi muda yang bangga dengan makanan-makanan luar dan gengsi mencicipi kudapan tradisional menenggelamkan Kue Bika tersebut. Kue Bika, terasing dirumahnya.

Fakta pun membuktikan, 5 tahun belakangan di Pariaman tak banyak lagi penjual kue yang memiliki bahan dasar tepung beras dan kelapa ini. Di Desa Jati Mudik, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatera Barat yang sudah lama dikenal sebagai pusat penjual Kue Bika justru membuat tercengang. Dari belasan penjual yang berdagang dahulunya, sekarang hanya tinggal 2 pedagang saja.

Menurut Penjual Kue Bika Simpang Ampek Jati, Wati (50) banyaknya pedagang yang beralih profesi karena menurunnya omzet secara. Akibatnya pedagang memilih untuk gulung tikar dari pada terus-terusan merugi.

"Penjualan memang jauh berkurang,  teman-teman banyak yang beralih profesi menjadi petani atau penjual ketupat," ujarnya saat di temui Covesia.com, Minggu (6/1/2019).

Selain itu, kata Wati, dari hasil keringat menjual kue Bika selama belasan tahun tersebut, dia mampu menyekolahkan anak-anaknya dan menjadi penopang utama perekonomian keluarga.

"Setidaknya, bertahan untuk menjaga pelanggan yang sering memesan kesini. Dan ucapan terimakasih bagi kue bika sendiri," ucapnya.

Kata dia, omzet dagangannya bisa naik disaat hari-hari besar seperti bulan puasa dan lebaran. Sementara dihari normal, omzet relatif stagnan di kisaran Rp300 ribuan. Sedangkan Kue Bika sendiri, dijual seharga Rp 1000 perkuenya.

"Rata-rata pembeli kue bika ini kalangan umur, 40an tahun ke atas. Kalau anak-anak muda, jarang membeli kue ini," katanya.

Meski omset dagangan cenderung menurun, Wati, yang dalam keseharian dibantu dua anaknya dalam berdagang memilih untuk bertahan. Alasannya sederhana, karena ingin mempertahankan eksistensi kuliner tradisional tersebut. Sebab, kalau dia memilih gulung tikar, tentu kawasan Jati yang dulunya dikenal sebagai sentra Kue Bika juga akan hilang. Kontibutor Pariaman: Almurfi Syofyan

Berita Terkait

Baca Juga