Ingin Kembali Sekolah, Bocah ini Surati Relawan PMI

Ingin Kembali Sekolah Bocah ini Surati Relawan PMI Ingin Kembali Sekolah, Bocah Ini Surati Relawan PMI (Foto: PMI)

Covesia.com - Sudah sepekan lebih pasca bencana Gempa tsunami yang telah menerjang ke daratan indonesia di Sulawesi Tengah. Menyisakan cerita yanng mendalam khususnya bagi warga yang terdampak.

Hampir semangat semua orang pun berkurang, pekerjaan terhenti dan aktifitas pendidikan formal pun seketika menghilang. Hanya ada tumpukan sisa-sisa reruntuhan, dan kuburan massal.

Tenda-tenda kokoh pengungsian yang kini menjadi tempat tinggal mereka selama beberapa hari, dingin panas sempit sudah pasti mereka semua rasakan, seluruh korban gempa dan Tsunami di Palu dan Donggala dan Sigi.

Bencana Alam ini pun mengundang hati nurani seluruh warga dunia, relawan indonesia bahkan mata dunia, mereka berbondong-bondong terbang ke daerah palu meskipun akses jalan yang sulit dan tersendat. Tak terkecuali relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) dengan prinsip kemanusiaan yang tak mengenal suku, Ras, agama maupun budaya ikut mengulurkan bantuan, mulai dari moril maupun materilnya. 

Hal ini menjadi kesempatan para relawan PMI untuk menghibur anak-anak korban bencana yang dirundung duka kehilangan rumah, keluarga dan pendidikannya, para relawan PMI ini bahkan menghabiskan waktu mereka bermain bersama anak-anak korban bencana dan memberikan dukungan psikososial berupa bermain sambil belajar. 

Rupanya hal ini sangat membekas dihati salah satu anak korban pengungsian di Desa Tando kota Palu, mereka gembira ketika bermain bersama para relawan PMI mengingat mereka yang juga merindukan sekolah nya untuk belajar kembali, bahkan hal ini membuat 'Aras'  siswa kelas 4 SD Inpers 1 Tondo menuliskan surat untuk relawan PMI yang selalu setia dan menjadi teman bermainnya selama dipengungsian.

Surat singkat yang ditulis pun begitu mengharukan, ia menyampaikan ucapan terimakasihnya melalui surat dengan rasa bahagia dan senangnya meskipun masih merasakan dingin dan panasnya tenda pengungsian bahkan ia mengatakan ingin kembali bersekolah, surat itu berisi catatan kecil dia kepada relawan PMI.

"Surat untuk Kaka PMI, selama dipengungsian saya mengalami panas, sidih dan kedinginan pada malam hari, disaat itu saya berpisah dengan keluarga saya, saya pengen sekolah lagi untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi. Terimakasih kaka PMI yang telah menghibur aras bermain dan menggambar. Semoga kaka sehat selalu dan bisa main kembali ke pengungsian ,salam dari saya Aras putra ramadan Mutar M Ali wahyudin" Tulis aras dalam secuir kertasnya.

Begitulah surat singkat yang ditulis Aras, semangatnya yang ingin kembali sekolah semoga segera terwujud, serta bisa kembali berkumpul bersama keluarganya dirumah yang layak.

koordinator layanan Psikososial Support Program (PSP) PMI di Palu, Malla Sari mengatakan, hampir setiap harinya Tim nya berkunjung kepada beberapa tenda pengungsian, melakukan pendampingan psikososial dan interaksi dengan warga pengungsi baik kelompok ibu ibu terutama anak anak. Dirinya sangat terharu ketika mengunjungi camp pengungsian dilapangan bola di desa tando yang disulapnya menjadi pengungsian sementara warga masyarakat disana. Saat itulah dirinya mendapatkan sepucuk surat dari salahsatu anak pengungsi yang bernama Aras.

"Terenyuh rasanya, tiba-tiba datang seorang anak memberikan surat yang ditulis  diatas kertas buku gambarnya. Setelah membaca kami pun dibuat tersenyum, dibenak kami, kegiatan yang kami lakukan memberikan dampak positif,” Aku Malla, seperti rillis yang diterima covesia dar PMI, Sabtu (13/10/2018).

Kecemasan, ketakutan masih menyelimuti dan dirasakan oleh banyak warga termasuk anak-anak. Sehingga PMI mengajak interaksi ibu-ibu dan anak-anak dengan berbagai pendekatan.

Dukungan psikososial adalah salah satu bentuk pelayanan PMI yang diberikan untuk membantu penyintas bencana agar dapat memperoleh kembali fungsi sosialnya, serta dapat menjalani hidup dengan lebih bermakna. 

“Interaksi kami dengan anak-anak dengan cara mengajak bernyanyi, cerita, menggambar dan beberapa permainan edukatif. Sedangkan saat bersama ibu-ibu, kami mengajak berbicara, diskusi kelompok dan melakukan kegiatan Pertolongan pertama secara psikologis. Kami berharap warga dapat menerima kenyataan dengan tetap memiliki semangat dan mental yang kuat,” pungkas Malla.


Warjiyani

Warjiyani ( Humas PMI )

Berita Terkait

Baca Juga