Selain Terkenal dengan Beragam Objek Wisata, Kabupaten Agam juga Punya Kacang Randang Nan Gurih

Selain Terkenal dengan Beragam Objek Wisata Kabupaten Agam juga Punya  Kacang Randang Nan Gurih Proses pembuatan Kacang Randang di Matur, kabupaten Agam (Foto: Covesia/ Johan Loyo)

Covesia.com - Objek wisata mempunyai kaitan erat dengan kuliner, selain memanjakan mata tentunya wisatawan mengunjungi suatu daerah  juga ingin memanjakan lidah. tidak lengkap rasanya jika mengunjungi  satu tempat wisata namun belum mengecap cemilan khas  daerah tersebut.

Adalah Kacang Randang Matur salah satu cemilan khas kecamatan Matur, Satu datu kecamatan yang terletak di dataran tinggi kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Selain memiliki udara yang sejuk dan pemandangan menyeluruh danau Maninjau yang indah, daerah tersebut juga memiliki cemilan khas, yaitunya kacang yang di masak dengan cara di sangrai (Randang).

Saat melintasi Jalan raya Bukittinggi - Lubuk Basung atau menuju objek wisata Puncak Lawang, banyak di jumpai pedagang kuliner dan cemilan salah satu poduk di suguhkan adalah Kacang Randang.

Salah seorang warga Jorong Gajah Mati, nagari Lawang, kecamatan Matur yang  yang memiliki usaha Kacang Randang, Deswarina (45) menjelaskan, kacang yang diolah menjadi cemilan merupakan hasil panen masyarakat sekitar, dan ada juga sebagian dibeli dari petani dari kecamatan Palembayan.

Tidak ada resep atau bumbu rahasia dalam pengolahannya, hanya saja di butuhkan kesabaran saat menyangrai kacang. Kacang yang sudah di bersihkan di sangrai bersama pasir didalam kuali besar dan di masak diatas tungku yang terbuat dari tanah liat menggunakan kayu bakar.

Dalam seharinya rata-rata ia bisa menyangrai 2 karung kacang mentah, itu tergantung dengan kadar air yang terkandung di dalam kacang, untuk memudahkan proses pengolahan terlebih dahulu kacang dijemur dibawah terik matahari selama 8 jam. 

"Jika kadar air dalam kacang sedikit poses penyangraian hanya membutuhkan waktu 1 jam, jika masih basah bisa 1,5 jam, dan jangan lupa terus diaduk, jika tidak, kematangan kacang tidak merata,“ ujarnya saat di konfirmasi Covesia.com, “ beberapa hari yang lalu.

Dijelaskan deswarina,  kacang yang sudah matang akan berubah warnanya menjadi Kuning ke coklatan, dan jika di cicipi sudah gurih. setelah diyakini matang, kacang akan disortir menggunakan tampi atau ayakan yang terbuat dari bambu.

"Proses pengayakan adalah untuk memisahkan kacang yang bagus bagus dan tidak, serta membuang pasir yang menempel pada saat proses penyangraian,“ lanjutnya.

Setelah disortir, kacang didinginkan di dalam karung baru dikemas kedalam kantong bermacam ukuran. Untuk harga, Desawarina membandrol 1 liter kacang randangnya Rp15 ribu. 

Untuk kacang yang kwalitas rendah atau hasil sortiran tidak dibuang begitu saja, ia menjualnya kepada para pedagang lotek, atau gado-gado yang berjualan di sekitar lokasi. 

“Untuk kacang sortiran kita jual Rp 10 ribu per liternya,“ tuturnya.

Berbeda dari pengusaha kacang rendang lainnya, yang menjual produk ke luar daerah atau ke outlet cemilan di sepanjang jalan di daerah Matur, Deswarina hanya menjual produknya kepada wisatawan yang berkunjung ke objek wisata di daerah lawang. 

“Untuk omset tergantung banyaknya pengunjung yang datang, jika hari libur atau akhir pekan penjualan akan meningkat drastis,“ tutupnya.

(han/don)

Berita Terkait

Baca Juga