Masjid Bingkudu, Wisata Religi yang Miliki Mimbar Ukiran Kerajaan Belanda

Masjid Bingkudu Wisata Religi yang Miliki Mimbar Ukiran Kerajaan Belanda Foto: M.Fadli MZ

Covesia.com - Masjid Bingkudu merupakan salah satu masjid tertua yang seluruh materialnya terbuat dari kayu serta memiliki ukiran-ukiran khas Minangkabau.

Masjid Bingkudu yang terletak di Jorong Bingkudu, Nagari Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini memiliki keunikan yang membedakan dengan masjid tua di Sumbar pada umumnya. 

Awal berdirinya, masjid ini memiliki atap bertingkat tiga yang ditutupi ijuk serta menggunakan pasak untuk mengghubungkan antar tiang.

"Beberapa tahun belakanggan ini atap ijuk sudah diganti karena sering bocor saat hujan turun," ujar Maruzi yang merupakan seseorang sesepuuh di Ponpes Miftahul Ulumi Syar'iyah (MUS) Candung kepada Covesia.com, Rabu, (6/6/2018).

Kata Buya Maruzi, Masjid Bingkudu dibangun pada tahun 1813, yang diprakarsai oleh tokoh masyarakat dari tujuh nagari, yaitu Canduang, Koto Laweh, Lasi Tuo, Lasi Mudo, Pasanehan, Bukik Batabuah. 

Pembangunan masjid yang  memiliki luas sekitar 21x21 meter dengan tinggi 37,5 meter tersebut semula bertujuan untuk tempat musyawarah dan berkumpul bagi masyarakat yang ada di  tujuh nagari tersebut.

"Awalnya dalam komplek masjid ini ada terdapat sebuah Surau Bulek (Surau Bulat) yang digunakan untuk bermusyawarah, namun saat ini lokasi surau tersebut sudah tempati asrama putri siswi Ponpes MUS," ujar Maruzi.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa masjid ini memilliki mimbar yang sudah  tua yaang menyerupaai huruf "L" dengan tangga naik dan tangga turun dibuat secara terpisah.

"Mimbar tersebut memiliki ukiran seperti mahkota kerajaan Belanda yang dibuat sejak tahun 1316 H (sekitar tahun 1906). Selain itu kita hanya mendapatkan cerita turun temurun dari orang tua dahulu karena sejarahnya belum pernah dicatat secara utuh," ujarnya.

Selain dari mimbar, masjid ini juga memiliki Lampu-lampu minyak yang yang terletak di setiap sudut yang telah berumur ratusan tahun. Dan juga memiliki tempat penyimpanan barang yang terlatak di bawah masjid.

"Umumnya rumah yang terbuat dari kayu di Minangkabau memiliki tempat penyimpanan barang yang juga berfungsi sebagai tempat kandang ayam, ada setinggi lutut orang dewasa," ujarnya 

Suatu waktu, ujarnya, masjid ini pernah disambar petir dan merusak tiang utama, namun tidak merusak atap ijuk namun malah menghanguskan sebuah pohon yang berada di sisi masjid.

"Saat ini atap ijuk sudah diganti dengan atap seng karena sering bocor, namun ornamen dalam masjid masih mempertahankan bentuk awal masjid," ujarnya.

(fdl/lif)

Berita Terkait

Baca Juga