'Niagara Mini' Kota Padang, Antara Wisata dan Bencana

Niagara Mini Kota Padang Antara Wisata dan Bencana Bendungan Koto Pulai, Koto Tangah, Padang, Sumbar. (Covesia Foto/Primadoni/17)

Covesia.com - Bendungan Koto Pulai berada di Kelurahan Koto Pulai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, sejak enam pekan terakhir menjadi terkenal di kalangan anak muda di kota itu.

Sejak diposting di instagram, bendungan yang dibangun sekira tahun 1999 itu menjadi viral. Tidak lama berselang, remaja dan muda-mudi berdatangan ke sana, untuk berenang maupun sekadar berselfie dan menyebarkan ulang ke media sosial.

Menurut pengakuan warga setempat, sejak dibangun, bendungan itu berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, sejak Maret 2016, bendungan tersebut jebol akibat banjir bandang yang berdampak hingga ke tujuh kecamatan di kota itu.

Sebagian besar struktur bendungan hancur dan menyisakan sebagian kecil saja yang masih baik. Air yang semula mengalir 'berundak undak' kini terjun dan menciptakan pemandangan yang 'sepertinya indah.' Ketinggian sisa bagian yang roboh diperkirakan sekitar lima meter.

Air 'yang terjun' dari bendungan pecah dengan ketinggian lima meter itulah yang kemudian menjadi viral dengan sebutan 'Niagara Mini' Kota Padang.

(Diduga) penuh rasa penasaran, pemuda-pemudi di Kota Padang mulai berdatangan dan bahkan berenang ke lokasi yang sejatinya bukanlah tempat yang aman untuk dikunjungi.

Bukan tanpa larangan, warga sekitar sempat memberi peringatan agar 'wisatawan' yang datang tidak turun untuk berenang ke lokasi 'air terjun' itu.

Pemerintah kota setempat juga telah memasang tanda peringatan agar warga tidak berada di bendungan tersebut.

Kekhawatiran yang mendasar adalah air besar yang seketika tidak dapat diduga menerjang jika hujan telah turun di kawasan hulu sungai. Berada di sana sama saja menempatkan diri dalam bahaya.

Namun kian hari, lokasi itu kian ramai dikunjungi. Kian hari, lokasi itu kian populer di dunia maya maupun dunia nyata.

Dan bahkan, lokasi bendungan itu seolah telah dinobatkan menjadi destinasi wisata baru di Kota Padang. Bukan pemerintah yang melegalisasi, tapi rasa penasaran anak muda yang seperti kehilangan tempat rekreasi.

@fajridha.hayati

Tidak lagi terbendung, warga terus berdatangan, menghabiskan waktu untuk liburan. 'Wisatawan' yang datang rata-rata remaja dan anak kuliahan.

Kawasan itu mulai ramai dikunjungi sejak pukul 15.00 WIB dan berakhir pada pukul 18.00 WIB. Dari belasan hingga puluhan orang setiap harinya datang silih berganti.

Tidak ada tarif masuk ke kawasan itu pastinya. Para pengunjung hanya akan membayar biaya parkir kendaraan yang dititipkan dan dijaga pemuda Koto Pulai.

Keceriaan yang muncul setelahnya tentu tidak dapat dipungkiri, mengisi cerita demi cerita para pengunjung yang kemudiannya disebar dari mulut ke mulut dan dari akun ke akun.

kidalnarsis.blogspot.co.id

Kini ceritanya sedikit berbeda, dan pastinya tidak menyenangkan bila didengar. Namun mau tak mau cerita ini pasti akan tersebar, dari mulut ke mulut dan dari akun ke akun.

Seorang pemuda, Aldo Angrawira Pratama (23) warga kelurahan Kampung Jua, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, kemarin (Senin, 2/1/2017) sekira pukul 17.30 WIb dinyatakan hilang saat berenang di kawasan 'Niagara Mini' itu.

Korban diduga tenggelam dan terseret arus sungai hingga pada akhirnya Selasa (3/1/2017) sekira pukul 12.30 ditemukan tidak bernyawa oleh seorang penambang pasir.

Jasad korban ditemukan sejarak dua kilometer dari lokasi kejadian. Selanjutnya, Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) Padang dan gabungan mengevakuasi jasad korban dan dibawa ke RS Bhayangkara Padang.

Alumni STIE-AKBP Padang yang baru diwisuda November 2016 itu bermain menghabiskan liburan tahun baru bersama tiga teman lainnya di kawasan itu.

"Setelah mereka berselfie, kemudian mandi-mandi, setelah pukul 17.30 WIB, mereka keluar dan mengetahui temannya Aldo tidak bersama rombongan lagi dan dinyatakan hilang," jelas Tanjung, warga Koto Pulai.

Teman korban, Nanda (23), mengatakan korban Aldo pandai berenang. Dia tidak mengetahui pasti apa penyebab Aldo tenggelam.

"Sebelumnya Aldo berenang sendiri, lalu naik ke tepian. Setelah itu kami turun untuk berenang dan kemudian Aldo kembali dan menyusul kami," sebut Nanda.

Dia melanjutkan, saat berenang bersama itulah Aldo tiba-tiba hilang dan diduga tenggelam, tanpa tanda-tanda ataupun teriakan minta tolong.

Sampai saat itu, kata Nanda, mereka mencoba menyelam mencari teman meraka namun tidak ditemukan.

Menurut Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Koto Pulai, Joni, kejadian meninggalnya warga di sekitar kawasan bendungan memang bukan pertama kali.

"Sejak bendungan itu berfungsi, telah tujuh orang meninggal di kawasan itu dengan kejadian berbeda-beda," kata Joni.

Namun, sejak lokasi itu dijadikan tempat 'berwisata,' tenggelamnya Aldo merupakan kasus pertama.

Tentunya semua pihak berharap kejadian tersebut menjadi yang terakhir. Kejadian itu, serta merta adalah sebuah peringatan bagi siapa saja yang ingin berkunjung ke lokasi bendungan itu.

Bukan bagaimana meninggalnya korban saja yang menjadi soal, tetapi--musibah yang seketika datang mengancam--keselamatan belasan bahkan puluhan jiwa, harus menjadi penekanan.

Doc Covesia/Primadoni

Peristiwa tersebut sudah cukup memberi peringatan keras bagi masyarakat agar tidak menjadikan lokasi berbahaya (bekas bencana) sebagai tempat wisata.

Jangan sekali-kali membuat pilihan antara ingin (dianggap) berwisata atau (justru) mengantarkan diri menjadi bagian dari bencana.

(don/dnq/rdk)

( )

Berita Terkait

Baca Juga