Langkitang 'Cucuik' Khas Pantai Padang

Langkitang Cucuik Khas Pantai Padang Sepiring gulai Langkitang yang siap dicucuik. (Foto: Utari Dwi Rahma/covesia.com)

Covesia.com - Ketika matahari turun di ufuk barat, germerlap lampu mulai menyala menerangi seluruh pelosok kota. Kota Padang, Ibu Kotanya ranah minang Sumatra Barat ini tidak hanya menyajikan keelokan disiang hari namun juga menyajikan sejuta keindahan di malam hari.

Jika berkunjung ke Padang, jangan lupa mampir di kawasan pantai Padang (taplau) ketika malam. Wisatawan akan menikmati sejuknya angin laut dimalam hari dan kerlap kerlip lampu kapal yang terlihat dari bibir pantai.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa berwisata kuliner dikawasan ini karena sangat mudah menemukan pedagang yang menjual beraneka ragam jenis makan. Mulai dari jagung bakar, pisang bakar, rujak, bakso bakar, dan masi banyak lainnya.

Namun ada satu yang akan menarik mata pengujung dikawasan Purus pantai Padang. Di sana terlihat deretan pedangan yang menjual jenis makanan yang hampir sama. Diterangi lampu seadanya beratapkan terpal, beralaskan meja segi empat diamana diatasnya berderet toples yang berisi ciput panjang dengan kuah gulai dan toples yang lain berisi kerang berkuah bening dengan daun bawang. Ya, itu lah langkitang dan pensin cemilan bergizi khas pantai padang.

Mungkin tidak banyak yang tahu dengan Langkitang. Langkitang merupakan sejenis moluska yang hidup didalam cangkang. Sebenarnya Langkitang hampir mirip dengan keong namun cangkang Langkitang sedikit lebih panjang dan ramping.

Sebagian besar masyarakat indonesia sudah tidak asing lagi dengan beraneka ragam olahan keong. Namun langkitang tampil beda dengan dimasak dengan kuah gulai.

Awalnya langkitang dicuci bersih. Kemudian setelah bersih dimasukan kedalam kuah gulai yang telah mendidih yang terdiri dari campuran santan kelapa kental,cabe, laos, kunyit, jahe, bawah merah dan bawang putih yang telah dihaluskan. Untuk mengurangi bau amis di tambahkan dengan daun jeruk nipis dan asam kandis.

"Cucuik" begitulah cara menikmati langkitang yang sering urang minang sebut. Yang dalam bahasa indonesia berarti hisap. Anda harus menghisap langkitang untuk mengeluarkan dagingnya.

"Singgah lah diak, nio apo Langkitang atau Pensi? (Mampir dulu dek, mau pesan apa, Langkitang atau Pensi?)," begitulah sapaan ramah Mar, salah seorang pedagang langkitang di pantai Padang kepada covesia.com, Jumat (5/12/2014).

Warga Champago Kota Padang ini mengaku bisa menghabiskan 10-15 liter langkitang setiap harinya. walaupun proses makannya cukup rumit tapi cemilan ini tetap jadi primadona bagi pengunjung. (utr/cal)

Berita Terkait

Baca Juga