Meski Pandemi, Objek Wisata Edukasi Sapi Perah di Agam Tetap Ramai Dikunjungi Wisatawan

Meski Pandemi Objek Wisata Edukasi Sapi Perah di Agam Tetap Ramai Dikunjungi Wisatawan Objek Wisata Edukasi Sapi Perah di Agam

Covesia.com - Objek Wisata di Kabupaten Agam terus menggeliat. Meski di tengah pandemi, beberapa tempat wisata ramai dikunjungi, salah satunya Objek Wisata Edukasi Sapi perah di Lasi Tuo, Kecamatan Candung Kabupaten Agam. 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk akhirnya memilih berwisata. Pertama, ada kejenuhan di masyarakat semenjak pandemi mereka lebih banyak di rumah. 

"Keberadaan wisata sapi perah dan edukasi sapi perah belum pernah ada di Agam atau Sumbar. Juga belum ada yang bisa mengintegrasikan peternakan sapi perah ke wisata edukasi, mungkin ini juga penyebab Keju Lasi ramai dikunjungi," ungkap Suhatril pemilik peternakan sapi perah sekaligus pendiri wisata edukasi Keju Lasi kepada Covesia.com Selasa (10/11/2020).

Dikatakan Suhatril target wisata edukasi ini adalah keluarga, jadi belum ada peternakan sapi di Sumbar yang belum mengakomodir itu. Kemudian, belum ada juga peternak yang membuka diri untuk orang umum boleh ke kandang itu dari aspek peternakannya. 

"Sedangkan dari aspek yang lain kita tidak membebankan biaya masuk atau tiket, bahkan parkirpun tidak bayar sedangkan objek wisata pada umumnya harus beli tiket jika masuk," jelasnya. 

Wisata edukasi ini dibuka baru satu bulan, namun persiapannya sudah dua bulan lebih kata Suhatril. "Di sini tersedia fasilitas tempat duduk, menu minuman dari susu sapi, stik keju, yogurt, pop mie keju. Yang paling identik itu keju lokal, yang tidak ada di tempat lain. Lalu tempat bermain anak-anak, udara pegunungan juga," ujarnya. 

Ke depan Keju Lasi akan menambah wahana bermain untuk anak-anak, tempat duduk juga parkiran kita perbaiki, tanam-tanaman menu makanan. 

Suhatril mengatakan saat ini belum ada pemandu wisata karena masih dalam proses penyempurnaan. Nantinya jika sudah fiks akan kita sediakan pemandu wisata edukasi ini. Tentang budidaya sapi perah produksinya, pakannya, pengolahan susunya. 

Tak hanya itu, pendiri usaha keju lasi ini berencana akan mengadakan pelatihan untuk masyarakat. Jika ada yang berminat kita akan latih bagaimana cara membuat keju, jadi mereka membeli susu ke sini dan mengolah keju sendiri kalau sudah ada kemampuan itu. 

Ia memiliki keinginan untuk keju lasi bisa berkembang ke luar daerah. "Saat ini kita sudah bentuk kelompok, nanti kita jadikan ini intinya dan banyak plasmanya di luar. Jadi kita ingin punya mitra, secara finansial kita tak berhubungan namun sesama sapi perah jadi kita yang bantu,"sebutnya.

Seajuh ini kata Suhatril pengunjung atau wisatawan berasal dari Sumbar dan Riau. Paling banyak dari Padang dan Pekanbaru. 

Bagaimana usaha ini bisa mempengaruhi kawasan ini, jika tenaga kerja kita hanya sanggup 10- 15 orang. Karena kita tidak memperkembangkan ini tapi lebih ke masyarakat punya sapi sendiri dan memerah sendiri, jadi mempengaruhi kawasan, masyarakat Lasi bisa jadi peternak semuanya. 

Sementara itu, salahbsatu pengunjung, Susi (35) dari simpang Bukik mengatakan dapat info tentang Keju Lasi dari FB. Bersama  keluarga ia datang langsung menyaksikan sapi perah sedang dibersihkan dan diberi rumput. 

"Bersih sapinya, kalau pemandangan bagus, namun masih banyak yang harus diperbaiki dan ditambah seperti permainan anak-anak, tempat duduk, juga menu makanan," ujarnya. 

Sofyan (51) salah satu pekerja yang merupakan warga Lasi Tuo sudah semenjak 2016 bekerja di Keju lasi. Namun dirinya lebih fokus untuk mencari pakan sapi yang berupa rumput. Sofyan juga mengatakan sapi dibersihkan 2 kali sehari jam 5 subuh dan jam 4 sore. 

Jika ingin berkunjung ke wisata edukasi sapi perah ini pengunjung bisa menggunakan mobil ataupun motor. Yang paling mudah ikuti saja google maps dengan mengetikkan kata kunci Keju Lasi. 

(lia)

Berita Terkait

Baca Juga