Kenaikan Harga Emas Picu Inflasi di Sumbar

Kenaikan Harga Emas Picu Inflasi di Sumbar Ilustrasi

Covesia.com - Kenaikan harga emas pada Agustus 2020 mendorong terjadinya inflasi di Sumatera Barat (Sumbar) pada bulau tersebut dengan angka 0,06 persen berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar.

"Jika pada Juli 2020 indeks harga konsumen di Sumbar mengalami deflasi 0,14 persen, Agustus 2020 terjadi inflasi 0,06 persen dipicu kenaikan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya diantaranya harga emas," jelas Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumbar, Wahyu Purnama di Padang, Rabu (2/9/2020).

Menurut dia inflasi kenaikan harga emas terjadi seiring dengan fluktuasi harga di tengah ketidakpastian global dan pandemi COVID-19, sehingga masih mendorong masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen yang lebih aman.

"Secara tahunan pergerakan harga pada Agustus 2020 di Sumbar masih menunjukkan tren deflasi sebesar 0,28 persen atau meningkat dibandingkan bulan Juli 2020 yang mengalami deflasi sebesar 0,46 persen," terang dia.

Secara tahun berjalan hingga Agustus 2020 Sumatera Barat tercatat mengalami inflasi sebesar 0,36 persen atau meningkat dibandingkan Juli 2020 yang mengalami inflasi sebesar 0,30 persen.

Di sisi lain, tekanan inflasi pada Agustus 2020 tertahan oleh deflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang menyumbang deflasi sebesar 0,07 persen.

Deflasi pada kelompok ini didorong oleh penurunan harga daging ayam ras dan bawang merah dengan andil deflasi sebesar 0,07 persen serta komoditas ikan tongkol/ikan ambu-ambu, ayam hidup dan tomat dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,02 persen.

"Penurunan harga komoditas pangan disebabkan oleh stabilnya permintaan dan tercukupinya pasokan," ujarnya.

Sementara itu beberapa komoditas pangan mengalami inflasi yaitu udang basah, telur ayam ras, petai dan minyak goreng dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,04 persen, 0,03 persen, 0,02 persen dan 0,02 persen.

Harga telur ayam ras meningkat disebabkan oleh keterbatasan pasokan serta terjadinya peningkatan permintaan yang salah satunya didorong oleh penyaluran bantuan sosial COVID-19 oleh pihak swasta maupun pemerintah.

Sedangkan kenaikan harga komoditas udang basah dan petai didorong oleh peningkatan permintaan dan terbatasnya pasokan.

Sementara itu kenaikan harga minyak goreng terutama disebabkan oleh keterbatasan pasokan akibat adanya peremajaan pada beberapa perkebunan sawit di wilayah Sumatera Barat.

Dalam rangka pengendalian inflasi di daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Barat telah melaksanakan berbagai upaya pengendalian inflasi diantaranya mendorong optimalisasi penggunaan kotak pendingin di Toko Tani Indonesia Center (TTIC) untuk menampung hasil panen petani yang belum terserap secara maksimal di tengah penurunan permintaan masyarakat secara umum.

Kemudian menjaga stabilitas harga bahan pangan melalui pengawasan tingkat kewajaran harga di tingkat petani serta mendorong petani untuk tidak berhenti berproduksi ketika harga komoditas pertanian turun.

Selanjutnya meningkatkan koordinasi dengan TPID kota/kabupaten di wilayah Sumatera Barat terutama dalam rangka menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga di wilayah Sumatera Barat.

(ant/lif)


Berita Terkait

Baca Juga