MUI Sumbar Sebut Sebagian Pengikut ''Agama Muslim'' Sudah Kembali Bersyahadat

MUI Sumbar Sebut Sebagian Pengikut Agama Muslim Sudah Kembali Bersyahadat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar), Buya Gusrizal Gazahar. Foto :Doc. Pribadi

Covesia.com - Majelis Ulama Indonesia ( MUI) Sumatera Barat memastikan persoalan "agama baru" di Kabupaten Solok sudah selesai. Menurut MUI Sumbar, sebagian dari pengikutnya telah kembali bersyahadat.

Baca: Di Solok Muncul ''Agama Baru,'' Tak Percaya Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW

"Itu persoalan lama. Sudah berbulan-bulan yang lalu. Sebagian pengikutnya juga sudah kembali ke jalan yang benar dan bersyahadat," sebut Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar kepada Covesia.com, Jumat (24/7/2020) melalui seluler. 

Disebutkannya, persoalan ini sudah ditangani oleh MUI Kabupaten Solok. Seluruh aktivitas pengikut "Agama Muslim" ini juga sudah tidak lagi ada di Kabupaten Solok.

"Soal Agama Muslim ini, sudah selesai. Tidak ada lagi aktivitas mereka di Kabupaten Solok. MUI setempat sudah melakukan pertemuan dengan sebagian pengikut mereka dan bersedia kembali ke ajaran Islam," kata Gusrizal.

Baca juga: Heboh Soal ''Agama Muslim'' di Solok, Disebut Sudah Vakum Sejak April 2020

Dari puluhan pengikut Agama Muslim ini, mayoritas pengikutnya belum memahami ajaran dan landasan dasar ajaran tersebut. Mereka hanya ikut-ikutan dan baru mencoba untuk mempelajarinya.

"Kebanyakan, mereka baru mendengar dan ingin tahu apa itu Agama Muslim. Bukan berarti menjadi pengikut atau bagian dari Agama Muslim. Rata-rata pengikutnya pun belum paham betul dengan ajaran Agama Muslim dan akhirnya mereka kembali lagi ke ajaran Islam," kata Gusrizal.

Sebelumnya, masyarakat Kabupaten Solok, Sumatera Barat dihebohkan dengan muncul aliran kepercayaan Agama Muslim di Kenagarian Sumani. Agama Muslim ini tidak mempercayai Allah SWT sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul. 

Tetapi Agama Muslim mempercayai Rabbi sebagai tuhan mereka dan Ibrahim AS sebagai Nabi. Seluruh ajaran Nabi Muhammad tidak diakui. Seperti kewajiban salat, puasa dan haji.

Mereka tak ada kewajiban untuk salat, tetapi wajib mengingat Rabbi. Tidak ada puasa, tetapi menahan hawa nafsu. Sedangkan berhaji diwakilkan kepada guru. 

(agg/rdk) 

Berita Terkait

Baca Juga