RUU PKS Ditarik dari Prolegnas Prioritas, Nurani Perempuan: Mimpi yang Dicita-citakan Sirna

RUU PKS Ditarik dari Prolegnas Prioritas Nurani Perempuan Mimpi yang Dicitacitakan Sirna Ilustrasi - Dok Covesia

Covesia.com - Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dari daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2020 ditarik di pertengahan tahun ini. Artinya tidak ada pembahasan tentang RUU tersebut, apalagi disahkan. Nurani Perempuan mengaku kecewa. 

"RUUPKS  ini adalah mimpi yang dicitakan. Bahwa korban kekerasan harus dapat perlindungan, pemulihan dan tidak perulangan kekerasan, namun itu semua kandas karena ditariknya RUU tersebut," ungkap PLT Direktur Nurani Perempuan, Rahmi Meri Yenti saat diskusi via zoom dengan jaringan masyarakat sipil yang fokus dengan permasalahan perempuan dan anak, Kamis (23/7/2020).

Rahmi mengatakan, semua pihak perlu punya pemahaman yang sama dengan kekerasan seksual, eksploitasi seksual serta permasalahan perempuan. Sebab, menurutnya persoalan perempuan adalah persoalan yang luas.

"Kita perlu kebijakan hingga tidak ada lagi perempuan yang bunuh diri, atau mati memperjuangkan hak mereka, serta anak tidak rentan lagi terhadap kekerasan," ungkapnya. 

Rahmi menyebutkan alasan RUU PKS menjadi penting. 

"Sebab, kita bisa lihat hal yang baru dari perlindungan anak, tidak hanya penjara tapi rehabilitasi sosial," ungkapnya. 

Ia menyayangkan pemerintah yang telah bangga dengan menerima penghargaan terhadap daerah yang ramah terhadap perempuan dan anak, namun masih banyak kasus yang masih tersembunyi dari publik.

Data Nurani Perempuan mencatat, kekerasan seksual terhadap anak yang dilaporkan ke pihaknya pada 2018 mencapai 32 kasus. 

Angka tersebut naik di tahun 2019 menjadi 33 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan pada 2020 rentang Januari hingga Mei ada 11 kasus. 

"Bahkan ada anak usia 4 tahun yang jadi korban," imbuhnya. 

Rahmi mengatakan, dampak kekerasan seksual terhadap anak sangat berbahaya, apalagi tidak ada pemulihan.

Selain itu kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterima Nurani Perempuan berbentuk lain, yakninya ekploitasi seksual melalui ancaman siber. 

"Cukup berat dampaknya, tantangan bagi si korban jika melaporkan korban tidak mendapat keberpihakan namun disalahkan," jelasnya. 

Akibat itu semua, katanya, korban yang dilabeli dan disalahkan, memilih bunuh diri atau menanggung sendiri.

(ila/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga