Uji Coba Antibodi Covid-19 Dinyatakan 98,6% Akurat, Jutaan Tes akan Dibagikan Gratis

Uji Coba Antibodi Covid19 Dinyatakan 986 Akurat Jutaan Tes akan Dibagikan Gratis Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Sebuah versi dukungan pemerintah Inggris berhasil melewati uji coba besar pertama mereka. Hal ini mendorong para menteri di Inggris berencana mendistribusikan jutaan tes antibodi virus corona secara gratis.

Dilansir Daily Telegraph pada Jumat (17/7/2020), tes sidik jari yang dapat memberi tahu dalam 20 menit jika seseorang pernah terpapar virus corona, dinyatakan 98,6 persen akurat dalam uji coba pada manusia yang digelar pada Juni, menurut laporan harian tersebut.

Surat kabar tersebut menambahkan bahwa tes itu dikembangkan oleh UK Rapid Test Consortium (UK-RTC), yang merupakan kerja sama antara Universitas Oxford dan perusahaan diagnosis terkemuka Inggris.

Satu-satunya tes antibodi Inggris yang disetujui sampai saat ini mencakup sampel darah yang dibawa ke laboratorium untuk dianalisis, yang dapat berlangsung selama beberapa hari, menurut Telegraph.

Untuk mengantisipasi restu regulator dalam beberapa pekan mendatang, puluhan ribu prototipe telah diproduksi di pabrik-pabrik di seluruh Inggris, lapor harian itu.

Para menteri berharap agar tes aliran lateral AbC-19 tersedia untuk digunakan dalam program pemindaian massal sebelum akhir tahun ini, kata Telegraph.

"(Tes) itu dinyatakan 98,6 persen akurat dan itu kabar yang sangat baik," kata Chris Hand, pimpinan UK-RTC, seperti dikutip Telegraph.

"Kami beserta mitra kami menggenjot produksi ratusan ribu dosis setiap bulannya," kata Hand. Ia menambahkan bahwa departemen kesehatan pemerintah sedang membahas pembelian jutaan tes dengan UK-RTC sebelum akhir tahun.

Tes tersebut sepertinya akan diberikan secara gratis dan akan dipesan melalui daring alih-alih dijual di supermarket, menurut rencana yang dikutip surat kabar itu.

"Sementara tes ini membantu kami lebih memahami bagaimana virus corona menyebar di seluruh negeri, kami belum mengetahui apakah antibodi mengindikasikan kekebalan dari infeksi ulang atau penularan," kata juru bicara departemen kesehatan dan sosial, seperti dikutip Telegraph.

Sumber: Antara/Reuters

Berita Terkait

Baca Juga