Keluarga Mendiang Lehar Resmi Laporkan Polda Sumbar ke Mabes Polri

Keluarga Mendiang Lehar Resmi Laporkan Polda Sumbar ke Mabes Polri Gedung Kepolisian Daerah Polda Sumbar (Foto: dok.covesia)

Covesia.com - Rencana pihak keluarga almarhum Lehar untuk melaporkan Polda Sumbar ke Mabes Polri langsung ditanggapi oleh penasehat hukum Lehar. Pelaporan ini ditujukan kepada dua anggota Polda Sumbar yakni AKBP Dr. (cd) Fahmi Reza SIK. MH selaku Kasubdit II dan Aiptu Mardi Wahid selaku Penyidik unit III Subdit Ditreskrimum Polda Sumbar. 

Laporan yang dilayangkan atas nama penasehat hukum Lehar, Tofik Y Chandra SH & Associates ini bernomor 003/TYC-LO/SP/LHR/VII/2020 tertanggal 3 Juli 2020. 

Dalam surat laporan tersebut, AKBP Fahmi Reza dan Aiptu Mardi Wahid tidak menggubris penangguhan penahanan Lehar yang diajukan sejak tanggal 20 Mei 2020 silam. Ditambah lagi, kedua anggota Polda Sumbar ini terkesan mempersulit tim penasehat hukum untuk bertemu Lehar. Ditambah lagi saat pemindahan sel tahanan dari Mapolda Sumbar ke Polsek Padang Barat tidak ada pemberitahuan.

"Itu tiga alasan kami selaku penasehat hukum Lehar melapokan dua anggota Polda Sumbar ke Mabes Polri," sebut Tofik kepada Covesia.com melalui seluler, Jumat (3/7/2020) malam. 

Dimata Tofik, penangguhan penahanan kepada Lehar sangat diperlukan. Mengingat kondisi kesehatan Lehar selama di dalam sel tahanan semakin lama semakin menurun. Apalagi, Lehar sejak tahun 2013 sudah mengalami stroke.

"Dia itu sudah sepuh (tua-red) dan sakit-sakitan, makanya kami mengajukan penangguhan penahanan, namun tak kunjung diindahkan," kata Tofik.

Disaat ada pemindahan sel tahanan Lehar dari Mapolda Sumbar ke Polsek Padang Barat, Tofik juga menyayangkan ada alasan jam besuk. Kemudian saat Penasehat Hukum melakukan menjenguk atau melakukan pendampingan, dua anggota Polda ini tetap menempel didekat penasehat hukum. Hal ini membuat tidak ada keleluasaan bagi penasehat hukum untuk berinteraksi dengan Lehar.

"Jam besuk di Polsek Padang Barat ini juga menjadi keganjilan bagi kami. Dalam KUHAP, kuasa hukum bisa bertemu dan berbicara 24 jam. Kapanpun dan itu di atur oleh Undang-undang. Kemudian jika ada kesempatan bertemu penyidiknya tidak mau beranjak dari perbincangan kami, itu tidak baik rasanya itu," katanya.

Laporan penasehat hukum Lehar ini langsung ditujukan ke Itwasum dan Divisi Propam Mabes Polri. 

"Tadi sore kami ke mabes polri dan sudah melaporkan dua orang anggota Polda Sumbar ini ke Mabes Polri," sebut Tofik. 

Sebelumnya, Lehar (84) yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sumbar karena terlibat dalam dugaan pemalsuan dokumen dan pencucian uang meninggal dunia pada Kamis (3/7/2020) malam di RSUP Dr. M. Djamil.

Status tersangka Lehar ini ditetapkan oleh Polda Sumbar setelah dilakukan pemeriksaan terhadap beliau tanggal 15 Mei 2020. Kemudian tanggal 16 Mei 2020 Lehar ditangkap dan sejak itu resmi menjadi tahanan Polda Sumbar sampai beliau meninggal dunia.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Satake Bayu Setianto menyebutkan, silahkan saja kalau pihak keluarga ingin melapor, karena itu hak mereka sebagai warga negara Indonesia. 

Namun, yang jelas Polda Sumbar sudah berusaha sebaik mungkin menjaga kesehatan tahanannya, seperti halnya juga tahanan lain. 

"Misalkan sakit ada dokter yang akan mengecek kesehatan dan mengobati mereka," ujarnya. 

Bayu mengingatkan, sebelum melapor harus ada bukti yang kuat dulu. Tapi yang jelas melapor itu hak masyarakat. 

Kemudian Bayu juga menyebutkan terkait kelanjutan kasus Lehar tersebut. Untuk perorangan, penyidikan atas Lehar sendiri dihentikan karena sudah meninggal dunia, tapi untuk yang tiga orang lagi tetap lanjut.

(Agg)

Berita Terkait

Baca Juga