LIPI: Uji PCR Idealnya 1% dari Populasi

LIPI Uji PCR Idealnya 1 dari Populasi Ilustrasi - Tes swab massal di Kabupaten Dharmasraya, Sumbar. Sumber: Humas Pemkab Dharmasraya

Covesia.com - Pemeriksaan spesimen untuk mendeteksi COVID-19 menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) idealnya satu persen dari jumlah penduduk.

"Pemeriksaan COVID-19 idealnya satu persen dari populasi," kata Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko dalam pertemuan dengan media secara virtual, Jumat (26/5/2020).

Jika DKI Jakarta dengan populasi 10 juta penduduk, maka pemeriksaan COVID-19 idealnya dilakukan pada 100 ribu orang atau satu persen dari jumlah penduduk, sebutnya.

Saat ini, Pemerintah menargetkan setiap hari ada 20.000 pemeriksaan spesimen terduga COVID-19 dengan metode PCR.

Jumlah itu meningkat dari target sebelumnya yang telah tercapai yakni 10.000 pemeriksaan spesimen dengan metode PCR.

Target 20.000 uji spesimen per hari masih tergolong jauh dari ideal satu persen dari jumlah populasi penduduk untuk pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan menggunakan metode PCR meskipun bertambah secara bertahap tapi masih perlu waktu cukup lama untuk mendapatkan hasilnya.

Umumnya jika uji usap dan pemeriksaan laboratorium di swasta, butuh tiga sampai empat hari untuk mendapat hasil pemeriksaan entah positif atau negatif COVID-19. Menurut Handoko, jangka waktu lama hasil pemeriksaan diperoleh itu tidak ideal.

Handoko mengatakan jika bisa uji usap dan pemeriksaan laboratorium dilakukan pada hari yang sama, dan hasilnya seharusnya keluar pada hari itu juga.

Handoko menuturkan di masa normal baru, kebutuhan untuk deteksi cepat dan diagnosa COVID-19 semakin tinggi.

Oleh karena itu, diperlukan penguatan dari sisi kapasitas dan kemampuan melakukan pemeriksaan dan diagnosa untuk mendukung percepatan deteksi COVID-19 di masyarakat dan kegiatan ekonomi bisa berjalan produktif dengan memastikan kondisi sehat.

Pemeriksaan dan diagnosa itu dilakukan dengan tes cepat COVID-19 dan uji usap dengan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode PCR.

"Teknologi alternatif berbasis virusnya sendiri bukan antibodi menjadi mutlak," tutur Handoko.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga