Catat Rekor Lagi, 42.725 Kasus Baru Covid-19 dan 1.185 Kematian dalam Sehari di Brazil

Catat Rekor Lagi 42725 Kasus Baru Covid19 dan 1185 Kematian dalam Sehari di Brazil Ilustrasi - Sumber: istimewa

Covesia.com - Kementerian Kesehatan Brazil mencatat terjadi lonjakan kasus baru Covid-19 di negara itu dengan 42.725 kasus tambahan dalam 24 jam terakhir. Selain itu, tercatat 1.185 kematian COVID-19 dalam kurun waktu yang sama, Rabu (24/6/2020).

Sejauh ini Brazil telah melaporkan hampir 1,2 juta kasus penyakit pernapasan, yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, sejak pandemi mulai melanda.

Sementara jumlah total kematian COVID-19 mencapai 53.830, menurut kementerian, seperti dilansir Antara, Kamis (25/6/2020) yang dikutip dari Reuters.

Brazil merupakan negara terparah kedua yang dilanda wabah virus corona setelah Amerika Serikat. Mirip sikap Presiden AS Donald Trump, Presiden Brazil Jair Bolsonaro cenderung meremehkan risiko COVID-19. Itu sebabnya Bolsonaro juga dijuluki "Trump Tropis".

Sejak virus corona menjangkiti negerinya, Bolsonaro berselisih paham dengan otoritas medis di Brazil. Dua menteri kesehatannya telah meninggalkannya. 

Bolsonaro berpendapat ambruknya aktivitas perekonomian yang disebabkan karantina wilayah berdampak lebih mematikan ketimbang virus corona itu sendiri.

Berkali-kali Bolsonaro tampil di muka publik tanpa mengenakan masker untuk memperlihatkan bahwa dia tak merasakan kengerian atas ancaman corona. Meskipun obat anti malaria chloroquine dan hydroxychloroquine tak terbukti manjur mengatasi corona, Bolsonaro menganjurkan warganya meminum obat itu untuk melawan corona.

Bolsonaro, dalam upaya menentang kebijakan karantina wilayah yang diterapkan para gubernur negara bagian, bergabung dengan para demonstran yang turun di jalan-jalan memprotes kebijakan isolasi wilayah.

Popularitas dan dukungan terhadap pemimpin sayap kanan Brazil itu mengalami penurunan saat jumlah kematian dan penularan corona  terus meningkat. Namun Bolsonaro berkata bahwa tentara tak akan melengserkannya dari kekuasaan untuk menjaga demokrasi.

Sumber: Antara/Reuters

Berita Terkait

Baca Juga