Afwandri Bocah Pengidap Hidrosefalus dan Gangguan Hati yang 'Terpinggirkan' di Tengah Pandemik

Afwandri Bocah Pengidap Hidrosefalus dan Gangguan Hati  yang Terpinggirkan di Tengah Pandemik Foto: Istimewa

Covesia.com - Rumah dengan bangunan tunggal berukuran lebih kurang 4x4 meter yang terletak di Kampung Kandang, Nagari Pauh Kambar, Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman ini menyimpan cerita duka bagi satu keluarga yang harus berjuang dengan segala keterbatasan.

Dihuni lima jiwa, sebidang bangunan kecil yang belum permanen itu menjadi tempat ternyaman bagi satu keluarga yang memiliki ekonomi terbatas dengan derita salah satu penghuninya mengidap penyakit kronis yang nyaris tidak bisa disembuhkan.

Afwandri,  bocah usia 12 tahun yang lahir dari pasangan Rini (36) dan Syafrizal (46) (Ayah pemberi Nafkah saat ini) harus merasakan betapa deritanya kehidupan ini, sejak lahir hingga usianya yang saat ini telah menginjak belasan tahun, Afwandri hanya bisa pasrah dengan penyakit Hidrosefalus yang dideritanya sejak lahir. Mirisnya penyakit langka yang ia derita tersebut saat ini berkomplikasi dengan gangguan hati.

"Hidrosefalus yang dideritanya terjadi sejak lahir. Kata dokter mustahil untuk disembuhkan, dan sekarang suka kejang-kejang," tutur ibunda Afwandri, Rini kepada Covesia.com, Sabtu (23/5/2020).

Dikatakan Rini, untuk saat ini kontrol berobat ke Rumah Sakit terus dijalani setiap bulannya, hal tersebut dilakukan dengan harapan ada keajaiban terjadi dari ikhtiar yang telah dilakukannya selama satu setengah windu ini. 

Meski dalam hati miris setelah dokter mendiagnosis anak sulung dari tiga bersaudara itu mengalami gangguan hati serius saat ini. Namun dirinya tetap berusaha sekuat tenaga dan kemampuan untuk melakukan perawatan terbaik untuk buah hatinya tersebut.

Beban berat sangat dirasakan oleh Ibu Rumah Tangga (IRT) ini  dalam menatap hari-hari kedepan, hal tersebut disadarinya karena keterbatasan yang dimilikinya ditambah dengan tekanan dari pandemic efek yang semakin membuat perekonomian keluarga yang tergantung dari tangan buruh harian itu semakin tertekan.

"Selama ini perekonomian keluarga bergantung dari suami yang bekerja sebagai buruh harian lepas, namun kini situasi lagi sangat sulit," ujar dia menceritakan.

Rasa iba, dan terasing begitu kental dirasakan oleh Rini dan keluarga terutama di situasi sulit yang melanda hampir seantaro Indonesia saat ini. Perhatian dan kemudahan yang diharap dari pemerintah sebagai pelipur lara tidak kunjung datang. Berharap dapat kemudahan melalui BPJS dan Bantuan Langsung Tunai (BLT), namun semua itu hingga kini bagaikan hanya asa dalam mimpi.

Alih-alih mendapatkan perhatian. Rini dan keluarga malah mendapat intimidasi dan kata-kata yang kurang mengenakan dari pihak-pihak terkait di wilayah pemerintahan setempat. Diutarakannya, pihak-pihak terkait merasa keluh kesah yang ia sampaikan merusak citra dari mereka.

"Belum ada bantuan dari pemerintah selain baznaz. BLT juga tidak dapat, saat saya tanyakan ke pemerintahan nagari katanya saya tidak memenuhi kriteria. Pernah juga rumah saya didatangi oleh pihak terkait dan mengatakan agar saya tidak banyak berkeluh kesah di medsos," tuturnya heran dengan intonasi suara terbata.

Ia melanjutkan kisah, di tahun 2014 silam anaknya telah dikunjungi oleh Kadis Kesehatan Kabupaten setempat. Kala itu Kadis berjanji akan memfasilitasi BPJS Kesehatan gratis dari pemerintah dan juga fasilitas lainnya terkait pengobatan putranya secara cuma-cuma, namun hingga saat ini tidak ada solusi lebih lanjut. 

"Kami diminta ke rumah sakit M Djamil Padang namun saat saya tanyakan ambulans di puskesmas setempat ternyata harus  membayar uang minyak, karena tak sanggup saya pilih pakai kereta api," katanya.

Kehidupan mengajarkan Rini untuk terus berjuang demi mendapatkan apa yang seharusnya bisa ia raih, meski sulit dan nyaris mustahil. Namun dirinya akan terus berusaha yang terbaik agar Afwandri bisa sedikit merasakan keberuntungan dalam takdir kerasnya kehidupan yang ia alami.

Rasa takut akan tekanan dari pihak yang merasa dirugikan, iba akan kondisi anaknya yang semakin memburuk, dan merasa terasingkan oleh seleksi kehidupan karena tidak tersentuh oleh bantuan pemerintah bercampur aduk dalam dirinya beserta keluarga. Namun perasaan tidak tega terhadap anak sulungnya yang setiap waktu harus mendapatkan pertolongan medis sedikit mengkesampingkan kekhawatiran itu.

Saat ini Rini tidak banyak berharap, selain uluran tangan dan kemudahan dari pemerintah agar Afwandri yang ia yakini tidak akan bisa kembali sembuh sebagaimana anak-anak lainnya, dapat merasakan sedikit keberuntungan sampai nantinya takdirlah yang akan memutuskan dirinya akan kembali menghadap Yang Maha Kuasa.

"Saya tidak tahan melihat Afwandri kejang-kejang menahan sakit. Jadi setiap bulan saya harus bawa dia ke rumah sakit," ucapnya penuh harap.

(adi)

Berita Terkait

Baca Juga