Harga Gambir Anjlok Akibat Pandemi, Kadin: Pembeli di Negara Tujuan Tidak Ada

Harga Gambir Anjlok Akibat Pandemi Kadin Pembeli di Negara Tujuan Tidak Ada Dok. Covesia

Covesia.com - Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Sumatera Barat (Sumbar) Ramal Saleh menyebut harga gambir saat ini ikut jatuh karena terdampak pandemi COVID-19.

"Untuk diketahui bahwa 90 persen lebih tujuan ekspor gambir kita adalah India, dan negara tersebut masih lockdown sehingga berdampak pada ekspor-impor komoditas," kata Ramal Saleh yang juga Ketua Umum Asosiasi Komoditas Gambir Indonesia (AKGI), di Padang, Minggu (26/4/2020).

Ia mengatakan harga gambir saat ini berada di kisaran Rp20 ribu per kilogram, anjlok dari harga sebelum pandemi di kisaran Rp33 ribu-Rp35 ribu.

"Sekarang gudang sudah tutup, perusahaan eksportir tutup, pembeli di negara tujuan tidak ada, ini yang menyebabkan harga anjlok," katanya.

Menurutnya tak ada yang bisa dilakukan saat ini selain menunggu kondisi membaik.

Ia mengatakan kondisi yang terjadi sekarang tentu saja berdampak kepada para petani gambir, terutama Sumatera Barat (Sumbar).

Mengingat provinsi tersebut adalah salah satu daerah penghasil gambir terbanyak, hampir 80 persen ekspor gambir Indonesia berasal dari Sumbar.

Dengan rincian sekitar 70 persen dari Kabupaten Limapuluh Kota, dan 30 persen dari Kabupaten Pesisir Selatan.

Ia mengatakan dalam kondisi normal produksi gambir sekitar 1.000 ton per bulan, dan dalam 1.000 itu setidaknya ada 60.000 orang petani.

"Hal ini tentu harus menjadi perhatian dari pemerintah agar menemukan solusi terbaik," katanya.

Sementara untuk saran jangka panjang, ia menyarankan pemerintah membuat badan penyangga untuk menampung gambir dari petani.

Pada badan penyangga tersebut bisa dianalisa banyak hal, salah satunya adalah menghitung berapa biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani.

"Kalau menurut catatan saya biaya produksi petani itu mencapai Rp30.000 per kilogram, jika pemerintah mau menolong petani maka badan penyangga membeli seharga Rp35.000-Rp40.000 per kilogram, seperti itu mekanismenya," katanya.

(ant/lif)


Berita Terkait

Baca Juga