Simpang Siur Kematian Pasien yang Dimakamkan Dengan Protap Covid-19, Ini Penjelasan Pihak Keluarga

Simpang Siur Kematian Pasien yang Dimakamkan Dengan Protap Covid19 Ini Penjelasan Pihak Keluarga Proses pemakaman jenazah Pasien dalam Pengawasan asal Payakumbuh, Sabtu (4/4/2020). Foto: Istimewa

Covesia.com - Keluarga salah seorang warga asal Payakumbuh yang dimakamkan dengan protap Covid -19, Sabtu (4/4/2020) mengklarifikasi informasi yang menyebar luas di masyarakat. Mereka merasa almarhumah sudah menjadi korban hoak yang akhirnya membuat warga Payakumbuh Geger. 

Menurut B, salah seorang pihak keluarga almarhumah menyebutkan banyak masyarakat menelan bulat-bulat informasi yang belum pasti. Sampai saat ini masih saja informasi simpang siur itu beredar di masyarakat.

Melalui Pesan Whatsapp pribadi ke beberapa wartawan di Payakumbuh, Senin (6/4/2020), B menerangkan informasi sebenarnya.

Disebutkan B, almarhumah awalnya dirujuk ke RS Yarsi Ibnu Sina Payakumbuh Sabtu subuh. Saat itu almarhumah mengaku mengalami sakit kepala yang tidak bisa tertahan lagi. Saat itu, almarhumah juga diare. 

Setiba di RS Yarsi, dilakukan pemeriksaan darah dan tensi. Hasil, tensi mencapai 225. Oleh pihak RS Yarsi, mengasumsikan almarhumah mengalami gejala stroke dan bukan suspect Covid-19. Selama di RS Yarsi, tim medis menangani almarhumah juga tidak menggunakan APD. Di samping itu, suhu tubuh normal dan tidak ada gejala batuk maupun flu.

"Di Yarsi, almarhumah masih aman-aman saja. Perawat yang menangani juga tidak menggunakan APD. Setelah diperiksa, tensi almarhumah mencapai 225 dan diasumsikan stroke karena pembuluh darah almarhumah sudah pecah. Makanya dirujuk ke RSAM," sebut B.

Sekira pukul 08.00 WIB, Sabtu (4/4) pagi, Almarhumah dilarikan ke Ahmad Muchtar dan langsung masuk ke dalam ruangan IGD untuk melakukan cek darah dan rongent paru paru. Saat itu menurut keterangan pihak dokter dari hasil pemeriksaan, paru paru Almarhumah bersih dan tidak ada cairan seperti pemberitaan.

"Selama di RSAM,  para medis juga tidak memakai APD dan yang bersangkutan tidak ditempatkan di dalam ruangan isolasi," tutur B lagi.

Sekira pukul 11.00 WIB pihak keluarga mendapat kabar jika orang tua mereka meninggal dunia di RSAM. Selanjutnya pihak keluarga bersiap-siap untuk menuju ke pemakaman di Kawasan Nan Kodok, Payakumbuh Utara.

Namun saat meminta izin kepada RT setempat tutur B, dirinya sempat berdebat dengan pengurus. Menurutnya saat itu pihak RT mengatakan jika orang tua mereka meninggal diduga terpapar Corona.

“Dari sini saya mulai sadar ada yang tidak beres. Saat meminta izin ke pengurus RT, mereka menyebutkan almarhumah meninggal karena terpapar Corona. Saya menyanggah dan sampai berdebat untuk meyakinkan bahwa almarhumah meninggal karena stroke, bukan karena Corona," katanya. 

Selanjutnya, saat pihak keluarga yang sedang berada di Payakumbuh melakukan penggalian kuburan, masuk telepon dari pihak kepolisian. Mereka menanyakan apakah pihak keluarga merasa keberatan jika almarhumah dimakamkan sesuai protap Covid-19. Pasalnya, pasien dicurigai meninggal karena suspect Covid-19.

"Keluarga tidak keberatan dimakamkan dengan protap Covid-19. Hanya saja keluarga sempat protes tidak diizinkan untuk ikut menggali kuburan," kata B.

Protes ini sempat membuat perdebatan antara pihak keluarga dengan petugas. Namun, ditengahi oleh Pemko Payakumbuh sampai proses pemakaman selesai dilaksanakan.

Selesai pemakaman, ternyata prosesi dan informasi tentang almarhumah menjadi viral di media sosial. Banyak pesan berantai yang tidak valid menyebar. Termasuk foto maupun video pemakaman 

"Di media sosial ini, almarhumah disebut masuk dalam kategori PDP sampai positif Corona. Padahal hasil Swab pemeriksaan almarhumah belum keluar," katanya

B juga mengungkapkan, bahwa tentang informasi soal almarhumah yang pernah kontak dengan tamu yang baru datang dari Jakarta, menurutnya tamu tersebut adalah keponakannya dari almarhumah sendiri.

Keponakannya tersebut datang dari Jakarta bukanlah pada 23 Maret 2020 seperti informasi yang beredar. Namun pada 20 Februari 2020 dari Jakarta. Sebelum datang ke Payakumbuh, keponakannya sempat berada di Bukittinggi lebih kurang 1 bulan.

Saat sampai ke Payakumbuh, yang bersangkutan langsung memeriksakan diri ke posko corona yang berada di depan Bank BRI, dan hasil pemeriksaan oleh petugas tidak ada tanda-tanda terjangkit corona. 

Dilanjutkan B lagi, keponakan serta keluarga mereka yang lain selalu bersama almarhumah sampai saat ini sehat dan baik baik saja.

"Namun walaupun demikian, keluarga almarhumah patuh atas imbauan pemerintah untuk melakukan isolasi diri secara mandiri di dalam rumah dan tidak melakukan kontak dengan warga sekitar. Namun kami meminta kepada masyarakat agar jangan menganggap kami seperti monster yang menakutkan," pintanya.

Dirinya sebagai keluarga almarhumah juga berharap agar warga masyarakat jangan memvonis mereka sebagai biang pembawa virus yang harus dikucilkan dan dirundung. 

"Sebab bagaimanapun juga saat ini pihaknya masih menunggu hasil labor keluar tentang penyakit yang dialami oleh almarhumah," tutup B. 

(agg/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga