Dampak Covid-19, Perekonomian Warga di Pessel Merosot

Dampak Covid19 Perekonomian Warga di Pessel Merosot Pasar Tradisional Minggu Surantih. Sumber: istimewa

Covesia.com - Dampak penyebaran virus corona (Covid-19) membuat pertumbuhan ekonomi masyarakat di Kabupaten Pesisir Selatan, semakin parah dan merosot. Rata-rata hal tersebut, mulai dirasakan oleh petani gambir dan para nelayan serta pedagang pasar tradisional. 

Informasi yang dihimpun Covesia.com, di Kecamatan Sutera, sebagai Kecamatan penghasil getah gambir terbesar di Pessel, dan juga sebagai Kecamatan hasil tangkap ikan terbesar setiap tahunnya, mengalami penurunan harga.

Hasil pertani warga di Kecamatan Sutera, seperti harga gambir mulai anjlok mencapai Rp10 ribu per kilogram dan harga ikan hasil tangkapan nelayan turun dari harga sebelumnya.

Petani gambir di Taratak, Idos (30), mengatakan sejak satu minggu ini harga hasil tani getah gambir mulai anjlok, dengan harga jauh lebih murah dari sebelumnya. 

"Sejak menyebarnya virus corona, harga getah gambir yang menjadi sumber penghasilan kami, anjlok dari harga Rp14 ribu per kilogam menjadi Rp10 ribu per kilogram," sebutnya, Senin (23/3/2020).

Kondisi itu menututnya, menyulitkan perekonomian warga setempat yang bergantung dari hasil pertanian getah gambir.

"Sebagian kami menggantungkan hidup dari hasil getah gambir. Tapi, harganya kembali merosot cukup parah, sedangkan biaya kebutuhan hidup mulai melambung," ucapnya

Begitu pun dengan nelayan di Kecamatan Sutera, Irwan (28) mengatakan, ikan hasil tangkap nelayan mengalami penurunan harga.

Sebab, kata pengusaha Ikan di daerahnya itu, ikan hasil tangkap nelayan yang dibeli olehnya, sulit dijual ke pasar provinsi lain. 

"Ikan kita yang biasa diekspor keluar tidak bisa dikirim. Karena, pelabuhan penyeberangan banyak yang tutup. Untuk kebutuhan, hanya bisa dikirim ke Pakanbaru, Riau saja. Kalau seberang pulang tidak bisa," ungkapnya.

Sementara pengumpul gambir setempat, Hengki (32) mengatakan, anjloknya harga gambir disebabkan tutupnya sejumlah gudang di India akibat Covid-19.

"Orang gudang tutup dan tidak membeli getah gambir. Itu kata orang gudang, disebabkan Covid-19, karena semua pelabuhan tutup dan untuk mengekspor barang keluar tidak bisa," katanya.

Midra, 32 tahun, salah seorang pedagang di Pasar Inpres Painan mengungkapkan, pasar tradisional mulai sepi pembeli sejak menyebarnya virus corona. Omzet pedagang menurun drastis dari hari sebelumnya.

"Orang pada takut ke luar rumah, sehingga pasar menjadi sepi. Apalagi selama ini daya beli juga turun," ungkap dia

Menurutnya, penurunan omset penjualan mencapai 50 persen. Jika sebelumnya, jual beli per hari bisa mencapai Rp800 ribu, namun saat ini hanya berkisar dari Rp400 ribu sampai Rp300 ribu saja.

Bahkan, beberapa harga bahan pokok mulai beranjak naik. Seperti gula, misalnya. Jika sebelumnya hanya Rp15 ribu per kg, kini mencapai Rp18 ribu per kg. Kenaikan akibat pasokan yang minim. 

Pantauan Covesia.com di Pasar Tradisional Surantih, Kecamatan Sutera, beberapa pedagang mengeluh dengan sepinya para pembeli. 

Salah satu pedagang Nopi (37) menagatakan, sejak satu minggu ini Pasar Surantih, sangat sepi karena adanya penyebaran virus corona. 

"Ekonomi masyarakat banyak yang macet karena virus corona. Jadi, pasar-pasar sepi dan pembeli hanya belanja kebutuhan seadanya saja," singkatnya

(idy/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga